Senin, 13 Oktober 2008

Melihat Keluarga Tubagus Chasan Sochib

Ini adalah sebuah kisah tentang seseorang yang begitu terkenal di Banten, namanya Tubagus Chasan Sochib. Orang-orang di luar Banten pun banyak mengenal pengusaha yang juga jawara itu, atau setidaknya pernah mendengar namanya. Bisa jadi orang lebih mengenal Chasan Sochib yang tidak punya kekuasaan formal, dibanding Wakil Gubernur Banten H.M Masduki, atau Sekretaris Daerah Banten.

Laki-laki yang biasa dipanggil Abah itu, memang kondisinya sekarang sudah tua, berkali-kali dikabarkan laki-laki yang juga tokoh salah satu partai besar di Banten itu pun terkapar diserang penyakit, dibalik sikap kontroversialnya, pemilik perusahaan dengan nama Sinar Ciomas itu adalah sosok yang melegenda di Banten, setidaknya untuk beberapa tahun, namanya akan terus dikenang, pun bila dia sudah meninggal.

Abah memang sudah tua, dan sepertinya tidak berminat untuk berkiprah maju dalam kekuasaan, namun anak, menantu, cucu, dari Chasan Sochib beberapa tahun terakhir ini, sepertinya ingin mengembangkan diri untuk duduk di tampuk kepemimpinan, baik legislatif maupun eksekutif, terlepas dari maksud dan tujuan mereka meraih jabatan, tapi setidaknya setiap mereka tampil, menyedot perhatian publik dan cukup meraih banyak suara.

Secara fenomena, keluarga Chasan Sochib mulai terjun ke gelanggang kekuasaan, ketika Rt Atut Chosiyah menjadi wakil Gubernur Banten priode 2002-2007, lalu sukses menjadi Gubernur Banten priode 2007-2012. Bisa jadi karena keberhasilannya, saudara-saudara Rt Atut berhamburan untuk maju bertarung di gelanggang kekuasaan.

Pada saat pemilihan Bupati Tangerang, menantu Hasan Sochib, yakni Airin Rachmi Diany istri Tb Chaeri Wardana, maju mencalonkan diri menjadi Wakil Bupati priode 2008-2013, berpasangan dengan Zajuli Juwaini. Menariknya, seperti pernyataan bahwa dalam politik tidak ada kawan dan musuh abadi, ‘perselisihan’ PKS dengan Rt Atut Chosiyah dalam pencalonan Gubernur Banten, sepertinya berbalik, karena pada saat pemilihan Bupati Tangerang, pasangan Zajuli-Airin diusung oleh PKS.

Pasangan Zajuli-Airin memang gagal melawan Ismet Iskandar-Rano Karno, tapi dia tidak gagal total, setidaknya nama mantan mojang Parahiyangan itu, melambung dan banyak diperbincangkan untuk ukuran Banten.

Pada pemilihan Walikota Serang, saudara Atut beda Ibu, Tb Chaerul Jaman, juga tampil menjadi calon Wakil Walikota, siapa yang menyangka, bersama dengan calon Walikota Bunyamin, mereka maju ke putaran kedua pemilihan Walikota Serang priode 2008-2013. Sebelumnya, sejumlah survei tidak menjagokan mereka.

Sementara itu untuk pemilu 2009, Rt Atut Chasanah Adik perempuan Rt Atut Chosiyah yang juga Ketua PMI Banten itu, melanggeng maju menjadi calon anggota DPRD Banten, dari dari daerah pemilihan Pandeglang.

Putra Rt Atut Chosiyah Andika Hazrumy, maju menjadi calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD), saat mendaftarkan diri ke KPU Banten (14/7/08), laki-laki yang masih berstatus mahasiswa itu ramai diantar simpatisannya, sejumlah ormas pun berbaris di belakangnya. Ketua KPU Banten Hambali, pun menyambutnya, disedikan juga waktu untuk konprensi pers.

Istri Andika, Adde Khairunnisa menantu Rt Atut Chosiyah juga mencalonkan diri menjadi calon anggota DPRD Kota Serang. Sebelumnya, mahasiswi Universitas Pelita Harapan itu, sukses menjadi Ketua Umum KONI Serang.

Lilis Karyawati juga sukses menjadi Ketua Partai Golkar Kota Serang, sementara suaminya alias menantu Chasan Sohib, Aden Abdul Khalik menjadi caleg DPRD Banten dari daerah pemilihan Kabupaten/Kota Serang.

Sementara itu, beberapa anak Chasan Sochib, juga cukup sukses terpilih menjadi ketua organisasi olahraga, ormas kepemudaan dan organisasi pengusaha, seperti yang terlihat pada TB Chaeri Wardana. Bila semua ditulis, dan diketahui penulis, bisa jadi nama-nama keluarga Chasan Sochib, masih cukup banyak.

Apa maksud dibalik ramai-ramainya keluarga Chasan Sochib bertarung di gelanggang kekuasaan, sejumlah alasan sering dikemukakan oleh mereka (maksudnya keluarga yang turun-pen), yaitu untuk membangun Banten, yang lebih sejahtera dan adil untuk semua.

Walau begitu, nada minor pun sering mampir, bahwa itu bahasa biasa meraih simpati, karena kekuasaan sangat menggoda dimanfaatkan untuk kepentingan individu atau kelompok.

Banyak juga yang berbicara, sekarang adalah pertarungan terakhir keluarga Chasan Sochib, untuk mempertahankan pengaruhnya, bila gagal mereka akan terdesak, pamor keluarga akan turun, tapi itu perlu dibuktikan lebih lanjut. Ada juga bisik-bisik diantara mereka juga terjadi persaingan.

Sementara itu, di sebagian politisi, individu atau kelompok-kelompok lain yang juga terjun ke gelanggang, sering kali merasa minder untuk bertarung melawan keluarga Chasan Sochib. Mereka kadang hanya bisa bisik-bisik di belakang, atau seringkali menyatakan benci karena terkesan keluarga Chasan Sochib sangat mendominasi, tapi ujung-ujungnya melakukan aliansi dengan keluarga Chasan Sochib.

Terlepas dari itu semua, keluarga Chasan Sochib, tetap menjadi fenomena yang menarik di Banten. Banyak orang membencinya, tapi toh pada kenyataannya, masih banyak masyarakat yang memilihnya, seperti ada benci, rindu dan sayang bercampur semuanya, mungkin itu adalah sebuah realitas, dari masyarakat Banten berdemokrasi.

4 komentar:

Muhammad mengatakan...

Saatnya Mulai dari sekarang ...
BOIKOT SEMUA TRAH CHASAN SOCHIB MELANGGENG DI KEKUASAAN...
GO TO HELL

hasan basri van houtman mengatakan...

hidup chasan sochib .
hidup ibu atut.

Maliq mengatakan...

ulasan yg sangat menarik
Tks.

Rahadiyan Eka Putera mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.