<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227</id><updated>2011-07-02T22:54:27.301-07:00</updated><title type='text'>ginanjarhambali</title><subtitle type='html'>Aku memang bukan orang yang menyenangkan, tapi kalau pun terjadi sebaliknya, mungkin anda yang harus berpikir ulang</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>40</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-5028737840717772580</id><published>2011-05-25T20:53:00.000-07:00</published><updated>2011-05-25T20:54:07.423-07:00</updated><title type='text'>Guru Menulis, Guru Berprestasi</title><content type='html'>Sampai saat ini, tulisan opini/artikel atau gagasan tentang pendidikan di media massa umum terutama media cetak, masih didominasi oleh dosen, pemerhati pendidikan, politisi, mahasiswa dan sebagainya.  Sementara dari kalangan Guru masih sangat sedikit, padahal mereka sehari-hari bergelut dengan dunia pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikitnya, guru yang menuangkan gagasannya lewat tulisan, diyakini menjadi salah satu faktor yang membuat pendapat guru nyaris tidak terdengar, apa sebenarnya pendapat dan mau guru terhadap pendidikan. Padahal, suara-suara guru itu bukan sekedar pengamatan, namun juga pengalaman. Bila guru menulis tentang persoalan pendidikan, diyakini lebih dalam setidaknya dibanding politisi, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikitnya guru yang menuangkan gagasannya lewat opini, dipengaruhi sejumlah permasalahan, diantaranya kemampuan guru dalam menulis opini masih sangat kurang. Kedua, rasa rendah diri guru ketika mau menulis, mereka berpikir bahwa pekerjaan menulis adalah pekerjaan orang-orang hebat, bergelar professor, Doktor, padahal guru sejatinya adalah orang hebat dan tidak semua profesor dan doktor bisa menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, rasa takut tema yang diangkat terlalu umum dan kampungan. Namun, mesti diingat, hal-hal yang ada di sekitar kita yang ada di kampung atau terkesan biasa bisa jadi lebih hebat, bukankah novel Laskar Pelangi berawal dari kehidupan sekolah dan berasal dari kampung? Bukankah, orang-orang yang merasakah langsung lebih mengetahui duduk persoalannya? Dibanding profesor sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, layu sebelum berkembang, sudah pernah mengirimkan tulisan namun ditolak setelah itu tidak lagi menulis. Kelima, tidak menganggap menulis opini/artikel bukan hal penting, padahal tulisan opini di media massa bisa dibaca luas, baik oleh kepala dinas, Gubernur, Bupati, serta masyarakat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis opini memang membutuhkan keterampilan dan keuletan. Keterampilan yang harus terus diasah supaya semakin hari semakin tajam. Mantra yang sangat baik untuk menulis, adalah menulis, menulis, dan menulis sekarang. Langkahnya, terus menulis, jangan hiraukan tulisan anda jelek, amburadul dan tidak nyambung. Keluarkan apa yang ada di otak, setelah itu baru dikoreksi. ”Kekuatan otak kanan, banyak dilakukan oleh para penulis, jadi teruslah menulis, jangan dulu dikoreksi,” kata Ahmad Lutfi Redaktur Opini Radar Banten, pada saat diskusi yang diselenggarakan oleh Forum Diskusi Guru Pandeglang, (08/05/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru yang menulis adalah guru yang berpretasi. Pasalnya, mengukur tugas guru tentu sangat susah. Kalau pegawai yang lain diperusahaan seperti pemasaran, bisa dinilai dengan tingkat penjualan, kalau pegawai Kecamatan bisa dinilai dengan seberapa besar warga merasa puas atas pelayanan yang diberikan oleh mereka, namun untuk guru apa ukurannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat kelulusan siswa, hadir di kelas tanpa absen, tentu saja kegiatan itu wajib dilakukan oleh guru, dan belum bisa dikatakan prestasi. Begitupula dengan mendapatkan sertifikat guru, belum bisa dijadikan ukuran karena penilaian portopolio kebanyakan hanya kumpulan sejumlah sertifikat, lebih-lebih ada wacana untuk mendapatkan sertifikasi guru harus menjalani pendidikan profesi guru. Banyak juga yang mendapatkan sertifikasi karena masa kerja yang lama dan sudah lebih dari 50 tahun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada ukuran yang spesifik memang terkait dengan pretasi guru. Namun, kita bisa mengatakan bahwa guru yang menulis adalah guru yang berpretasi, karena guru yang menulis adalah Guru yang bisa menjabarkan gagasan dan idenya, bukan hanya di dalam kelas namun juga pada masyarakat yang lebih luas. Sehingga masyarakat pun bisa tercerahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa manfaat bagi guru menulis di media massa? Sungguh sangat banyak, karena terlalu banyak disini saya hanya akan menuliskan sembilan saja. Selebihnya, terserah karena saya yakin anda bisa menambahkan lagi manfaat yang telah saya tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, manfaat menulis bagi guru untuk meningkatkan golongan atau karir. Seperti diketahui, tulisan seorang guru akan diberi poin dalam angka kredit untuk naik golongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, menulis dapat mengembangkan pemikiran kritis. Berpikir kritis adalah berpikir bagaimana mendebatkan sebuah persoalan, baik persoalan yang dilontarkan oleh dirinya sendiri maupun orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikir kritis membutuhkan kemampuan untuk mengidentifikasi prasangka, kebohongan, distrorsi, bias, dan segala praduga yang belum tentu kebenarannya. Sehingga lewat berpikir kritis lebih memahami persoalan dengan lebih tajam. Berpikir kritis ini, sangat penting dan perlu bagi guru. Bagaimana guru bisa dikatakan guru yang baik, kalau pemikirannya tidak tajam dan mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, menulis dapat menambah penggemar. Tulisan lewat media massa, bisa dibaca oleh banyak kalangan, sehingga banyak orang yang mengenal kita. Bila tulisan kita bagus dan bisa memberi manfaat pada banyak orang, tentu saja orang-orang akan semakin suka pada kita, walaupun banyak juga yang merasa tidak senang atas dimuatnya sebuah artikel. Biasanya, orang yang tidak senang itu karena kepentingannya terganggu. Misalnya, pejabat yang korup, kalau kita menulis tentang persoalan korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, menulis dapat membuat guru lebih sehat, karena dengan menulis dapat menyembuhkan sejumlah penyakit yang berkaitan dengan emosi. James W. Pennebaker salah satu pelopor studi mengenai keterkaitan antara kegiatan menulis dengan kondisi kesehatan manusia yang juga Psikolog yang mengajar di Southern Methodist University, USA, seperti ditulis oleh Andreas Harefa (Pembelajar.com) sering menganjurkan kliennya untuk menuliskan soal-soal yang bersifat pribadi. Misalnya, seputar kejadian-kejadian di masa kecil, relasi dengan orangtua, orang-orang yang pernah dicintai atau yang sekarang Anda cintai, atau karier Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian Pennebaker yang dimuat di jurnal Clinical Psychology seperti dikutif oleh Nia Hidayati (http://niahidayati.net/manfaat-menulis-untuk-kesehatan-mental.html) menunjukan bahwa orang yang mempunyai kebiasaan menulis pada umumnya mempunyai mental yang lebih sehat dibanding mereka yang tidak mempunyai kebiasan menulis. Menulis juga bisa dijadikan terapi untuk memulihkan trauma, dan menulis dijadikan media therapis oleh para psikolog dan psikiater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru, yang sehari-hari berhubungan dengan murid, dengan tingkah polahnya kalau tidak mempunyai terapi yang baik, bisa menimbulkan persoalan batin. Memikirkan anak-anak sampai dibawa ke rumah. Jangan mengamuk atau marah-marah yang kadangkala bisa diluar kontrol kita. Jadi menulislah.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, menulis untuk mengembangkan ide dan gagasan, siapa tahu dibaca oleh Kepala Dinas, Gubernur, Bupati, Mahasiswa, Rektor, bandingkan misalnya kalau ide dan gagasan kita tentang persoalan pendidikan, hanya dipendam saja dalam hati, siapa yang tahu. Jadi, lewat menulis seorang guru bisa mengembangkan gagasannya, siapa tahu dari gagasannya akan lahir sebuah kebijakan yang bagus untuk dunia pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, guru yang menulis bisa mendapatkan honor. Biasanya, media massa memberikan honor pada penulis. Tentu saja besaran honornya itu tergantung, pada kebijakan perusahaan media massa tempat memuat tulisan kita. Namun sebagai gambaran untuk media nasional sudah ada yang memberikan honor Rp 700.000, Rp 500.000, Rp 300.000, Rp 200.000 dan Rp 100.000. Kabarnya, untuk lokal di Banten rata-rata Rp 50.000-Rp 75.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya media saat ini, menjadi peluang bagi guru untuk menulis. Setelah menulis, banyak juga orang yang dipanggil untuk menjadi pembicara terkait dengan masalah yang dia tulis. Honor juga bukan hanya berbentuk uang saja, namun juga pujian dari teman atau orang yang bisa mengambil manfaat dari tulisan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, lebih mendalami berbagai persoalan. Lewat menulis seorang guru bisa lebih menggali ilmu. Ketika saya menulis mengenai Ujian Nasional, maka saya menggali kembali mengenai persoalan UN, tujuan UN, dengan menulis UN saya lebih memahami persoalan UN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan, meningkatkan kecerdasan. Pertama karena menulis dapat dijadikan alat untuk meningkatkan daya ingat, karena otak terus diasah. Tak heran ada nasehat yang bagus, ikatlah ilmu dengan menulis. Menulis juga bisa lebih mengoptimalkan otak kanan, otak kanan itu berfungsi untuk hal-hal non logika, menumbuhkan rasa empati, meningkatkan kreativitas. Selain itu, menulis juga sebagai sarana untuk berbagi ilmu. Ilmu semakin dibagi maka akan semakin bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesembilan, menulis opini/artikel bisa menjadi modal untuk mengembangkan kemampuan menulis, setelah menulis opini/artikel maka anda bisa mengembangkannya untuk menulis buku, makalah dan modul-modul untuk pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak manfaat dari menulis, sebagai guru rasa-rasanya menulis adalah sebagai kewajiban. Menulis adalah abadi, menulis adalah berbagi ilmu pengetahuan, suara-suara guru akan lebih didengar, dan pasti Tuhan akan mencatatnya sebagai amal kebaikan. Maka, tak berlebihan bila kita katakan sekali lagi, Guru yang berprestasi adalah guru yang menulis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-5028737840717772580?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/5028737840717772580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=5028737840717772580' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/5028737840717772580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/5028737840717772580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2011/05/guru-menulis-guru-berprestasi.html' title='Guru Menulis, Guru Berprestasi'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-7172795103949320711</id><published>2011-05-25T20:33:00.001-07:00</published><updated>2011-05-25T20:34:13.521-07:00</updated><title type='text'>Tidak Lulus Dunia Belum Kiamat</title><content type='html'>Kementrian Pendidikan Nasional sudah mengumumkan, sebanyak 16.098 siswa di jenjang SMA/MA/SMK tidak lulus Ujian Nasional (UN). Tidak lulus ujian nasional, kecuali yang memang sengaja tidak mengikutinya, pasti terasa menyesakan, karena tahun ini tidak ada ujian susulan. Pastinya, harus ada penanganan yang lebih baik, agar tidak membuat mereka kecewa berkepanjangan. Tugas bersama; sekolah, orangtua dan masyarakat, membangkitkan kembali anak-anak agar tidak jatuh.&lt;br /&gt;Tentu saja ketika menyadarkan orangtua dan anak yang tidak lulus ujian nasional, bukan hal mudah. Banyak orangtua dan anak yang tidak siap menghadapi kabar yang mengecewakan tersebut. Bisa jadi pihak sekolah disalahkan. Bisa jadi orangtua menyalahkan anaknya habis-habisan. Sebagai guru ini menjadi sebuah tantangan, sebab itu biasanya yang menjelaskan pada orangtua dan anak, tentang ketidaklulusan adalah guru yang mempunyai kematangan emosional yang sudah cukup. Jangan sekali-kali mengeluarkan pernyataan yang terkesan menyalahkan anak.&lt;br /&gt;Bila anak memilih untuk melanjutkan pendidikannya di sekolah kembali, terimalah dengan baik. Walau mengulang, jangan menganggap mereka orang ‘bodoh’ karena faktanya tidak semua yang tidak lulus ujian adalah murid yang kurang pintar. Saya punya pengalaman, salah seorang siswi kami yang sudah diterima lewat jalur PMDK di fakultas kedokteran di sebuah universitas yang cukup terkenal, ternyata tidak lulus ujian dan harus mengulang, ternyata tidak ada masalah, malah dia termasuk mahasiswa yang menonjol di kampusnya. Bisa jadi, anak yang tidak lulus ujian itu pintar dalam bidang olahraga dan kesenian, bukankah mereka pintar juga? &lt;br /&gt;Tugas bimbingan dan konseling memang berat, beri motivasi agar nyala semangat untuk meraih prestasi tidak padam, beri contoh orang-orang yang dianggap sukses, namun pernah mengalami kegagalan. Sebaiknya konsultasikan dengan orangtua, apakah mereka kesulitan dalam membiayai anak mereka yang tidak lulus ujian. walaupun pemerintah berjanji akan membantu biaya pendidikan mereka yang tidak lulus ujian, tentu masih banyak biaya-biaya yang harus dikeluarkan. Sekolah, jangan memperberat beban orangtua.  Semua perhatian terhadap anak yang mengulang jangan terlalu menonjol, karena nanti hanya akan menjadi bahan ‘omongan’ teman-temannya. &lt;br /&gt;Pihak sekolah jangan sekali-kali menganggap bahwa anak yang tidak lulus adalah anak yang ‘mempermalukan’ nama sekolah, sebaiknya bercermin kembali, bagaimana dengan proses pembelajaran yang selama ini dijalankan. Selain itu, ada anak yang tidak lulus sebaiknya menjadi bahan untuk sekolah, bahwa dalam proses pendidikan ada anak yang gagal dan berhasil. Bagaimana menghadapi anak yang mengalami kegagalan?&lt;br /&gt;Sementara itu, sebagai orangtua kecewa pasti. Namun jangan pernah menyalahkan 100 % pada anak. Jadikanlah, ketidaklulusan ini sebagai bahan introspeksi apa yang kurang dalam memberikan bimbingan dan arahan dalam mendidik. Berbincang-bincang dengan anak dari ‘hati ke hati’ sepertinya itu lebih berarti dari pada marah-marah dan menanganggap anak mempermalukan orangtua. Beruntung anak hanya tidak lulus UN, bagaimana dengan anak-anak yang lain?Terjerat kasus narkoba, misalnya. Anak kita hanya gagal dalam UN, dan kita patut membantunya. Ketidaklulusan walaupun pahit seharusnya bisa dianggap sebagai proses dalam menghantarkan anak menjadi orang dewasa.  &lt;br /&gt;Sebuah kesalahan, kalau anak gagal, kita malah menyalahkan mereka. Sembuhkan sayap-sayap mereka yang patah, jangan sampai mematahkan sayap-sayap yang lain. Supaya rumah bisa menjadi tempat menyembuhkan ‘luka-luka’ untuk kembali bangkit. Orangtua menjadi sosok sang pemberi motivasi, pelindung, ketika anaknya terpuruk. &lt;br /&gt;Tidak sepatutnya hanya bangga ketika anak dianggap berhasil, kalau pun ketidaklulusan itu indikasinya karena faktor anak malas belajar, pastinya tidak ada anak yang ingin gagal. Mungkin mereka kecewa terhadap kita sebagai orangtua, mungkin mereka protes, mungkin kita kurang memberi perhatian pada mereka. Mungkin mereka salah melangkah, dan kewajiban orangtua untuk mengembalikannya, ke jalur yang lebih tepat.  &lt;br /&gt;Dukungan dari masyarakat memang sangat diperlukan. Sampai saat ini memang kita terlanjur mencap, bahwa anak yang tidak lulus adalah anak yang bodoh, padahal tidak semuanya begitu, dan apa artinya pintar dan bodoh dalam proses pendidikan? Seperti dijelaskan diatas, bisa jadi anak yang pernah gagal bisa berlari lebih jauh, setelah mengambil ancang-ancang yang lebih baik, melewati teman-temannya yang strat duluan.&lt;br /&gt;Bila kita mempunyai empaty terhadap peristiswa yang menyakitkan bagi orang lain, sebaiknya masyarakat memberi motivasi pada anak yang tidak lulus ujian, jangan pernah mencibir mereka, dan menjadikan contoh seperti kata-kata; jangan main terus, nanti tidak lulus seperti anak tetangga sebelah. Kata-kata ini, hanya akan membuat anak merasa tertekan, padahal bisa jadi potensi mereka sangat banyak untuk dikembangkan. Bisa jadi mereka mempunyai potensi bermain bola yang cukup baik, gara-gara tidak lulus ujian, semangat bermain bola menjadi menyusut; tidak mau lagi pergi ke lapangan bola, karena takut dengan gunjingan masyarakat. Semoga kita semakin dewasa dalam memandang sebuah ketidaklulusan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-7172795103949320711?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/7172795103949320711/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=7172795103949320711' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/7172795103949320711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/7172795103949320711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2011/05/tidak-lulus-dunia-belum-kiamat.html' title='Tidak Lulus Dunia Belum Kiamat'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-2905508185787210013</id><published>2008-12-18T03:10:00.000-08:00</published><updated>2008-12-18T03:11:13.338-08:00</updated><title type='text'>Literary Community Urged the Banten Municipal to Build Library</title><content type='html'>Ginanjar Hambali&lt;br /&gt;Several members of literary community Serang sub district asked the municipal of Banten Province to build a permanent building for public library. The municipal only rend a house for the library for so long.&lt;br /&gt;Chairman of the Serang literary community Toto ST Radik said that the Banten municipal already has design of library building since 2006. They have also prepared 14 billion rupiah to build the library building, which is planned to be built in the Center of Banten Municipal Area. "If they build the building on several stages, it should be done now," Toto said on Monday (12/15).&lt;br /&gt;According to Toto, the Banten municipal has also to prepare books for the library collection. He asked the municipal to also prepare other supporting facilities such as internet and other library facilities. "Library is not only a stack of books."&lt;br /&gt;Raden Heri Hendrayana Harris Sumantapura, a writer who is well-known as Gola Gong said that the library has to be managed by giving optimal services. He hopes that the library will be an independent institution and will not be attached by the archive organization. "It has to be separated. Library and archive are different things."&lt;br /&gt;Members of Banten literary community agreed to keep urging the Banten municipal to build the public library immediately. "There has to be a progress to start in 2009," Heri Hendrayana said.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-2905508185787210013?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/2905508185787210013/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=2905508185787210013' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/2905508185787210013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/2905508185787210013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2008/12/literary-community-urged-banten.html' title='Literary Community Urged the Banten Municipal to Build Library'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-3359627905574095381</id><published>2008-12-18T03:07:00.000-08:00</published><updated>2008-12-18T03:08:21.182-08:00</updated><title type='text'>600 Ribu Usaha Kecil di Banten Terjerat Rentenir</title><content type='html'>Ginanjar Hambali&lt;br /&gt;VHRmedia, Serang - Sekitar 80% dari 873.000 usaha kecil dan menengah di Provinsi Banten diduga terjerat rentenir. Para pedagang kecil memilih meminjam modal kepada para  lintah darat daripada bank atau lembaga-lembaga kredit resmi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M Hasan Basri Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah Provinsi Banten mengatakan, pengusaha kecil sulit mengembangkan usaha jika modalnya dipinjam dari para rentenir. "Para debitur diwajibkan mengembalikan pinjaman dengan bunga besar, sekitar 20 hingga 30 persen dari total pinjaman," kata Hasan Basri, Kamis (18/12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hasan Basri, untuk menghentikan praktik tersebut, pihaknya mensosialisasikan kredit usaha rakyat (KUR) dan dapat dipinjam melalui bank-bank teknis. "Imbauan juga melibatkan majelis taklim dan badan amil zakat daerah," ujar Hasan Basri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedi salah seorang pedagang mengaku lebih memilih meminjam uang ke rentenir karena prosesnya mudah, meskipun bunga pengembaliannya besar. "Tiap hari harus bayar. Jika tidak membayar, uang itu berbunga hingga jumlahnya berlipat ganda. Tapi kalau ke bank, prosedurnya berbelit," kata Dedi. (E1)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-3359627905574095381?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/3359627905574095381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=3359627905574095381' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/3359627905574095381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/3359627905574095381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2008/12/600-ribu-usaha-kecil-di-banten-terjerat.html' title='600 Ribu Usaha Kecil di Banten Terjerat Rentenir'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-1036443700597190110</id><published>2008-12-17T03:07:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T03:08:13.177-08:00</updated><title type='text'>Dipenjara 14 Tahun Tanpa Proses Pengadilan</title><content type='html'>Peristiwa itu masih terbayang dibenaknya. Suatu siang yang tak begitu cerah, 25 Desember 1965 yang lalu, saat itu dia masih menjadi siswa kelas tiga Sekolah Teknik Negeri (STN) Pandeglang, berencana pulang kampung karena sekolah libur panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pakaian, buku dimasukan ke dalam tas, sebelum mencegat kendaraan laki-laki yang saat itu masih malu-malu bertemu dengan lawan jenis itu pun bergegas terlebih dahulu ke kantor Komando Distrik Militer (Kodim) Pandeglang, untuk minta izin pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memang harus lapor karena sejak peristiwa 30 September meletus di Jakarta, dia masuk ke dalam golongan orang-orang yang harus wajib lapor dengan perkara, laki-laki yang baru menginjak umur 16 tahun itu, tercatat sebagai anggota Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi, ternyata di kantor Kodim, bukannya surat izin didapat, dia ditangkap, tanpa proses pengadilan, langsung dijebloskan ke dalam penjara, selama 14 tahun, dari tahun 1965-1979.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota IPPI dituduh bagian dari PKI memang berdasar pada keputusan Letnan Jenderal Soeharto "atasnama Presiden" yang menganggap IPPI masuk ke dalam 26 organisasi bersama PKI karena dianggap "seasas/berlindung/bernaung di bawah PKI" yang berarti ikut terlibat G-30-S/PKI istilah Orba. Walau pernyataan itu banyak dibantah oleh mantan aktivis IPPI. (Lihat Renungan Mantan Pelajar Terpidana Oleh HD. Haryo Sasongko; www.Apa kabar.ws)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, di bulan Desember 2009, saya bertemu dengan laki-laki yang kini dikenal sebagai seniman lukis itu, di sebuah café di Pandeglang, Banten. Kulitnya, tampak mulai keriput, tapi sorot mata, nada suara, dan gerak tangan ketika menjelaskan, tampak sangat menggebu-gebu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki kelahiran Pandeglang tahun 1949 itu, berencana akan berpameran dengan tema Rakyat Tak Berkata, bersama dengan Wiro Kadirah, dan Ki Suhardi, Maret mendatang di Jakarta, sebuah pameran yang penuh dengan nuansa kritik setidaknya menurut pengakuannya, tentang gambaran pemimpin termasuk wakil rakyat yang banyak berkata-kata, janji-janji tapi seringkali kurang ada artinya, sementara rakyat tanpa banyak kata-kata terus bekerja. Momentum yang teras pas menjelang pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya bercerita perihal rencana pemeran  kami juga banyak berbincang tentang perjalanan hidup sampai kisah cintanya, berjam-jam, sampai hujan yang turun ditengah-tengah pembicaraan kami pun berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berbincang, ketika saya ajak kembali berbicara masa lalunya tentang proses penangkapan dan pemenjaraan dirinya, Sasmita yang sekarang namanya lebih dikenal dengan Gebar Sasmita dan sering dipanggil Gebar itu, mengaku menjadi anggota IPPI hanya ikut-ikutan, sebagai ajang pergaulan semata sebagai pelajar, dan dia pun mengatakan tidak mempunyai jabatan apa-apa dalam organisasi itu, kecuali sebagai anggota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hanya sebagai anggota biasa," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gebar mengaku mengetahui tentang PKI setelah dirinya banyak berbicara dengan tokoh, anggota atau orang yang senasib dengan dirinya dituduh PKI saat dipenjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya baru tahu, karena di penjara saya bertemu dengan sejumlah tokoh PKI dan orang yang dituduh PKI seperti saya," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, gara-gara di-PKI-kan oleh rezim Soeharto, Gebar harus mendekam di Rumah Tahanan (Rutan) Pandeglang, dari tahun 65-66, sempat dua bulan di Rutan Serang sebelum dipindah ke rutan Kebonwaru, Bandung dari tahun 1963-1973. Kemudian mendekam di Nusakambangan, sampai tahun 1979.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Penjara Gebar bukan hanya merasakan siksaan kurungan yang merampas kebebasannya begitu panjang, tapi juga tamparan dan tendangan dia terima. Sempat juga tidak diberi makan selama dua tahun 1967-1967.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama tidak diberi makan, Gebar mengaku, makan apa saja untuk bertahan hidup, bonggol pisang, daun-daunan, tikus, sampai tanah pun dijadikan bubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tanah itu kami buat bubur," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gebar dibebaskan tahun 1979, seiring dengan pembebasan yang juga diterima para tahanan politik lain, tidak bisa dilepaskan dari tekanan internasional pada pemerintah Indonesia terutama amnesti internasional, untuk membebaskan para tahanan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau tidak ada desakan dari luar, saya tidak tahu kapan saya keluar," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amnesti internasional didirikan tahun 1961 oleh seorang pengacara Inggris bernama Peter Benenson, giat mengkampanyekan prisoner of conscience, untuk memastikan keadilan dan mengadakan persidangan untuk tawanan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu mau keluar, Gebar mengaku sempat ditanya oleh salah seorang petugas penjara, bagaimana perasaannya menjalani 'kurungan' selama 14 tahun, Gebar pun merasa mendapat kesempatan untuk mengeluarkan perasaannya, dan dia mengatakan, merasa hidupnya disia-siakan oleh pemerintah, yang seharusnya melindungi dan memberi kebebasan pada warga negaranya dengan adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seandainya, saya tidak dipenjara mungkin lebih banyak yang saya berikan untuk bangsa ini," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Gebar tuduhan bahwa dirinya terlibat PKI bukan hanya harus mendekam di penjara, selepas mengirup udara bebas pun, stigma sebagai 'orang PKI' terus menguntit, bukan hanya Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang tertera cap khusus. Pemikiran masyarakat yang sering kali mencap segala sesuatu yang tidak baik dilakukan oleh PKI pun sering membuat Gebar terbebani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh masyarakat sering menuduh segala perbuatan yang tidak baik, dari pencurian, pelecehan seksual adalah segala bentuk perbuatan yang dilakukan oleh PKI. Sementara yang masyarakat ketahui, Gebar adalah orang yang ditahan karena dianggap PKI, dan pemerintah tidak pernah mengeluarkan sebuah ralat, bahwa Gebar bukan PKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita yang dituduh terlibat PKI pun seringkali merasa tertuduh, karena masyarakat mengetahui kita dipenjara gara-gara terlibat PKI," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar Melukis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gebar lahir dan besar di Desa Citeureup, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten. Orangtua Gebar bernama Amat-Sapidoh. Amat berasal dari Sukabumi sementara Sapidoh asli Citeureup, orangtuanya menurut Gebar mempunyai toko kelontong sekaligus petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orangtua saya meninggal, waktu saya di penjara," kata Gebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu kecil Gebar yang anak bungsu dari tiba bersaudara itu, bercita-cita menjadi insinyur. Selepas Sekolah Dasar di Citeureup, Gebar pun melanjutkan pendidikan di STN Pandeglang. Jalur pendidikan telah diretas untuk menjadi insinyur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar informasi, jarak antara Citeureup dan Pandeglang lebih dari 100 KM, lebih-lebih pada saat itu kendaraan masih jarang, jalanan pun tidak semulus sekarang, Gebar pun indekos di Pandeglang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin kalau tidak ditangkap, saya sudah menjadi insinyur," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, terkait dengan dunia lukis, suami Dini Mardini itu mengaku sudah menyukai dunia lukis sejak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waktu itu, lukisannya masih gunung, orang, sungai dan apa yang saya lihat," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjara tidak membuat hasrat Gebar untuk terus melukis surut, dia terus belajar melukis. Tahun 1969-1973 saat di Kebonwaru, dia berkesempatan belajar pada maestro seni lukis Indonesia , Hendra Gunawan (1918-1983). Hendra dipenjara antara tahun 1965-1978, karena tercatat sebagai salah seorang tokoh Lekra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia sangat fair, dan menerima saya sebagai murid," kata Sasmita, yang menganggap Hendra adalah gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat di penjara Sasmita mengaku mendapat kiriman bahan-bahan untuk melukis seperti cat dari orangtua dan saudara-saudaranya. Pada saat di PN Nusakambangan, dia harus bisa 'bermain-main' dengan petugas, karena melukis salah satu kegiatan yang dilarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biasanya, saya melukis di hutan, sembunyi-sembunyi," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat keluar dari penjara, Gebar memutuskan menetap di Pandeglang. Tahun 1980-1990, laki-laki yang kini telah menjadi ayah satu anak itu, rela pindah dari satu kamar kontrakan ke kamar kontrakan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1990-an, dari hasil penjualan lukisannya, Sasmita berhasil membeli sebidang tanah, tapi dia tidak punya uang untuk membuat tempat tinggal, dan beruntung diatas sebidang tanah itu, ada bekas kandang ayam, luasnya 3x3 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau ayamnya sudah ngga ada memang, sementara kotorannya saya bersihkan," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gebar mengaku tinggal di 'kandang Ayam' sampai tahun 1999, banyak suka duka menyertainya, dari tempat tinggalnya runtuh karena dihempaskan angin dan badai beruntung hanya setengahnya dan tidak menimpa dirinya yang sedang tidur, kehujanan, sampai seminggu tidak bisa makan, karena tidak punya uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ternyata, saya masih hidup walau seminggu tidak makan," kata dia, sambil terkekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gebar mengaku, kehidupannya mulai membaik setelah tahun 1999, setelah beberapa pameran dia ikuti terutama di Jakarta , beberapa kolektor sering datang meminta karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, walau belum mapan, tapi setidaknya saya punya tempat berteduh," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Gebar lukisan bukan sekedar keindahan, tapi ada sebuah makna untuk mengungkap sebuah fenomena yang terjadi di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keindahan yang kita bikin, nyaris tidak berfungsi bila kebohongan, ketidakjujuran, kemelaratan, masih terjadi di sekitar kita," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisan-lukisan Gebar, bukan hanya mencerimkan keindahan gambar, tapi juga syarat dengan nilai kritik. Satu contoh lukisan Gebar tentang seorang veteran perang dengan kaki buntung, mimik muka sedih, dibelakangnya, penggusuran tengah terjadi, dengan bendera setengah tiang, lusuh seperti enggan berkibar di masing-masing rumah yang akan digusur. Seakan ingin menunjukan sekali lagi bahwa penggusuran itu adalah ketidakadilan, Gebar pun menuliskan, akan dibangun mall prestisius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Veteran perang itu menurut Gebar bukan menyesali pengorbannya, tapi meratapi mengapa kondisi seperti jaman kolonialisme, masih saja dipraktekan. Penggusuran memang boleh-boleh saja, pembangunan juga harus didukung, tapi penggusuran tanpa solusi dan kehidupan yang lebih baik, adalah sebuah ketidakadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penjajah juga membangun, tapi meminggirkan hak-hak pribumi yang lain," kata Gebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gebar kini tinggal di Ciekek, Pandeglang. Mengelola komunitas pelukis bunga rumput, mendirikan sanggar Gebar. Melukis sambil menyebarkan virus, bahwa menjadi pelukis bukan perkara menggores keindahan, tapi ada sebuah sikap pembelaan pada rakyat yang seringkali menerima perlakuan tidak adil.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-1036443700597190110?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/1036443700597190110/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=1036443700597190110' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/1036443700597190110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/1036443700597190110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2008/12/dipenjara-14-tahun-tanpa-proses.html' title='Dipenjara 14 Tahun Tanpa Proses Pengadilan'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-5473433440866226979</id><published>2008-12-17T03:02:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T03:06:56.730-08:00</updated><title type='text'>In Memoriam, Semoga Damai di Tempat Baru</title><content type='html'>19 Desember, rencananya hasil tes Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Provinsi Banten akan diumumkan. Diantara yang menanti itu, ternyata tidak sedikit yang berasal dari kalangan wartawan, mereka bukan menanti untuk memberitakannya, tapi menunggu apakah namanya tercantum karena mereka juga ikut bersaing, terkait dengan itu ada yang malu-malu mengakuinya, ada pula yang berterus terang.&lt;br /&gt;Wartawan menjadi PNS dibanding menjadi calon anggota legislatif memang tidak banyak dibicarakan, beratus-ratus surat dari mailing list saya terima terkait dengan wartawan yang nyaleg, ada yang mencaci maki, memuji, menganalisa sampai mengirim daftar wartawan yang nyaleg.  &lt;br /&gt;Wartawan ikut seleksi PNS memang bukan hal baru. Tapi, tahun ini cukup menarik, karena yang ikut itu, beberapa nama diantaranya adalah sejumlah wartawan yang mempunyai karir cukup bagus di perusahaannya, dan ada juga yang bertahun-tahun menjadi wartawan. &lt;br /&gt;Beberapa tahun ke belakang, biasanya wartawan semacam diatas mendorong istri atau keluarganya untuk mengikuti tes PNS, atau kalau pun mereka melamar menjadi PNS, biasanya adalah wartawan yang sudah merasa mentok.&lt;br /&gt;Tiga tahun lalu, ketika saya mengatakan akan ikut menjalani tes PNS, sejumlah wartawan pun menertawakannya, mereka menyayangkan, kalau tidak menyebut apa yang saya mau tempuh adalah jalan salah. “Kalau mau jadi PNS cukup istrimu saja,” kata sebagian diantara mereka.&lt;br /&gt;Saya juga sering merasa dilecehkan, kalau ada pejabat yang menyarankan untuk melamar menjadi PNS. Seakan-akan menjadi PNS lebih baik dibanding jadi wartawan.&lt;br /&gt;Beberapa tahun ini, sepertinya PNS bagi sebagian besar kalangan masyarakat semakin ‘seksi’; menjanjikan dan aman. Beberapa kali mengalami kenaikan gaji. Ditengah banyaknya perusahaan swasta yang melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pegawai. Sementara PNS, walau negara ‘sempoyongan’ dan beban APBD setengah habis untuk gaji PNS, baca misalnya RAPBD Kabupaten dan Kota di Provinsi Banten paling besar untuk biaya aparatur malah Kota Serang sampai sekitar 77 persen, tetap saja PNS aman. &lt;br /&gt;Namun, dengan ‘aman’ itu mampukah kinerja mereka ditingkatkan? Ada sebuah penilaian yang tentu tidak bisa disamaratakan pada semua PNS, bisa juga disebut penilaian parsial, mungkin juga agak ngawur, ketika seseorang masuk menjadi PNS, maka sepintar apapun orang itu akan menjadi bodoh; kreativitasnya mandek. Bisa jadi ini terkait dengan sistem karir dan penilaian PNS, malas dan rajin kadangkala dalam realitasnya tidak terlalu berpengaruh.&lt;br /&gt;“Dulu dia cerdas,” kata salah seorang teman mengomentari salah seorang rekan yang kini menjadi PNS. &lt;br /&gt;Bukan hanya itu PNS juga banyak dikritik dengan kinerja yang kurang produktif, pekerjaan yang sebenarnya bisa ditangani oleh satu pegawai dikerjakan oleh banyak orang. &lt;br /&gt;Waktu kerja PNS pun sering diperbincangkan menjadi; datang, duduk baca koran, setelah itu istirahat, makan siang, lalu kerja dan pulang. Walau tentu tidak sebegitu parahnya, namanya juga omongan. Sementara kalau bicara pelayanan, “Kalau bisa dibuat sulit, mengapa dibuat mudah,” mungkin anda juga masih mengingat olok-olok seperti itu? &lt;br /&gt;“Orang kerjanya baca koran saja digaji,” kata salah seorang pejabat Pandeglang, beberapa waktu lalu pada saya, ketika melakukan monitoring tes PNS.&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana dengan sejumlah wartawan yang kini melamar menjadi PNS, apakah mereka juga akan masuk menjadi bagian PNS yang ‘kurang sedap’ dipandang dan banyak dibicarakan ‘keburukan’ kinerja dibanding keberhasilannya itu, dan mungkinkah mereka akan datang untuk masuk menjadi barisan orang-orang sebenar-benarnya mengabdi dengan ketulusan layaknya sebagai pelayan masyarakat, mendongkrak penilain tentang PNS?&lt;br /&gt;Baiknya, kita bicarakan dulu karena ada juga wartawan yang menghianatinya tugas dan wewenangnya. Masyarakat juga kadung banyak mencap wartawan sebagai orang yang datang bukan mencari berita, tapi malah meminta sejumlah uang. Setidaknya, di lapangan ada beberapa karekteristik wartawan. &lt;br /&gt;Wartawan amplop, adalah wartawan yang kerjanya mencari amplop, untuk wartawan amplop ini dibagi lagi ada wartawan amplop yang memang menulis berita ada juga yang mengaku-ngaku wartawan. Wartawan bodrek, mencari amplop dengan jalan apa pun, wartawan ini kadang mempunyai media, tapi terbitnya kebanyakan kempas-kempis, media hanya sebagai alat saja. &lt;br /&gt;Lalu Wartawan Tanpa Surat Kabar (WTS) adalah wartawan yang sebenarnya bukan wartawan, kerjanya memang mencari amplop, menakut-nakuti pegawai terutama guru di kampung-kampung, media pun mereka tidak ada, sebangsa dengan mereka adalah Wartawan Ora Jelas atau biasa disebut OJ. &lt;br /&gt;Nah, ada juga Wartawan yang benar-benar menjalankan tugas jurnalistik, yang kerjanya memang mencari berita, dan amplop pun ditolaknya.  Mungkin masih ada lagi definisi yang lain, seperti wartawan freelance, ngetren di luar negeri tapi sempoyongan menegakan diri di Indonesia , dan mungkin di Banten masih dianggap sebagai wartawan antah berantah.  &lt;br /&gt;Beberapa nama yang melamar menjadi PNS itu walau ‘tidak bersih-bersih amat’, setidaknya subjektifitas saya menilai profesi wartawan, mereka itu mempunyai integritas dan menunjukan kinerja yang cukup baik. &lt;br /&gt;Wartawan yang cukup baik itu, menurut saya layak dikategorikan seperti yang digambarkan oleh sejumlah orang tentang wartawan, mereka bekerja juga mengabdi pada kepentingan masyarakat banyak. Menyampaikan informasi dengan kritis. Kebohongan-kebohongan pun disingkapnya. &lt;br /&gt;Tentu saja sangat sulit mencari wartawan seperti itu, bukan hanya butuh pendidikan praktis jurnalistik juga mental sebagai jurnalis, termasuk Perguruan Tinggi Komunikasi pun menurut saya sangat susah mencetak wartawan sebenar-benarnya wartawan. &lt;br /&gt;Saya merasa kehilangan dengan wartawan cukup baik yang memilih menjadi PNS, mungkin juga anda dan masyakat, namun harapan pun tersembul jiwa-jiwa wartawan; kritis, objketif, dan berani bersuara, tetap dipelihara, mereka nanti bisa berbuat lebih untuk menajamkan kinerja PNS sebagai abdi masyarakat. &lt;br /&gt;Mungkin mereka juga akan terjebak, mungkin karena kultur atau mental individunya, hanya sejarah yang akan membuktikannya, dan mereka telah memilih pergi, ketika kita membaca kabar harga-harga kertas terus melambung naik, tiras media cetak pun banyak diberitakan melorot. Kalau lulus, Selamat, semoga kita masih bisa bertemu kawan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-5473433440866226979?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/5473433440866226979/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=5473433440866226979' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/5473433440866226979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/5473433440866226979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2008/12/in-memoriam-semoga-damai-di-tempat-baru.html' title='In Memoriam, Semoga Damai di Tempat Baru'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-2687526849663909925</id><published>2008-12-17T03:01:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T03:02:09.239-08:00</updated><title type='text'>Pelajar NU Serang Tuntut Pendidikan Politik</title><content type='html'>Ginanjar Hambali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VHRmedia, Serang - Puluhan anggota Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama (IPNU) Kota dan Kabupaten Serang, Rabu (17/12) berunjuk rasa di sejumlah sekolah dan kantor-kantor partai politik di Serang. Mereka menuntut partai politik melakukan kampanye jujur yang mencerdaskan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Busro Koordinator aksi mengatakan, parpol seharusnya memberikan pendidikan politik bagi pemilih pemula yang mayoritas pelajar dan mahasiswa. Namun menurut dia, parpol justru memanfaatkan pemilih pemula hanya sebagai kantong suara semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan gunakan berbagai cara untuk meraih kemenangan. Seharusnya, partai politik mengayomi seluruh rakyat Banten demi terciptanya demokrasi yang damai, aman dan tertib," kata Busro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengunjukrasa juga mempertanyakan komitmen caleg daerah pemilihan Banten, yang tidak berperan dalam mensejahterakan rakyat. "Apakah mereka mewakili aspirasi masyarakat Banten?" ujar Busro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditempat terpisah, Ranthy Pancasasthy Ketua Panitia Pengawas Pemilu Banten mengatakan, pihaknya akan serius mengawasi pelaksanaan pemilu diwilayah itu. "Berdasarkan pengalaman, pelanggaran biasanya banyak terjadi dalam hal-hal praktis. Seperti politik uang dan politik hitam," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ranthy, pelanggaran-pelanggaran klasik itu, sulit dihilangkan. Dia berharap, pengawasan yang ketat dapat memperkecil kemungkinan terjadinya politik uang selama pemilu. "Koordinasi dengan pihak-pihak terkait dan struktur panwaslu hingga tingkat desa, akan kami lakukan untuk mengikis politik kotor ini," ujar Ranthy. (E1)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-2687526849663909925?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/2687526849663909925/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=2687526849663909925' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/2687526849663909925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/2687526849663909925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2008/12/pelajar-nu-serang-tuntut-pendidikan.html' title='Pelajar NU Serang Tuntut Pendidikan Politik'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-3032584045386800674</id><published>2008-12-17T03:00:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T03:01:08.632-08:00</updated><title type='text'>Pemprov Banten Akan Jual Pupuk Secara Tertutup</title><content type='html'>Ginanjar Hambali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VHRmedia, Serang - Pemerintah Provinsi Banten berjanji memperkecil penyelewengan pupuk bersubsidi. Dinas pertanian akan menerapkan pola penjualan tertutup, sehingga penjualan pupuk bersubsidi hanya dibatasi pada petani yang terdata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus M Tauchid Kepala Dinas  Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten mengatakan, pihaknya akan menugaskan petugas penyuluh pertanian untuk mendata petani. Melalui data tersebut, dinas pertanian dapat memantau pendistribusian pupuk dari pengecer ke petani. "Lewat pola tertutup, kios penjualan pupuk hanya melayani petani yang  terdata," kata Agus, Rabu (17/12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Agus, pihaknya akan meningkatkan koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk mengawasi pendistribusian pupuk bersubsidi. "Saya akui saat ini koordinasinya kurang baik," ujar Agus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudaya Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Banten mengatakan, pihaknya telah mengirimkan surat pada PT Pupuk Sriwijaya wilayah Banten dan Jakarta agar meperbaikai distribusi pupuk. "Diantaranya, terkait distributor ganda dan sistem penyaluran pupuk," kata Hudaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan surat keputusan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, Provinsi Banten mendapatkan 136.366 ton pupuk bersubsidi. Diantaranya pupuk Urea 78.059 ton, Super Pos 15.700 ton, ZA 1.657 ton, NPK 20.000 ton, dan Organik 20.950 ton. (E1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;©2008 VHRmedia.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-3032584045386800674?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/3032584045386800674/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=3032584045386800674' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/3032584045386800674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/3032584045386800674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2008/12/pemprov-banten-akan-jual-pupuk-secara.html' title='Pemprov Banten Akan Jual Pupuk Secara Tertutup'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-6426710556145097600</id><published>2008-10-17T07:57:00.000-07:00</published><updated>2008-10-17T07:58:36.001-07:00</updated><title type='text'>Harusnya Menjaga Bukan Merusak</title><content type='html'>Hutan milik komunitas masyarakat Baduy rusak, mereka terancam kelaparan, kondisi itu menyebabkan komunitas masyarakat yang ada di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, itu resah. &lt;br /&gt;Ironisnya, kondisi itu dilakukan masyarakat luar yang mengklaim lebih modern, masuk dan menjarah pohon. Kerusakan itu, terletak di blok perbatasan antara Kecamatan Leuwidamar, Sobang dan Kecamatan Muncang. Ternak milik masyarakat luar pun ikut menyerbu lebatnya rumput, dan suburnya tanaman di tanah ulayat baduy.&lt;br /&gt;Keresehan masyarakat Baduy, sering disuarakan, ketika ‘seba’ atau persembahan hasil pertanian masyarakat Baduy, kepada Bupati Lebak dan Gubernur Banten, termasuk di luar seba. &lt;br /&gt;Sebagai gambaran tanah ulayat warga Baduy, hasil pendataan tahun 2001 seluas 5.130,8 hektar, dibagi tiga peruntukan, lahan perladangan, permukiman, serta hutan lindung. Jumlah penduduk sekitar 10.949 jiwa, tersebar di 59 dusun/kampung. &lt;br /&gt;Masyarakat Baduy berusaha menjaga kelestarian alam, dengan mempertahankan amanat yang berasal dari cerita para leluhur, bahwa disekitar wilayah Baduy terdapat sebuah gunung yang dinamakan Gunung Kendeng, yang dititipkan para leluhur baduy untuk dijaga kelestariannya, karena sebagai Jantungnya Pulau Jawa. &lt;br /&gt;Amanat itu, mereka jaga dengan berpegang teguh pada filosofi, diantaranya "Lojor henteu beunang dipotong, pendek henteu beunang disambung" (panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung).  “Gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak” (Gunung jangan dihancurkan, sawah jangan di rusak). &lt;br /&gt;Kelestarian alam, membuat masyarakat Baduy bisa hidup mandiri, dengan cara bercocok tanam dan berladang, atau istilah mereka ngahuma dan berburu. Tambahan penghasilan yaitu menjual barang kerajinan, seperti tas yang terbuat dari kayu. &lt;br /&gt;Persoalanya, sampai kapan mereka bertahan, sementara masyarakat mengusik? Pemerintah seharusnya menindak tegas, menghukum pelaku penjarahan, termasuk masyarakat yang membiarkan ternaknya menyerbu masuk tanah ulayat suku Baduy. Meningkatkan pembinaan terhadap masyarakat luar, terutama yang ‘bertetangga’, agar bersama-sama menciptakan harmoni kehidupan. &lt;br /&gt;Ternak masuk ke tanah ulayat suku Baduy, bisa jadi karena masyarakat luar kurang menghargai komunitas masyarakat baduy, disamping benar-benar rumput yang tumbuh milik masyarakat luar kurang tumbuh lebat, ini artinya tanah masyarakat luar sudah rusak, padahal hamparan tanah di daerah itu, masih terbentang luas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-6426710556145097600?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/6426710556145097600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=6426710556145097600' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/6426710556145097600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/6426710556145097600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2008/10/harusnya-menjaga-bukan-merusak.html' title='Harusnya Menjaga Bukan Merusak'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-7217978938040004714</id><published>2008-10-14T07:46:00.000-07:00</published><updated>2008-10-19T05:20:31.566-07:00</updated><title type='text'>Menjadi Guru</title><content type='html'>Kalau saja rencana kenaikan gaji guru bisa terwujud, bisa jadi gambaran guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) seperti Umar Bakri, dalam lagu Iwan Fals berakhir sudah. Janji pemerintah minimal gaji guru untuk golongan II/B tanpa pengalaman dan tidak sertifikat Rp 2 juta. &lt;br /&gt;Sementara, guru PNS golongan IV/E bersertifikat profesi mencapai Rp 6,9 juta rupiah, belum termasuk tunjangan fungsional dan tunjangan profesi untuk guru dengan sertifikat. Pendapatan guru daerah terpencil yang bersertifikat naik menjadi Rp 5,1 juta pada 2009, yang belum menjadi Rp 3,6 juta. &lt;br /&gt;Ternyata, meningkatnya gaji guru mendapat reaksi dari sejumlah kalangan. Sejumlah Dokter PTT mengeluh karena gaji mereka hanya Rp 1-2 juta perbulan. Selain dokter PTT, bisa juga diprediksikan PNS-PNS yang lain, juga akan banyak mempertanyakan, kenaikan gaji guru tersebut.&lt;br /&gt;Sementara itu, karena guru bukan hanya guru PNS semata, sebagian pihak juga menuding kenaikan gaji guru PNS, bersikap diskriminatif bila guru-guru swasta yang paling terkenal ‘kekurangsejahteraannya’, tidak diperhatikan. Ini menjadi “PR’ bagi pemerintah untuk berlaku adil. &lt;br /&gt;Barangkali, salah satu upaya berlaku adil, dengan memprioritaskan pengangkatan guru swasta menjadi guru PNS, sehingga guru swasta menjadi jenjang karir. Sehingga ada sebuah harapan dari guru yang selama ini statusnya masih sukarelawan, bantu sekolah, tenaga kerja sosial berubah nasibnya, karena fakta menunjukan ada guru yang menjadi guru swasta bertahun-tahun, sampai diatas masa ambang batas waktu pensiun.&lt;br /&gt;Kesejahteraan&lt;br /&gt;Selama negeri ini berdiri, kesejahteraan guru memang menjadi sesuatu yang muluk. Selalu dibicarakan, tapi tidak pernah terealisasi. Kesejahteraan yang kurang dituding, menjadi salah satu penyebab kualitas pendidikan di Indonesia terpuruk.     &lt;br /&gt;Kesejahteraan guru yang rendah, bukan hanya sangat sulit untuk meminta guru berkonsentrasi pada tugasnya. Profesi guru pun menjadi sesuatu yang tidak menarik bagi sebagian kalangan, dibanding profesi dokter, pengacara, akuntan, atau profesional lain. Fakta menunjukan, alumni SMA yang tergolong pintar, kebanyakan tidak berminat memilih jurusan kependidikan. &lt;br /&gt;Saat ini, secara umum peminat jurusan Kependidikan atau sering juga disebut Keguruan, yang ada di Universitas mantan IKIP, bisa jadi meningkat, tapi coba tanya, banyak pendaftar yang memilih jurusan kependidikan, sebagai pilihan nomor urut kedua.&lt;br /&gt;Padahal, sejarah menerangkan didirikannya sejumlah Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG), dilatar belakangi sejarah pertumbuhan bangsa, yang menyadari upaya mendidik dan mencerdaskan bangsa merupakan bagian penting dalam mengisi kemerdekaan. &lt;br /&gt;Pertama, setelah Indonesia mencapai kemerdekaannya, bangsa Indonesia sangat haus pendidikan. Kedua, perlunya disiapkan guru yang bermutu dan bertaraf Universitas untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang akan merintis terwujudnya masyarakat sejahtera. (Sejarah UPI Bandung; http://www.upi.edu/Info&amp;Sejarah).&lt;br /&gt;Guru yang bermutu, bukan hanya berotak pintar, tapi idealnya dia juga mempunyai minat yang cukup besar. Minat itu tidak hanya muncul, ketika ditanya, apakah anda mau menjadi guru? Tapi, dimulai dari proses ketika mengenyam proses pendidikan.&lt;br /&gt;Seorang calon dokter ketika kuliah jika mau dianding-bandingkan, tampaknya sudah menghayati betul suatu saat dia akan jadi dokter, tapi seorang mahasiswa keguruan belum tentu, malah bisa jadi cita-citanya bukan menjadi guru. Pada sebagian mahasiwa kependidikan atau waktu penulis kuliah di juruan kependidikan ada pernyataan, sarjana pendidikan tidak harus menjadi guru, yang diucapkan oleh dosen maupun mahasiswa. Adakah pernyataan, seorang mahasiswa kedokteran tidak berniat menjadi dokter?Kalau pun ada, berapa persen.  &lt;br /&gt;Kondisi itu, menyebabkan mata kuliah yang terkait dengan keguruan, seperti Psikologi Pendidikan, Strategi Belajar Mengajar, sering kali dimaknai asal lulus. Padahal mata kuliah itu, menjadi bekal yang harus dikuasai oleh seorang guru.&lt;br /&gt;Pandangan yang menyatakan, profesi guru adalah gampangan, tampak juga terlihat dari menjamurnya pendidikan keguruan, dari mulai Sekolah Tinggi Keguruan sampai Fakultas Keguruan, hampir ada di tiap Kabupaten atau Kota. Menjadi mahasiswa jurusan kependidikan, begitu mudah, asal mempunyai izajah setingkat SMA. Sementara itu, sejumlah lulusan non-kependidikan karena beberapa faktor kemudian mengambil sertifikat Akta, agar bisa ikut seleksi menjadi guru PNS. &lt;br /&gt;Setidaknya,  beberapa faktor mahasiswa non kependidikan tertarik menjadi guru, kebanyakan karena ‘kecelakaan’, tidak bisa bersaing dengan mengantongi ijazah jurusannya, bisa juga karena menganggur, bosan di rumah menjadi ibu rumah tangga, atau baru menyadari bahwa menjadi guru itu menyenangkan, untuk yang terakhir ini biasanya karena secara ekonomi, mereka sudah mapan.&lt;br /&gt;Sementara itu, proses seleksi menjadi guru disamakan dengan pekerjaan PNS lain, hanya mengisi sejumlah soal yang belum tentu bisa mengukur kecakapan menjadi seorang guru, seperti kecakapan mental, kecakapan untuk mengusai mata pelajaran, dan kecakapan lain yang dibutuhkan oleh seorang guru. &lt;br /&gt;Tes juga seharusnya, melihat faktor lamanya seseorang menjadi guru, karena terkesan para guru swasta yang sudah bertahun-tahun mengabdi seperti diabaikan, baru beberapa tahun kebelakang saja, itu juga belum mampu menyerap sebagian besar guru swasta.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tugas Berat&lt;br /&gt;Ketika kita berharap kualitas guru meningkat, Kesejahteraan, adalah salah satunya saja, guru juga harus dipersiapkan betul, baik mental maupun kecakapan, baik sebelum atau sesudah menjadi guru.&lt;br /&gt;Tak berlebihan bila sejumlah pakar pendidikan, dulu berteriak-teriak agar IKIP jangan berubah menjadi Universitas, supaya tetap fokus sebagai lembaga yang mencetak guru, nyatanya IKIP Bandung sejak 7 Oktober 1999 berubah menjadi UPI Bandung, IKIP Jakarta sudah menjadi UNJ, dan IKIP-IKIP yang lain juga sama, dengan gagahnya menjadi Universitas. &lt;br /&gt;Bukan hanya itu, ketika PTN yang membuka jurusan Kependidikan semakin mahal saja biaya kuliahnya, terutama semenjak berubah menjadi BHMN, sementara sejumlah Perguruan Tinggi Swasta semakin gencar dan berlomba-lomba menampung mahasiswa atau membuka jurusan keguruan, seakan-akan siapapun bisa masuk, terkesan tanpa proses seleksi yang penting bisa membayar uang kuliah, akankah dengan begitu tercipta guru-guru yang semakin berkualitas?&lt;br /&gt;Kesejahteraan harus diikuti dengan variable-variable lain yang terkait dengan kualitas guru. Tanpa itu semua, mustahil terwujud, dan guru pun hanya akan menjadi cibiran masyarakat saja, padahal tantangan untuk semakin meningkatkan kemampuan dan kemampuan dalam mengajar semakin kompleks.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-7217978938040004714?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/7217978938040004714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=7217978938040004714' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/7217978938040004714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/7217978938040004714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2008/10/menjadi-guru.html' title='Menjadi Guru'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-4643388061684579396</id><published>2008-10-13T22:36:00.000-07:00</published><updated>2008-10-13T22:37:09.701-07:00</updated><title type='text'>Melihat Keluarga Tubagus Chasan Sochib</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ini adalah sebuah kisah tentang seseorang yang begitu terkenal di Banten, namanya Tubagus Chasan Sochib. Orang-orang di luar Banten pun banyak mengenal pengusaha yang juga jawara itu, atau setidaknya pernah mendengar namanya. Bisa jadi orang lebih mengenal Chasan Sochib yang tidak punya kekuasaan formal, dibanding Wakil Gubernur Banten H.M Masduki, atau Sekretaris Daerah Banten.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Laki-laki yang biasa dipanggil Abah itu, memang kondisinya sekarang sudah tua, berkali-kali dikabarkan laki-laki yang juga tokoh salah satu partai besar di Banten itu pun terkapar diserang penyakit, dibalik sikap kontroversialnya, pemilik perusahaan dengan nama Sinar Ciomas itu adalah sosok yang melegenda di Banten, setidaknya untuk beberapa tahun, namanya akan terus dikenang, pun bila dia sudah meninggal.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Abah memang sudah tua, dan sepertinya tidak berminat untuk berkiprah maju dalam kekuasaan, namun anak, menantu, cucu, dari Chasan Sochib beberapa tahun terakhir ini, sepertinya ingin mengembangkan diri untuk duduk di tampuk kepemimpinan, baik legislatif maupun eksekutif, terlepas dari maksud dan tujuan mereka meraih jabatan, tapi setidaknya setiap mereka tampil, menyedot perhatian publik dan cukup meraih banyak suara. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Secara fenomena, keluarga Chasan Sochib mulai terjun ke gelanggang kekuasaan, ketika Rt Atut Chosiyah menjadi wakil Gubernur Banten priode 2002-2007, lalu sukses menjadi Gubernur Banten priode 2007-2012. Bisa jadi karena keberhasilannya, saudara-saudara Rt Atut berhamburan untuk maju bertarung di gelanggang kekuasaan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada saat pemilihan Bupati Tangerang, menantu Hasan Sochib, yakni Airin Rachmi Diany istri Tb Chaeri Wardana, maju mencalonkan diri menjadi Wakil Bupati priode 2008-2013, berpasangan dengan Zajuli Juwaini. Menariknya, seperti pernyataan bahwa dalam politik tidak ada kawan dan musuh abadi, ‘perselisihan’ PKS dengan Rt Atut Chosiyah dalam pencalonan Gubernur Banten, sepertinya berbalik, karena pada saat pemilihan Bupati Tangerang, pasangan Zajuli-Airin diusung oleh PKS. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pasangan Zajuli-Airin memang gagal melawan Ismet Iskandar-Rano Karno, tapi dia tidak gagal total, setidaknya nama mantan mojang Parahiyangan itu, melambung dan banyak diperbincangkan untuk ukuran Banten.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada pemilihan Walikota Serang, saudara Atut beda Ibu, Tb Chaerul Jaman, juga tampil menjadi calon Wakil Walikota, siapa yang menyangka, bersama dengan calon Walikota Bunyamin, mereka maju ke putaran kedua pemilihan Walikota Serang priode 2008-2013. Sebelumnya, sejumlah survei tidak menjagokan mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu untuk pemilu 2009, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Rt Atut Chasanah Adik perempuan Rt Atut Chosiyah yang juga Ketua PMI Banten itu, melanggeng maju menjadi calon anggota DPRD Banten, dari dari daerah pemilihan Pandeglang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Putra Rt Atut Chosiyah Andika Hazrumy, maju menjadi calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD), saat mendaftarkan diri ke KPU Banten (14/7/08), laki-laki yang masih berstatus mahasiswa itu ramai diantar simpatisannya, sejumlah ormas pun berbaris di belakangnya. Ketua KPU Banten Hambali, pun menyambutnya, disedikan juga waktu untuk konprensi pers.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Istri Andika, &lt;span style="color: black;"&gt;Adde Khairunnisa&lt;/span&gt; menantu Rt Atut Chosiyah juga mencalonkan diri menjadi calon anggota DPRD Kota Serang. Sebelumnya, mahasiswi Universitas Pelita Harapan itu, sukses menjadi Ketua Umum KONI Serang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Lilis Karyawati juga sukses menjadi Ketua Partai Golkar Kota Serang, sementara suaminya alias menantu Chasan Sohib, Aden Abdul Khalik menjadi caleg DPRD Banten dari daerah pemilihan Kabupaten/Kota Serang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu, beberapa anak Chasan Sochib, juga cukup sukses terpilih menjadi ketua organisasi olahraga, ormas kepemudaan dan organisasi pengusaha, seperti yang terlihat pada TB Chaeri Wardana. Bila semua ditulis, dan diketahui penulis, bisa jadi nama-nama keluarga Chasan Sochib, masih cukup banyak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apa maksud dibalik ramai-ramainya keluarga Chasan Sochib bertarung di gelanggang kekuasaan, sejumlah alasan sering dikemukakan oleh mereka (maksudnya keluarga yang turun-pen), yaitu untuk membangun Banten, yang lebih sejahtera dan adil untuk semua.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Walau begitu, nada minor pun sering mampir, bahwa itu bahasa biasa meraih simpati, karena kekuasaan sangat menggoda dimanfaatkan untuk kepentingan individu atau kelompok. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Banyak juga yang berbicara, sekarang adalah pertarungan terakhir keluarga Chasan Sochib, untuk mempertahankan pengaruhnya, bila gagal mereka akan terdesak, pamor keluarga akan turun, tapi itu perlu dibuktikan lebih lanjut. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; juga bisik-bisik diantara mereka juga terjadi persaingan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu, di sebagian politisi, individu atau kelompok-kelompok lain yang juga terjun ke gelanggang, sering kali merasa minder untuk bertarung melawan keluarga Chasan Sochib. Mereka kadang hanya bisa bisik-bisik di belakang, atau seringkali menyatakan benci karena terkesan keluarga Chasan Sochib sangat mendominasi, tapi ujung-ujungnya melakukan aliansi dengan keluarga Chasan Sochib.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Terlepas dari itu semua, keluarga Chasan Sochib, tetap menjadi fenomena yang menarik di Banten. Banyak orang membencinya, tapi &lt;i style=""&gt;toh&lt;/i&gt; pada kenyataannya, masih banyak masyarakat yang memilihnya, seperti ada benci, rindu dan sayang bercampur semuanya, mungkin itu adalah sebuah realitas, dari masyarakat Banten berdemokrasi.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-4643388061684579396?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/4643388061684579396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=4643388061684579396' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/4643388061684579396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/4643388061684579396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2008/10/melihat-keluarga-tubagus-chasan-sochib.html' title='Melihat Keluarga Tubagus Chasan Sochib'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-5479803284271154647</id><published>2008-10-10T01:30:00.001-07:00</published><updated>2008-10-10T01:30:45.785-07:00</updated><title type='text'>Kisah Sawira dan Muhamad</title><content type='html'>Suatu hari di bulan April 1947, dua orang yang juga bekerja sebagai mandor perkebunan Sanghiyang Damar, yang sekarang terletak di Desa Kadupandak, Kecamatan Picung, Kabupaten Pandeglang, ditangkap pasukan Belanda. Kedua mandor yang masing-masing bernama Sawira dan Muhamad itu, kemudian diminta menunjukan tempat persembunyian, kelompok pejuang kemerdekaan.&lt;br /&gt;Tapi, Sawira dan Muhamad tetap keukeuh tidak mau menunjukannya, walaupun dengan ancaman, bentakan, pukulan, sampai todongan senjata. Mereka diseret dari kampung ke kampung, dari lembah ke lembah, dengan tangan diikat ke belakang, sampai kemudian di sebuah tempat -sekarang tepat di depan kantor Desa Ciherang, Kecamatan Picung, Kabupaten Pandeglang atau sekitar 3-4 Kilometer dari Sanghiyang Damar-, keduanya disuruh menggali tanah; baru selewat pinggang, pasukan Belanda sudah tidak sabar, dor,dor,dor…., senapan pun berbunyi, keduanya roboh, bersimbah darah; mati kemudian, lalu dikuburkan di sana pada tanah yang mereka gali sendiri.&lt;br /&gt;Sementara itu, sejumlah penduduk dibalik pepohonan dan tempat-tempat tersembunyi, terutama ibu-ibu dan anak-anak, hanya bisa mengintip, sebagian dengan tubuh gemetaran, sebagian sambil dibarengi air mata yang meleleh. Sebagian malah terkencing-kencing saking takutnya. &lt;br /&gt;Seandainya, Sawira dan Muhamad mau berbuka suara, nyawa kedua orang itu mungkin terselamatkan, tapi bagaimana dengan ratusan pejuang yang sedang ngeuli di Leuweung Bajeg, yang jaraknya sekitar empat kilo metar dari tempat pemakaman mereka?&lt;br /&gt;Sawira dan Muhamad, tentu saja hanya dua dari berjuta-juta pahlawan yang mengorbankan jiwa dan raganya, untuk kemerdekaan bangsa ini. Keduanya, tentu bukan orang terkenal, pangkatnya hanya mandor perkebunan. Tapi, siapa yang meragukan kepahlawananya? Mereka adalah pahlawan yang terlahir dari orang-orang kecil, bukan berasal dari nama besar. &lt;br /&gt;Setiap tanggal 17 Agustus saat memperingati hari Kemerdekaan atau 10 November pada saat Hari Pahlawan, biasanya anak-anak sekolah dasar di sebagian Kecamatan Picung terutama Desa Kolelet dan Desa Ciherang, melakukan upacara, yang maksudnya penghormatan dan mengenang dua pahlawan tersebut, seperti yang saya ingat ketika masih menggunakan seragam Merah-Putih.&lt;br /&gt;Biasanya, diujung acara, salah seorang perwakilan guru akan menceritakan sekilas tentang perjuangan Sawira dan Mumamad, tapi dasar mungkin anak-anak, uraian tentang perjuangan Sawira dan Muhamad hanya sayup-sayup terdengar oleh saya, yang lebih berpaling pada pedagang balon, lotre, mobil-mobilan, martabak, baso, lotek, dan lain-lain. &lt;br /&gt;Sementara itu, di Kota Serang, setiap tanggal 10 November, Muswarah Pimpinan Daerah (Muspida) Provinsi Banten, melakukan ziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Ciceri-Serang. Saat memberi sambutan atau ketika ditanya oleh wartawan, mereka biasanya akan menyatakan, bahwa jasa-jasa pahlawan sangat besar, dan kita tidak akan menjadi bangsa merdeka, tanpa pengorbanan para pahlawan. Kita patut meneladani sifat-sifat kepahlawan. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sifat-sifat kepahlawanan, seperti ditunjukan Sawira dan Muhamad adalah, diantaranya sikap rela berkorban, teguh pada pendirian, berani melawan demi cita-cita bersama mengusir Belanda yang waktu itu menjajah Indonesia, walaupun lingkup geografisnya, di Kecamatan Picung atau Pandeglang Selatan. &lt;br /&gt;Sementara itu, penjajah identik dengan penindasan, jadi bila masih ada penindasan, berarti sifat-sifat penjajahan masih ada, walau Belanda sudah mengakui kemerdekaan Indonesia. &lt;br /&gt;Sifat-sifat penjajahan atau penindasan sepertinya sangat erat dengan perilaku korupsi, kolusi dan nevotisme, serta kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat, karena banyak membuat penderitaan, bukan oleh Belanda tapi bangsa sendiri. Jadi, tidak ada kata lain selain harus secara masif dilawan, dari mulai tingkat RT, Desa, Kecamatan, Kabupaten, Provinsi sampai pusat.&lt;br /&gt;Pahlawan, seperti yang diperlihatkan oleh Sawira dan Muhamad teguh pada pendirian, walaupun harus mengorbankan nyawa. Mereka tidak takut, dengan bentakan dan todongan senjata. Mereka yang konsisten mendorong dan memberantas penyelewengan-penyelewengan seperti pengusutan kasus korupsi, tidak bergeming diiming-iming; jabatan, kekayaan, atau tawaran menggiurkan lain, sepertinya layak disebut pahlawan.&lt;br /&gt;Orang-orang yang berjuang keras, membuka usaha dengan cara bersih dan jauh dari kongklingkong yang bisa merugikan masyarakat, tentu saja bisa dianggap sebagai hero atau pahlawan, karena bisa membuka kesempatan kerja untuk orang-orang yang masih tertindas, karena belum memiliki pekerjaan. &lt;br /&gt;Orang-orang yang menyisihkan dana untuk membantu untuk sesama yang tertindas karena tidak bisa melanjutkan pendidikan yang semakin melambung mahal. Itu juga diantaranya sikap rela berkorban, untuk kemajuan bersama. &lt;br /&gt;Seperti halnya Sawira dan Muhamad, pahlawan juga bisa muncul dari orang-orang biasa, tidak perlu harus menunggu menjadi Sultan, Gubernur atau Bupati, Jenderal, Kapten, atau nama-nama besar lain. Namun, kepeloporan dan keteladanan patut juga dimunculkan dari orang-orang besar, sehingga mari sambut ajakan walaupun baru sebatas ucapan yang perlu dibuktikan, yang biasanya muncul dari para muspida, usai berziarah ke taman makan pahlawan, ketika ditanya tentang makna kepahlawanan. &lt;br /&gt;Jadi setiap tindakan dan perbuatan yang menindas masyarakat, atau siapapun, dan dilakukan oleh siapapun, menjadi kewajiban bersama untuk melawannya. &lt;br /&gt;Menjadi pertanyaan kemudian, biasanya pahlawan, tidak bisa menikmati hasil perjuangannya, sanggupkah kita? Seperti, Sawira dan Muhamad, mati meninggalkan keluarga dan bangasnya, demi kemerdekaan yang tak pernah dinikmatinya. Sebentuk niat; rela berkorban, keiklasan, mesti diteguhkan, atau mungkin pahlawan hanya sebuah hayalan, dikala penghianatan dan penindasan tubuh subur, atau mungkin kita hanya baru berani mengintip penindasan berlangsung, dari tempat persembunyian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-5479803284271154647?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/5479803284271154647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=5479803284271154647' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/5479803284271154647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/5479803284271154647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2008/10/kisah-sawira-dan-muhamad.html' title='Kisah Sawira dan Muhamad'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-5520707439834281934</id><published>2008-10-10T01:26:00.000-07:00</published><updated>2008-10-10T01:29:22.234-07:00</updated><title type='text'>Kesempatan dan Kepentingan</title><content type='html'>Apa keuntungan terbentuknya Provinsi Banten?Bisa jadi jawabannya banyak, tapi yang jelas setidaknya membuka kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk tampil, menduduki jabatan dalam pemerintahan maupun politik.&lt;br /&gt;Mungkin akan sulit bagi orang Banten menjadi Gubernur bila masih bersatu dengan Jawa Barat, agak susah juga untuk menjadi kepala Dinas di tingkat Provinsi, lebih terbatas juga untuk menjadi anggota DPR RI dan DPRD Provinsi. Belum kesempatan-kesempatan lain, kini kesempatan itu, sangat terbuka lebar.&lt;br /&gt;Kesempatan itu, semestinya dijadikan alat untuk mencapai tujuan dan cita-cita masyarakat Banten, semestinya pula dilakukan dengan penuh tanggungjawab, namun kesempatan itu, kadangkala diliputi napsu, untuk kepentingan individu dan kelompok.&lt;br /&gt;Marilah kita jujur, dalam stuktur pemerintahan, benarkah seorang Kepala Dinas atau pejabat strategis, adalah orang yang benar-benar cakap dibidangnya?Saya kok ragu. Dalam bidang politik, partai tak terkecuali pada pemilu 2009, terlihat pada urutan jadi baik pada partai besar maupun gurem, ada anak, istri, suami, kerabat, saudara, menantu, mantan pejabat yang prestasi tak bagus-bagus amat, serta orang biasa saja dalam kehidupan masyarakat, dan maaf untuk kebanyakan calon yang dipasang masyarakat mencibir dan menduga ada pemaksaan kepentingan individu dan kelompok.&lt;br /&gt;Benarkah, calon kepala daerah yang diusung oleh partai politik, adalah kader terbaik, untuk kepentingan masyarakat?Saya kok ragu juga.&lt;br /&gt;Muhammad Hatta dalam buku Cendekiawan dan Politik, menuliskan bila berpolitik tidak lagi diartikan melaksanakan tanggungjawab tentang kebaikan masyarakat, namun dipandang sebagai jalan untuk mencari keuntungan dan membagi-bagikan rejeki dan jabatan kepada golongan dan kawan-kawan sendiri, akan menyebabkan pertama partai dibanjiri oleh orang-orang yang tidak pada tempatnya, disitu; tidak saja jabatan Negara diisi oleh orang-orang tidak memenuhi syaratnya, tetapi jiwa partai itu sendiri rusak karena perbedaan, antara cita-cita dan praktek yang dijalankannya. (LP3ES, 1984;12).&lt;br /&gt;Semangat mumpung ada kesempatan tanpa ditunjang oleh kemampuan dan tanggungjawab itu, membuat anarki dalam bidang ekonomi, politik dan sosial. Korupsi dan kemorosotan kehidupan pun menjadi-jadi, pembangunan pun menjadi hilang arah, kemana hendak dituju. Puncaknya, ketidakpuasan masyarakat pun merajalela. Aksi demonstrasi pun terjadi dimana-mana.&lt;br /&gt;Masuknya generasi muda, kaum terpelajar, dan orang-orang yang dianggap bersih, dalam jajaran sejumlah partai besar tapi masih dikungkungi oleh kepentingan individu dan kelompok, sebenarnya, diharapkan bisa merubah keadaan, tapi yang menjadi persoalan kemudian, adalah posisi dan peran mereka belum bisa signifikan, untuk melakukan perubahan.&lt;br /&gt;Karena demokrasi yang sedang berjalan saat ini, adalah demokrasi rasional, karena baru pada tahap bagaimana caranya memilih pemimpin dengan mengumpulkan suara terbanyak. Jadi, tidak ada cara lain, selain melakukan penyadaran untuk menggalang kekuatan. Bila sudah menjadi kesadaran, bisa menjadi masa massif, yang aktif untuk melakukan perubahan.&lt;br /&gt;Perlawanan&lt;br /&gt;Ditengah kondisi ini, mereka yang menginginkan Banten tidak semakin terjerumus dan terjerat oleh kepentingan individu dan kelompok harus berperan aktif, melakukan perlawanan. Salah satu caranya, mengkampanyekan pada masyarakat, untuk memilih pemimpin yang benar-benar mampu. Bisa jadi, gerakan yang dibangun oleh masyarakat tolak politisi busuk di Jakarta atau Kota-Kota besar di Indonesia, bisa dijadikan contoh.&lt;br /&gt;Namun, orang-orang yang mempertahankan kepentingan individu dan kelompok, kadang selalu lebih maju, dengan strategi kampanye didukung kekuatan uang, mereka pun melakukan perang pencitraan, gerilya mendekati orang yang dianggap sebagai tokoh masyarakat, seolah-olah calon yang mereka usung adalah calon terbaik, dan benar-benar untuk kepentingan Banten. Mereka merangkul kiai, membujuk wartawan, membantu tempat-tempat ibadah, aktivitas kepemudaan, dan sejumlah kegiatan untuk menarik simpati, sebanyak-banyaknya.&lt;br /&gt;Sepertinya tidak berlebihan bila berharap pada mahasiswa yang selama ini banyak bersuara kritis, untuk lebih bergerak, bukan hanya sekedar menyodorkan selembar kontrak politik, tapi juga tampil memimpin dan menyatukan serpihan-serpihan untuk menggalang kekuatan menghadang orang-orang yang tidak cakap memimpin, terpilih.&lt;br /&gt;Salah satu syarat utama mahasiswa yang tampil harus bebas dari kepentingan politik praktis. Tak berlebihan, bila sebagian orang menyarankan agar mahasiswa bebas dulu dari aktivitas partai, sehingga ketika mereka bergerak, bebas dari bias kepentingan partai politik.&lt;br /&gt;Para dosen, profesor, dan kaum yang selama ini dikenal dengan sebutan cendekiawan, jurnalis, juga harus menyuarakan suara-suara kritisnya. Para jawara jangan terjebak oleh iming-iming uang, untuk menakut-nakuti masyarakat, demi memilih individu atau kelompok tertentu. Kiai jangan menyembunyikan ‘ayat-ayat’, untuk kepentingan tertentu.&lt;br /&gt;Lewat pengajian, kiai sudah saatnya bukan hanya mengajarkan bagaimana caranya sholat, puasa, zakat, ibadah haji, dan ibadah ritual lain, namun bagaimana umat berpolitik, dan memilih pemimpin yang baik, juga menjadi kewajiban.&lt;br /&gt;Selama ini, kiai memang sering menyuarakan agar memilih calon pemimpin yang tidak terindikasi korupsi, kolusi dan nevotisme, namun, sejumlah kiai yang berkampanye dengan menyitir sejumlah ayat, terkesan digunakan untuk kepentingan-kepentingan tertentu juga.&lt;br /&gt;Lalu, apakah boleh kiai mendukung calon tertentu, sebenarnya sah saja, tapi, baiknya banyak pihak menyarankan kiai berperan sebagai wasit, jangan sampai masuk pemain-pemain kotor. Kalau masuk ikut menjadi suporter, seringkali menimbulkan prasangka-prasangka yang membuat reputasi kiai menurun, seperti yang banyak menjadi gejala sekarang ini.&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana kalau kiai mencalonkan diri menjadi pemimpin, baiknya masyarakat jangan terpukau dengan kebesaran kiai, apakah dia cocok atau tidak menjadi pemimpin, kalau cocoknya hanya mengajar di pesantren, sebaiknya mengajar saja, tak usaha memaksakan diri, tapi kalau cocok disorong maju menjadi pemimpin di gelanggang politik dan pemerintahan, mengapa tidak dipilih?&lt;br /&gt;Mereka yang selama ini memimpikan Banten maju dan modern, jangan tinggal diam. Menggalang kekuatan bersama-sama masyarakat, menumbuhkan kesadaran untuk lebih cerdas memilih pemimpin untuk Banten yang lebih baik, mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera dan makmur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-5520707439834281934?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/5520707439834281934/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=5520707439834281934' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/5520707439834281934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/5520707439834281934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2008/10/kesempatan-dan-kepentingan.html' title='Kesempatan dan Kepentingan'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-4367609938854234480</id><published>2008-09-25T08:35:00.000-07:00</published><updated>2008-09-25T08:36:00.208-07:00</updated><title type='text'>Kalau Ada Kemauan Pasti Menang</title><content type='html'>Setelah saya menulis, ‘Sekali Lagi Tentang Pemuda’ di Harian Umum Banten Raya Post, (16/9), sejumlah short message service atau biasa disebut sms saya terima, di antaranya, dari salah seorang calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), “tantangan berat kang, kita menghadapi orang-orang tua yang didukung oleh modal, sementara kita hanya mengandalkan jaringan perkawanan.” kata laki-laki kelahiran pertengahan 70-an itu.“Jadi,” balas saya singkat.“Harus kerja keras, perjuangan memang berat. Sekarang posisi dimana?” tulisnya, dan kami pun akhirnya saling bersms ria, untuk beberapa saat, sebelum handphone lepas terjatuh dari genggaman, karena saya terkantuk-kantuk, ketika hari sudah melewati tengah malam, dan seperti biasa, hayalan pun melayang-layang. Generasi MudaSejumlah generasi muda yang sekarang mencalonkan diri menjadi calon legislator, yang saya tahu memang belum mapan secara finansial, -baru membuka usaha, atau bekerja pada sejumlah perusahaan- kecuali beberapa nama saja, pastinya Andika Hazrumy, anak pertama Gubernur Banten Rt Atut Chosiyah, yang ikut mencalonkan diri menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, dan putra-putri pengusaha.Haruskah menyerah dan bersikap pasrah, karena tidak punya dana melimpah? Jangan. Apapun harus ditempuh, saatnya Banten, dipimpin generasi muda, yang bersih dan mempunyai integritas untuk membangun, karena bagi saya, generasi tua di Banten harus diistirahatkan, setidaknya jangan terlalu mendominasi. Bagaimana, kita bisa mengharapkan sebuah perubahan radikal, bila anggota dewan, diisi orang yang secara umur diatas 50-an sampai 70-an. Perlu radikal, karena Badan Pusat Statistik (BPS) masih mencatat pengangguran terbuka di Banten tahun 2008, mencapai 601.800. Sementara tingkat kemiskinan walau mengalami penurunan dari 886.200 (9,07%) pada tahun 2007, menjadi 816 .700 (8,15%) menurut survey tahun 2008, tapi angkanya masih tinggi. Generasi muda, yang tampil mencalonkan diri untuk maju menjadi legislator itu, rata-rata kelahiran pertengahan 70-an, sudah menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi. Mereka dibesarkan oleh perkembangan komputer yang mulai menyebar, setidaknya skrispi atau tugas kuliah tidak lagi menggunakan mesin ketik. Generasi itu, sudah berakrab ria dengan internet, tidak asing dengan e-mail, searching, chating, nge-blog. Mungkin yang terakhir facebook. Mereka juga merasakan bagaimana suasana pergerakan, sampai pasca reformasi 1998, beberapa menjadi motor, beberapa harus merasakan hantaman pentungan, sampai pengapnya tahanan, sebagai konsekuensi perjuangan.Beberapa diantaraya, ikut membidani lahirnya atau mengembangkan organisasi gerakan mahasiswa atau pemuda yang sekarang cukup diperhitungkan eksistensinya, setidaknya untuk lokal Banten. Ketika membidani dan mengembangkan organisasi tersebut, mereka bukan hanya aktif mencari kader, tapi juga dipusingkan untuk mencari atau merogoh kantong sendiri untuk membiayai kegiatan organisasi. Jadi, dalam penggalangan masa, sebenarnya mereka sudah berpengalaman. Generasi muda banyak yang dipaksa untuk lebih kreatif, karena ketika lulus kuliah, mereka dihadapkan pada krisis ekonomi yang tidak kunjung bangkit, lahan pekerjaan menyempit. Generasi sebelumnya, lulus kuliah biasanya langsung atau menunggu beberapa tahun diangkat jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), atau bekerja pada sektor lain.Sementara itu, generasi tua adalah representasi generasi yang dibesarkan oleh mesin ketik, telepon rumah, televisi hitam putih dengan TVRI-nya, memang ada beberapa yang melek teknologi, tapi sebagian masih tergagap-gagap. Ingat, saat anggota DPRD Banten mau dibagikan laptop beberapa waktu lalu, selain menganggap pemborosan, masih ada pertanyaan, memang semua anggota dewan bisa menggunakan komputer?Alamak. Ada juga yang katanya, masih gagap memanfaatkan handphone, hanya sekedar, bersms pun. Terkait dengan pengalaman organisasi, generasi tua memang banyak yang dibesarkan oleh organisasi sosial kemasyarakatan, yang rata-rata organisasinya sudah mapan, dengan intrik-intrik kekuasaan yang relatif lebih panas, jadi jangan heran sesama satu organisasi pun belum tentu, senapas seperjuangan. Kalau pun, mereka merasakan perjuangan tahun 1966-an, itu sudah jauh ke belakang. Mungkin, bolehlah satu dua orang mewakili.PotensiSepantasnya, generasi muda menggunakan segala potensi, memenangkan pertarungan. Ketia di-search lewat mesin pencari, saya mendapatkan beberapa sudah memanfaatkan teknologi informasi untuk memperkenalkan diri, walau itu hanya segelintir saja. Padahal sosialisasi lewat dunia maya lebih murah, dan beberapa calon presiden pun sudah memanfaatkannya, misalnya dengan facebook.Mungkin ada pertanyaan, masyarakat Banten belum melek teknologi, mungkin ya, untuk sebagian, tapi salah besar kalau untuk menggeneralisir, lihat saja, di warung-warung internet tumbuh menjamur, juga penuh pengguna. Walau sekedar chating, email-emailan, atau searching.Ide-ide kreatif yang identik dengan generasi muda, untuk strategi kampanye pun belum tampak betul, seperti masih terpaku pada kampanye konvensional. Mengapa tidak memunculkan pesan dengan ide-ide segar, atau memberikan seabrek keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Pasti ada 1001 macam ide, yang bisa dimanfaatkan.Anda tentu tidak sedang merayu seluruh penduduk Indonesia, bukan? Letak geografisnya masih bisa terjangkau, untuk keliling. Bukankah stamina generasi muda lebih segar dan kuat, jadi kalau sekedar blasak-blusuk ke kampung-kampung atau pelosok-pelosok itu, semestinya tidak menjadi persoalan. Tentu tidak dengan selonong boy, berbicara dan mendekati, bisa masuk dengan menggunakan jejaring perkawanan, teman kuliah di kampus atau pun mahasiswa yang dikenal. Singkatnya jejaring perkawanan dimanfaatkan betul.*** Ketika saya berbicara pada sejumlah kiai dan pemuda di dan sekitar kampung saya, beberapa pekan yang lalu, “Bagaimana kalau ada calon dari partai atau anggota DPD yang datang?meminta dukungan?” Apa jawaban mereka, “Siap, asal mereka datang dan mengobrol dengan kita, dan pastinya tidak terlalu bermasalah, terutama untuk DPRD Provinsi, DPR dan DPD, karena tidak ada yang berasal dari kampung kita.” “Masalah uang?” Tanya saya memancing.“Ya, tergantung, kalau dia jujur tidak mempunyai uang, mengapa kita tidak bantu, namanya juga membantu yang minta bantuan, dengan mereka mau datang dan berbincang pun, kita sangat menghargai,” begitu kira-kira kata beberapa orang.*** Terakhir, saya cuma mengingatkan, pemilu 2009, tinggal hitungan bulan saja, bagaimana generasi muda yang bergagah-gagah mencalonkan diri itu menjawab tantangan, atau hanya sekedar pelengkap saja, kalau begitu wassalam. I’m Sorry good bye. (Banten Raya Post, 26/9)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-4367609938854234480?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/4367609938854234480/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=4367609938854234480' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/4367609938854234480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/4367609938854234480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2008/09/kalau-ada-kemauan-pasti-menang.html' title='Kalau Ada Kemauan Pasti Menang'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-5486224900791316466</id><published>2008-09-22T01:20:00.000-07:00</published><updated>2008-09-22T01:29:22.391-07:00</updated><title type='text'>Kegairahan Dunia Tulis Menulis di Banten</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;4 Oktober 2000 silam, rapat paripurna DPR-RI mengesahkan RUU Propinsi Banten menjadi Undang-undang No. 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Propinsi Banten. Setelah 8 tahun Banten menjadi Provinsi, tentu ada begitu banyak yang bisa dibicarakan, biasanya persoalan ekonomi sampai pendidikan, tapi saya hendak mencoba menyajikan kegairahan tulis menulis, kaitannya dengan penerbitan buku dan koran. Persoalan itu, menjadi penting karena penulis dari Banten pernah cukup dikenal, dan sejumlah karya penulis-penulis besar pun muncul menulis persoalan yang ada di Banten. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sedikitnya, ada lima harian; Fajar Banten, Radar Banten, Satelit News, Tangerang Tribun, Banten Raya Post. Kehadiran media lokal tersebut, setidaknya membuka ruang mengasah kemampuan, mempublikasikan tulisan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Maka berhamburanlah karya penulis lokal, sekedar menyebut nama Ibnu Adam Avicena, Firman Venayaksa, Aji Setiakarya, Dadan Sutisna, belum kalau berbicara penulis yang sudah banyak mempublikasikan karyanya di tingkat nasional, seperti Wan Anwar, Gola Gong, Toto St Radik. Karya penulis lokal yang saya maksud adalah para penulis yang menetap dan sering menulis persoalan Banten.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kabarnya, salah satu media yang terbit di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; bersiap membuka koran lokal di Banten. Bila koran lokal berkembang bak jamur, dunia penerbitan buku yang sama-sama mempunyai peran besar menggairahkan dunia tulis menulis, terlihat tertatih-tatih. Sejumlah penerbitan mulai menunjukan cetakannya, tapi bukunya masih menyebar terbatas, artinya belum bisa mengangkat penulis Banten menunjukan karyanya ke dunia yang lebih luas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penerbit Banten, diantaranya Untirta Press, Penerbitan Mesjid Agung Serang, Gong Media Cakrawala (GMC), Andi Suhud Penerbitan dan Percetakan. Gola Gong pemilik GMC seperti sadar betul penerbit yang dia rintis belum bisa ‘bermain’sekarang ini, buku terbarunya masih diterbitkan salah satu penerbit di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; seperti The Journey kisah petualangan Gola Gong, Jangan Mau Tidak Menulis, Anak Matahari. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) baru mencatat satu penerbit di Banten yang jadi anggotanya. DKI &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; 300, Jateng 103, DIY 54, Jawa Timur 94. Penerbit hadir, itu penting karena penciuman penerbit yang ada di Jakarta, Bandung atau Jogjakarta, cukup terbatas ‘membaui’ sebuah tema yang jauh dari tempatnya berada.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ini bukan persoalan miskin tema yang bisa diangkat di tanah ‘jawara’, karena bila merunut sejumlah buku yang mengupas persoalan yang ada di Banten, cukup melimpah, Max Havelar karya Multatuli, Pemberontakan Petani Banten karya Prof Dr Sartono Kartodirdjo, Arit dan Bulan Sabit;Pemberontakan Komunis 1926 di Banten karya Mishael C. Wiliams, Krakatau 1883 The Vulkanic Eruption and Its Effect karya Simkin dan Fikse, Krakatoa;The Day The world Exploded karya Simon Winchester sampai Novel Sekali Perstiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer. Semua buku diatas ditulis bukan orang Banten, dan diterbitkan bukan oleh penerbit yang ada di Banten. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mengurai jauh kebelakang seperti ditulis Ibnu Adam Avicena, orang yang diduga pertama kali menulis tentang Banten, sebagaimana ditulis Ota Atsushi, adalah Francois Valentyn. Bukunya Oud and niew Oost-Indien diterbitkan oleh Van Wijnen pada 1724 dan 1726. Pada 1815 sebuah buku Stamford Raffles, The History of Java diterbitkan di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;London&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Sebetulnya buku ini tidak secara khusus membicarakan Banten. (&lt;span class="bigtitle"&gt;Bantenese Studies (1): Banten Dalam Literatur/www. Rumahdunia.co.id).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam bidang kesusateraan seperti ditulis Firman Venayaksa, Banten disebut dalam “The Alcemist” yang ditulis pada tahun 1610 oleh Ben Johnson, juga pada novel karya W Congreve’s dengan judul “Love for Love” ditulis pada tahun 1695. Bahkan dalam tulisan Bignon’s Adventures d’ Abdalla (1712) mengambil setting khusus suasana Banten dalam judul novel “The Court of the King of Banten” (1685). Hal yang sama dilakukan oleh seorang penulis asal Spanyol, Madeleine Gomez yang memilih gambaran kehidupan masyarakat Banten untuk menjadi inspirasi penulisan novelnya “La princesse de Java” pada tahun 1739. (Komunitas Rumah Dunia dan Regenerasi Kesusasteraan di Banten).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jadi, sudah lama Banten menjadi ladang berkarya sejumlah penulis. Begitu pula sudah terentang jauh kebelakang, orang-orang Banten menulis. Walau tidak pasti, kabarnya sejak abad 17, ketika Shaikh Yusuf Al-makasari ulama yang juga penulis naskah-naskah keagamaan datang ke Banten pada masa Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1692). Walau dia orang Makasar, tapi kemudian dia yang menghasilkan sekitar 25 karya itu, menetap di Banten.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Puncaknya kemudian, seperti ditulis Oman Fathuragman, dalam Naskah Banten dan Tradisi Intelektual Islam Indoensia, pada Abad ke-19 seorang ulama besar Banten, Shaikh Nawawi al-Bantani menulis setidaknya 100 buah karya dalam berbagai bidang ilmu keagamaan, seperti tasawuf, fikih, akhlaq, dan lain-lain (Brockelman 1938; Bruinessen 1995; Rachman 1995).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kemudian Achmad yang lahir 1877 atau saat di HBS bernama Willem van Banten sebagai bupati seperti ditulis Firman, bukan hanya terbiasa menulis artikel di majalah Djawa dan Koloniale Studien, dia juga menulis Herinering van Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat atau Memoar Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat untuk versi terjemahannya, yang menggambarkan Banten pada masa kolonial: pembangunan jalan Anyer-Panarukan, kerja rodi di Ujung Kulon, gunung Krakatu meletus, dan seterusnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Meloncat pada era 90-an, Gola Gong hadir dengan Balada Si Roy, disusul karya yang lain, seperti berloncatan saja sampai sekarang. Setelah Banten jadi Provinsi, muncul nama Endang Rukmana, dan nama yang terkesan masih coba-coba seperti Qizing La Aziva, Ibnu Adam Avicena, Abdul Malik. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; juga yang menerbitkan buku kumpulan artikel yang pernah dimuat di media lokal, seperti buku yang mengupas persoalan pendidikan di Banten, karya Hamdan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Seperti halnya kegairahan menulis di koran lokal, kalau penerbitan buku hadir, penulis pun berkembang, walau itu bukan satu-satunya faktor. Mungkin nanti, kita tidak hanya mengenal Gola Gong penulis yang tinggal di Banten, tapi nama lain, jadi &lt;i style=""&gt;omong-omong&lt;/i&gt; kalau mau menjadi penulis jangan tinggal di Banten pun, terbantahkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saat ini (maaf), penerbit yang ada, jangankan membayar royalti, seringkali penulis pun ikut patungan agar bukunya bisa terbit. Belum kalau berbicara masalah selektivitas kualitas tulisan, manajemen pemasaran dan seabrek persoalan penerbitan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mungkin ada pertanyaan, pasar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;buku di Banten belum memungkinkan, rasanya bagi seorang pemasar itu sebuah pernyataan putus asa. Saat ini, pemasaran buku bukan hanya berkutat pada pasar dimana lokasi penerbitan berada, berbeda dengan koran. Koran lokal biasanya terbit untuk kebutuhan lokal setempat, penerbit buku menyebar kesana kemari.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebelum penerbitan buku (mudah-mudahan) semarak, ada baiknya, para penulis di Banten, selain meningkatkan kualitas tentunya, juga semakin berdekatan dengan penerbitan buku profesional yang ada di luar Banten, bagaimana sebuah buku layak diterbitkan. Profesional yang saya maksud adalah penerbit yang cukup bisa memasarkan karya penulis dan bisa membayarnya dengan cukup layak, setidaknya untuk ukuran penerbit di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setelah semarak penerbitan koran, kita harap penerbitan buku menyusul, karena secara geografis Banten hanya ‘selemparan batu’ dengan Jakarta, punya ikatan emosional dengan Bandung, dimana kedua kota itu sudah hiruk pikuk dengan dunia penerbitan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;Cilimus, 21/9&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Penulis:Warga Banten. Sempat menjadi wartawan (2005-2008). Sekarang, sedang berusaha belajar menulis buku, sambil menjadi penulis lepas.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-5486224900791316466?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/5486224900791316466/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=5486224900791316466' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/5486224900791316466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/5486224900791316466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2008/09/kegairahan-dunia-tulis-menulis-di.html' title='Kegairahan Dunia Tulis Menulis di Banten'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-7540013917760161425</id><published>2008-09-20T03:05:00.000-07:00</published><updated>2008-09-22T01:20:13.126-07:00</updated><title type='text'>Memaknai 8 Tahun Provinsi Banten</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana kita harus memaknai perjalanan 8 tahun Provinsi Banten? Rasa-rasanya bagi kebanyakan orang perayaan suka cita, parade keberhasilan pembangunan, tidaklah bijak, ditengah masih banyaknya masyarakat yang dirundung persoalan hidup.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengangguran terbuka di Banten tahun 2008, mencapai 601.800. Sementara tingkat kemiskinan walau mengalami penurunan dari 886.200 (9,07%) pada tahun 2007, menjadi 816 .700 (8,15%) menurut survey tahun 2008, tapi angkanya masih tinggi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Melihat angka pengangguran dan kemiskinan sebagai dua contoh persoalan mestinya Banten tengah ‘berkabung’, sayang sejumlah pejabat baik eksekutif maupun yudikatif malah terjebak korupsi. Belum bila bicara masalah kebijakan, yang diantaranya lebih berpihak pada kepentingan pejabat, buktinya pembelian mobil dinas yang tergolong &lt;i style=""&gt;wah, &lt;/i&gt;beberapa waktu ke belakang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Padahal, ketika Banten diperjuangkan berpisah dengan Jawa Barat, mempunyai cita-cita, diantaranya lebih mencerdaskan dan memakmurkan masyarakatnya, dibalut romantisme sejarah mengembalikan kejayaan Banten, seperti jaman Sultan Abdulfatah, raja Banten yang termasyhur itu. Singkatnya, kemakmuran itu, bukan untuk segelintir orang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Perjuangan pembentukan Provinsi Banten adalah proses panjang, berliku dan terjal, bukan sekedar luapan pasca revormasi, tapi sejak bangsa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; memproklamirkan kemerdekaan. Perjuangan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;itu mustahil terwujud, tanpa semangat yang terus dipelihara dari generasi ke generasi dan mustahil terlaksana bila tujuan pembentukan itu hanya milik pemimpin, tanpa keterlibatan bersama masyarakat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;Keterlibatan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Keterlibatan pemimpin dan masyarakat puncaknya tak terbendung 8 tahun silam, hampir setiap kali aksi menuntut pembentukan Banten, diikuti masa aksi yang tak terhitung, saking banyaknya. Mereka datang dari pelosok-pelosok Banten. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mahasiswa sementara meninggalkan kuliahnya, petani meninggalkan kebunnya, pengusaha meninggalkan usahanya, mereka terlihat siap melakukan apa saja, termasuk berkorban nyawa dan harta sekalipun. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Semestinya, semakin lama semangat itu semakin menggedur, karena sekarang kita sudah bisa mengatur sendiri, dan tidak ada lagi kelompok yang ‘menghalangi-halangi’ seperti pada jaman perjuangan pembentukan Provinsi, tapi nyatanya seiring dengan perkembangan waktu, perlahan-lahan kepentingan individu dan kelompok bermain, melemahkan semangat mewujudkan cita-cita Provinsi Banten yang masih terentang sangat panjang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pemilihan kepala daerah seperti ajang perebutan kekuasaan kelompok-kelompok tertentu sementara suara rakyat hanya sebuah permainan, korupsi semakin merambah kemana-mana. Solidaritas memudar, persaudaran menguap. Sementara, peran pemerintah yang seharusnya memfasilitasi kepentingan masyarakatnya pun memudar. Wujud dan peran pemerintah pun semakin dipertanyakan. Ketidakpercayan pun menyebar, salah satu indikatornya tingkat golongan putih atau biasa disebut golput dalam pemilihan Bupati atau walikota semakin meningkat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ditengah kondisi itu, baiknya kita memaknai 8 tahun Banten sebagai ajang ziarah, belajar bagaimana pemimpin Banten dan masyarakat terus mengobarkan semangat, untuk mewujudkan provinsi Banten, walaupun harus masuk penjara sekalipun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Moch Sanusi, Rachmatullah Sidik, dan Tb Kaking, sekitar tahun 1967, harus masuk tahanan, karena memperjuangan pembentukan Provinsi Banten. Padahal, ketika provinsi Banten terbentuk, mereka tidak sempat menikmatinya karena keburu dipanggil meninggalkan kita.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Para pemimpin sekarang memang banyak yang masuk penjara, tapi bukan karena memperjuangkan kesejahteraan masyarakat, tapi karena terjerat kasus korupsi dari mulai dana perumahan DPRD Banten priode 2001-2003, Pembebasan Lahan KP3B, Kasus Suap Bank Jabar di Pandeglang, sampai Pembangunan Rumah Sakit Umum (RSU) Balaraja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;Masih Ada&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Spirit mewujudkan Banten yang lebih baik, sebenarnya masih tersisa dan bisa ditemukan di sejumlah tempat, tinggal bagaimana seorang pemimpin mau mengenali dan menyatukannya, untuk mengalahkan semangat kepentingan individu dan kelompok. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Semangat itu, sekedar menunjukan masih tercermin pada kelompok mahasiswa dan masyarakat yang berbaur menggelar aksi demonstrasi menuntut pemberantasan korupsi dan kolusi yang terjadi, seperti yang terlihat di Pandeglang dan para mahasiswa yang rajin melakukan aksi, ke Kantor Kejati Banten, dan lain-lain. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Walau tidak menutup kemungkinan, sejumlah kelompok mahasiswa dan masyarakat pengunjuk rasa, ada juga yang kecenderungannya membela kepentingan dan tujuan kelompok tertentu. Kita juga mungkin sudah tahu itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Semangat mewujudkan cita-cita Banten, itu juga tampak pada kelompok masyarakat yang melakukan pemberdayaan tanpa atau dengan bantuan pemerintah sekalipun, coba bermain&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke Komunitas Rumah Dunia, Ciloang-Serang, di sana ada program mencerdaskan anak-anak kampung sekitar, lewat program literasi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di sejumlah mesjid, terutama di Tangerang, banyak berdiri pengobatan gratis, dokter-dokter datang tanpa bayaran. Ditengah banyaknya Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang dikeluhkan disiplin kerjanya, tentu masih ada PNS-PNS yang menunjukan dedikasinya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana spirit itu menjadi gerakan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; rakyat yang massif, sebenarnya tugas pemimpin untuk bisa melakukannya. Pemimpin yang bisa memahami masih ada kekuatan menjadikan Banten lebih baik, adalah pemimpin yang bisa mengenal rakyatnya, bisa hidup bersama rakyatnya, merasakan penderitaan rakyatnya dan berjuang bersama rakyatnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Seharusnya, pemimpin yang ada sekarang lebih peka, terhadap kepentingan masyarakat Banten, saatnya lebih menyadari bahwa jabatan yang sekarang diemban adalah amanah yang mesti dipertanggungjawabkan, saatnya menyatukan semangat perubahan yang tersisa. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bila pemimpin, merasa tidak penting menyatukan semangat perubahan yang ada, tidak ada kata lain selain membangun kesadaran bersama, menggugatnya lalu memilih pemimpin baru.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pemilihan Kepala Daerah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;seperti di Kabupaten Lebak, Kota Tangerang, kemudian menyusul Kota Cilegon dan Kabupaten Pandeglang, ditambah akan digelarnya pemilu untuk memilih calon anggota eksekutif tahun 2009. Bisa dijadikan momentum.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Marilah memilih pemimpin yang mau mendengarkan, menyerap, dan memperjuangkan aspirasi masyarakatnya. Memilih pemimpin yang bisa diandalkan mengatasi persoalan yang terjadi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bukan pemimpin yang hanya bermodalkan uang dan keturunan, tapi tidak mempunyai kapasitas jadi pemimpin. Bukan pula pemimpin yang tiba-tiba datang, karena Banten tidak sedang menunggu Ratu Adil, tapi pemimpin yang hidup dan mengerti persolan masyarakatnya. Tolak money politik, stop memilih politisi busuk.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Begitulah. Semangat perubahan untuk Banten yang lebih baik, harus terus digelorakan bersama pemimpin (eksekutif, legislatif maupun pemimpin informal seperti kiai) dan masyarakat; bersama-sama, dengan satu tujuan Banten jaya dan modern. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;Sariwangi, 20/9/08&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:18;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-7540013917760161425?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/7540013917760161425/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=7540013917760161425' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/7540013917760161425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/7540013917760161425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2008/09/memaknai-8-tahun-provinsi-banten.html' title='Memaknai 8 Tahun Provinsi Banten'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-4485557517558510617</id><published>2008-09-16T02:24:00.001-07:00</published><updated>2008-09-16T02:24:52.150-07:00</updated><title type='text'>Biaya Perpisahan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Badannya disandarkan pada tembok stasiun, asap rokok seakan tidak habis-habisnya ia hembuskan dari mulutnya, matanya terus memandang keujung jalan, wajahnya gelisah. Hatinya sempat bimbang, pulang kembali ke rumah atau tetap menunggu temannya yang berjanji akan segera datang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pulang ke rumah untuk bekerja seperti biasa sebagai pemulung yang sudah dijalaninya sekitar tiga bulan terakhir ini, dan membatalkan niatnya untuk beraksi bersama teman yang dulu telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, mengambil sesuatu dengan penuh resiko, walaupun dia berjanji hanya untuk satu kali ini saja. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Terlintas dalam bayanganya, beberapa hari yang lalu, usai dia pulang kerja, anaknya yang pertama Ragil Suragil nama lengkapnya bercerita izajah sekolahnya akan ditahan, bila tidak bisa membayar biaya perpisahan, sampai dengan perpisahan digelar sabtu mendatang, atau dua hari lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ragil sendiri berkali-kali bercerita padanya, untuk melanjutkan sekolah ke SMK jurusan mesin, supaya bisa bekerja di pabrik, supaya bisa membiaya pendidikan adik-adiknya, supaya bisa membeli rumah tidak seperti mereka yang harus tinggal di rumah kontrakan tinggal berdesak-desakan, supaya bisa banyak lagi yang diceritakan oleh anaknya yang berambut keriting itu persis seperti dirinya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Walaupun hanya sekedar cerita, namun membuat dia begitu bahagia, hampir saja air mata air matanya jatuh, seakan-akan Ragil telah mencapai cita-citanya. Serasa tidak sia-sia selama ini dia banting tulang menyekolahkan Ragil. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sampai kemudian, anaknya mengatakan bahwa pihak sekolah telah mengumumkan, dalam perpisahan sekolah nanti akan diramaikan dengan kehadiran band yang sering tampil di televisi. Bukan kehadiran band itu yang membuatkanya tidak setuju, namun tentang biaya perpisahan sebesar Rp 250.000, yang membuatnya pusing.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Rusman sendiri bukannya tidak patuh terhadap biaya atau mungkin tepatnya bisa disebut sebagai beban pendidikan yang harus dia keluarkan. Laki-laki berkulit hitam itu, sudah berusaha untuk melunasi biaya sekolah Ragil, dengan cara membobol tabungan, meminjam pada tetangga, namun ternyata belum mampu untuk melunasi sampai dengan biaya perpisahan. Terpikir olehnya, mengapa harus ada perpisahan di sekolah?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Pak, uang perpisahannya sudah ada belum,” kata anaknya, malam kemarin, selum berangkat mengaji.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Lagi diusahakan, gil, mungkin beberap hari lagi,” kata dia yang sedang duduk didepan kontrakan dibawah lantai.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Anaknya pun tersenyum sambil pamitan pergi. Sementara dia, tertegun karena sudah berjanji memberi harapan pada anaknya, sementara dia juga pusing kemana mengumpulkan uang sebanyak itu, padahal hari itu dia sama sekali tidak mempunyai uang. Air matanya yang coba ditahan, akhirnya jatuh juga. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Berkelebatan dalam pemikirannya, seandainya Ragil bisa melanjutkan sekolah walaupun saat itu belum terbayang darimana biaya untuk melanjutkan sekolah, nasibnya mungkin tidak seburuk dirinya yang hanya tamatan sekolah dasar, yang kini harus mencari penghasilan dengan menjadi pemulung. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Nanti Ragil, tidak harus mencari-cari barang-barang bekas di tempat sampah, tidak juga harus menyusuri sungai-sungai yang bau menyengat hanya untuk mencari barang-barang bekas. Anaknya bisa melamar bekerja di pabrik atau malah di kantoran, dan siapa tahu menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), seperti teman sepermainnnya, anak mantan kepala desa di kampung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sempat terpikir untuk menjual televisi 14 inci satu-satunya kotak hiburan di keluarga itu, namun dia tidak tega melihat wajah istrinya yang sedang mengandung anak ketiga mereka, lebih-lebih ketika dia melihat istrinya akhir-akhir ini senyum-senyum, semenjak di televisi ada Sinetron yang salah satu bintangnya Sahrul Gunawan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kebagian istrinya tersebut, ternyata dibawa ke tempat tidur, dia yang beberapa minggu selalu tidur dengan berbalik ke belakang itu, kini memeluk erat dirinya walaupun Rusman sadar tidak bisa melakukkan lebih dari itu, karena istrinya sedang mengandung anak ketiga mereka. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mungkin, perempuan yang banyak menghabiskan penderitaan bersama-sama dengannya tersebut, membayangkan sedang memeluk bintang sinetron yang dimimpikannya. Rusman sendiri tidak begitu ambil pusing, yang penting istrinya berbinar-binar bahagia. Semoga anaknya seganteng bintang sinteron.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sempat terpikir untuk kembali meminjam pada tetangga, tapi siapa lagi tetangganya yang masih mempunyai uang di jaman sulit seperti sekarang ini dan sudi meminjamkan kembali, kemarin-kemarin juga dia pinjam setengah mengemis dengan janji akan cepat-cepat dilunasi. Sempat berpikir meminjam pada Bang Imam yang biasa keliling meminjam-minjamkan uang, namun dia terpikir, bagaimana mengembalikannya, meminjam Rp 500.000 harus membayar Rp 750.000 dengan jangka waktu lima bulan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;*** &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Berdiri menyandar pada gedung stasiun, sambil melihat kesibukan dan lalu lalang orang-orang yang bergegas, sambil membayangkan bahwa separuh hidupnya dijalani di stasiun tersebut, terkenang ketika pertama kali datang ke Jakarta untuk bisa merubah nasib, bisa mengirimkan penghasilan, bisa membahagiakan orangtuanya, bisa menyekolahkan adik-adiknya di kampung halaman. Mimpi itu tinggal mimpi, kesulitan hidup di perantauan merubah segalanya, Jakarta ternyata tidak seindah yang dia bayangkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saat pertama kali datang, dirinya masih bujangan, dia diajak oleh teman satu kampung berdagang rokok di Stasiun yang berada di tengah pusat Kota Jakarta, kemudian beralih menjadi pedagang koran, kemudian dagang rokok kembali, teman Rusman yang mengajaknya ke Jakarta kini sudah pulang kampung menjadi petani. Rusman sendiri, berpikir kadung sudah berjalan, pantang pulang kampung, selain itu masalah utamanya, apa yang bisa dia lakukan di kampung, sawah pun dia tidak punya, warisan yang sepetak habis untuk modal berdagang di Jakarta.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sampai kemudian, di Jakarta Rusman berkenalan dengan Arman dan Boneng, mula-mula hanya perkenalan antara pembeli dan penjual rokok, setelah akrab keduanya mengajak bergabung, menjadi mencopet. Sebuah profesi yang ternyata membuat dirinya bisa lebih mudah mendapatkan uang, namun juga membuat dirinya berkali-kali harus bermain-main dengan resiko. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Seiring dengan waktu, Rusman yang diajak oleh kedua orang itu, kemudian bertugas sebagai tukang eksekusi, sementara dua temannya mengalihkan perhatian dengan cara mendorong-dorong korban. Rusman dipilih karena keberaniannya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Rusman meninggalkan pekerjaan mencopet, semenjak keluar dari tahanan gara-gara ditangkap polisi. Pastinya, bukan ditangkap Polisi, namun ditangkap massa, setelah digebuki, datanglah polisi, yang kemudian ‘menyelamatkanya’ mungkin kalau tidak dia sudah mati dipukuli atau bisa jadi dibakar hidup-hidup seperti beberapa pencopet yang tertangkap. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ditengah hidup yang semakin susah, bukan berarti Rusman tidak tergoda mencopet kembali, &lt;i style=""&gt;toh&lt;/i&gt; selama mencopet anak-anaknya juga tidak tahu, yang mereka tahu bapaknya kerja berdagang di kereta, termasuk tetangga-tetangganya, hanya istrinya yang tahu, karena pada perempuan itu dia tidak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kuasa untuk berbohong. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Berkali-kali Arman dan Boneng pun datang ke kontrakannya untuk meminta agar Rusman kembali bergabung, namun ia bersikeras menjalani hidup sebagai pemulung. Sebuah pekerjaan yang membuat dia bisa hidup tenang, walaupun kesulitan. Sebuah pekerjaan yang membuat istrinya selalu menyambutnya dengan raut muka senang, ketika dia pulang kelelahan. Sayang, pada akhirnya dia seperti tidak punya pilihan, jalan gelap yang dia pilih.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Rusman sendiri berpikir bahwa hanya untuk kali ini saja, dia turun kembali menjadi pencopet, hanya untuk membebaskan izajah anaknya. Hanya sekali saja. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebelum berangkat, Rusman sholat, ibadah pagi yang sering dia abaikan, lalu dia cium kening anaknya yang masih tertidur satu persatu, tak lupa dia cium juga perut istrinya yang makin buncit, tidak sepeti biasanya pula, kali ini dia menyembunyikan tujuan keberangkatannya. Sekali ini saja dia kuatkan berbohong pada istri yang dia lihat banyak menahan kesabaran hidup bersamanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Seperti dulu lagi,” kata istrinya ketika dia mau pamitan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Rusman hanya bisa menatap, lalu mengangguk pada perempuan yang menatap tidak setuju atas jalan yang dia pilih. Ingin sekali dia mendekapnya, meluapkan rasa bersalah, namun kaki lebih memilih untuk pergi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;*** &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“&lt;i style=""&gt;Hey&lt;/i&gt;, sudah lama menunggu,” kata Boneng dengan cirri khas giginya yang menonjol ke depan, terlihat juga Arman mengikuti dibelakangnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Waduh, sampai pegal-pegal kaki &lt;i style=""&gt;gua&lt;/i&gt;, kalian baru datang,” kata Rusman menyahut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Gara-gara tidak ada &lt;i style=""&gt;lu&lt;/i&gt;, rezeki kami menjadi sepi,” kata Arman, sambil menghembuskan asap rokoknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Kali ini pasti lancar,” kata Boneng, sambil menawarkan rokok pada Rusman.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setelah berbicara beberapa saat, tiga lelaki itu pun berjalan, mereka naik Kereta, yang biasa disebut dengan kereta kelas kambing, bisa jadi sebutan itu muncul karena manusia menumpuk dijejal berdesak-desakan, atau bisa jadi karena kereta itu terbiasa membawa penumpang termasuk juga kambing.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Baru dua bos, satu lagi kita turun,” kata Boneng berbisik, setelah hampir setengah jam mereka beraksi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kereta terus bergerak, penumpang terus berdesak-desakan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Copet-copet-copet,” kata salah seorang penumpang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Tolong,tolong, tolong, copet, itu dia, yang mengambil dompet saya, yang mengunakan kaos hitam,”kata salah seorang penumpang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Mana-kemana,” kata penumpang bersahutan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Tangkap, jangan sampai lolos,” kata salah seorang lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Copet, Copet, Copet,” teriak penumpang yang kini sudah berhamburan dari kereta yang berhenti tepat didepan stasiun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Jangan sampai lolos,” sahut yang lain lagi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Seketika, semua orang seperti timbul keberanian, untuk mengejar, memukul dan menghajar. Bak-buk-bak-buk, yang diiringi suara lirih mengaduh, selanjutnya bak-buk-bak, buk, hanya suara itu saja yang terdengar. Sementara Boneng dan Arman, hanya menatap dari kejauahan dengan tatapan mata penuh kengerian.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Copetnya mana?” kata salah seorang polisi yang datang kemudian.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“&lt;i style=""&gt;Sono&lt;/i&gt; Pak, sudah tidak bergerak lagi, mungkin sudah mati digebuki ramai-ramai,”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Kepalanya sampai pecah,” sahut yang lain dengan ucapan dingin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Minggir-minggir,”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Panggil ambulans. Dia sudah mati,” kata Polisi yang tadi bertanya pada temannya singkat, usai memeriksa Rusman yang sudah menjadi mayat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;Kemandoran, 28/3/08&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-4485557517558510617?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/4485557517558510617/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=4485557517558510617' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/4485557517558510617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/4485557517558510617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2008/09/biaya-perpisahan.html' title='Biaya Perpisahan'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-3435182989560778960</id><published>2008-09-16T02:22:00.000-07:00</published><updated>2008-09-16T02:29:11.112-07:00</updated><title type='text'>Menunggu</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Perempuan itu sudah terkantuk-kantuk, di depan hidangan malam yang dia persiapkan berjam-jam sebelumnya. Sayur, lauk pauk dan nasi sudah tidak lagi mengeluarkan asap; semuanya dingin. Suaminya yang ditunggu-tunggu belum juga datang, padahal, dia telah memasak makanan itu dengan segenap harapan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Jam yang menggantung di tembok di atas meja makan sudah berdentang sepuluh kali, ketika dia melihat handphone miliknya yang tergeletak persis di depan wajahnya, kosong; tidak ada pesan apapun. Dia masih menahan kantuk yang terus menyerang; kepalanya berkali-kali terkulai, walaupun begitu dia sudah bertekad untuk menunggu suaminya pulang dari kantor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Dulu, dia sudah bisa memperkirakan pukul berapa suaminya datang dan kalau pun terlambat, karena terjebak macet atau ada urusan di tempat kerja yang harus diselesaikan, biasanya akan mengirim kabar dengan beribu permohonan maaf yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dikirimkan lewat pesan sms sambil memastikan pukul berapa dia datang, dan itu juga tidak akan berjam-jam dari kebiasaan mereka makan malam pukul 19.00.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Biasanya, sebelum makan suaminya akan cuci tangan terlebih dahulu, membuka pakaian kerjanya, dengan menggunakan sarung dan kaos oblong, dengan penuh semangat suaminya akan menyantap hidangan yang tersedia. Ketika melihat suaminya makan seperti itu, Nik merasa sebagai perempuan yang sangat beruntung, dikirimi laki-laki yang dianggapnya berhati malaikat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;“Tidak salah memang Tuhan mengirimkan perempuan untukku, sudah cantik, pintar masak, perhatian dan ….”begitu puji suaminya, sebelum doa makan mau dipanjatkan sambil mencicipi hidangan yang tersedia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;“Bagaimana mas dengan sayurnya,” kata Nik, ketika suatu ketika.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;“&lt;i style=""&gt;Maknyus&lt;/i&gt;, tapi rasanya kok kurang garam, yah,” kata suaminya sambil memperlihatkan jempol dua tangannya sambil tersenyum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;“Maaf, maaf,” kata Nik merasa bersalah sambil tersenyum simpul, karena ternyata dia lupa memasukan garam ke dalam sayur, tapi suaminya saat itu masih sempat memujinya. Kalau beberapa hari yang lalu, bisa-bisa mangkok sayur melayang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Usai makan malam, biasanya mereka pun berbagi peran, kalau Nik yang membersihkan piring-piring yang kotor, laki-laki yang bekerja di sebuah perusahaan pengembang perumahan itu, akan membereskan sisa-sisa hidangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Setelah itu, bila Nik masih belum selesai mencuci piring Sah akan membuatkan minuman untuk mereka berdua, Nik biasanya dibuatkan kopi susu, sementara suaminya teh manis karena Sah memang tidak suka kopi alasanya suka mual-mual bila minum kopi, entah apa penyebabnya pokoknya begitu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Nik, sendiri memang sangat suka minum kopi dicampur susu, kebiasaan minum itu sudah dilakukannya ketika Nik kecil saat mau berangkat sekolah, Kopi susu itu dibuatkan oleh ibunya, katanya kopi agar tidak mengantuk sementara susu agar Nik sehat, sekarang setelah berumah tangga Nik masih suka minum kopi susu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Lima tahun yang lalu, kebahagian itu begitu membuncah untuk Nik. Menginjak tahun keenam pernikahan, semuanya perlahan tapi pasti berubah. Sah kini berbeda dengan Sah yang dikenalnya, pujian, pelukan, ciuman sudah tidak ada lagi. Kini sudah beberapa hari suaminya tidak lagi menyentuh makanan yang dia hidangkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Sejumlah alasan dikemukakan bahwa dia sudah makan malam di kantor, dan ketika beberapa hari yang lalu Nik memintanya hanya sekedar untuk mencicipinya, dengan sewot laki-laki itu dengan mata memerah malah marah-marah dan balik bertanya mengapa harus selalu makan malam di rumah, apa ada yang salah dengan makan malam di luar, sebuah pertanyaan yang membuat hati Nik, terkoyak-koyak, ingin rasanya menumpahkan segalanya termasuk hidangan yang sudah tersaji di meja makan, Nik merasa tidak dihargai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Saat hatinya terluka, Nik selalu ingat dengan cerita priodesasi pernikahan, tahun kelima pernikahan katanya masa penyesuaian, masa-masa sulit dalam usai pernikahan, tapi lima tahun pertama telah mereka lewati, mungkinkan ini adalah lima tahun yang kedua. Walaupun sudah lima tahun usia pernikan Nik dan Sah, namun mereka belum jua di karunia seorang anak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;“Sabar sayang, mungkin Tuhan belum mengirimkan seseorang untuk kita rawat dan besarkan,” begitu kata suaminya, menyabarkan dirinya ketika dia bercerita pada suaminya tentang keinginannya untuk cepat-cepat mempunyai momongan, tapi saat itu usia pernikahan mereka belum genap lima tahun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Tapi akhir-akhir ini, suaminya malam menuduh macam-macam; dirinya mandul, kurang subur, dan kata-kata yang sangat menyakitkan bagi perempuan manapun termasuk dirinya. Mereka berdua sebenarnya sudah memeriksakan perosalan itu ke dokter, kata dokter semuanya normal-normal saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;“Mungkin tinggal menunggu waktu saja, berusaha dan bersabar saja,” kata dokter saat itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Ketika Nik bertanya, dengan siapa Sah makan malam, apakah dengan perempuan yang sering menelpon suaminya akhir-akhir ini? Suaminya malah marah-marah dan menamparnya; lima telapak jari menempel merah di pipinya, pedih tapi lebih pedih lagi hatinya yang sangat terluka. Saat itu, Nik sudah berpikir, bahwa dia akan kehilangan Sah, dan pernikahan yang mereka bangun tidak akan bisa lagi dia pertahankan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Sebagai istri, Nik sendiri merasa wajar cemburu terhadap perempuan yang sering menelpon suaminya, lebih-lebih perempuan itu adalah mantan pacar suaminya, sebelum nik dan Sah menikah. Seakan-akan perempuan itu mengejek dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;“Suamimu kembali mengejar-ngejar aku, karena kau bukan untuknya,” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Nik dan Sah sendiri memutuskan untuk menikah setelah beberapa bulan saja berkenalan, yang Nik ketahui suaminya waktu itu baru saja putus dengan Nis, perempuan yang sekarang sering mengontak atau dikontak oleh suaminya tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Mungkinkah cinta lama suaminya bersemi kembali? Tapi, mengapa datang pada saat rumah mereka sedang dilanda prahara atau memang perempuan itu penyebabnya. Walaupun begitu, Nik tidak ingin pernikahannya berakhir begitu saja, dia masih tetap ingin mempertahankan rumah tangga yang telah mereka bangun, setidaknya dia masih mempersiapkan hidangan malam untuk menyambut suaminya pulang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Sambil menunggu Nik pun berpikir, dia tidak akan merasa bersalah kalau suaminya memutuskan akan pergi setelah makan malam bersama, karena dia telah mengeluarkan kemampuannya, memasak makanan yang paling disukai suaminya kepala kakap, sayur asam, sambel terasi, dan lalab jengkol. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Dia masih berharap, setelah makan malam ketegangan antara mereka mencair. Begitu pula yang dilakukan oleh ibunya ketika sedang berselisih paham dengan Bapaknya. Ibunya akan menyajikan pepes ikan dan sambel terasi, makanan kesukaan bapaknya itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Biasanya, kemarahan bapaknya seakan ditumpahkan pada makanan, setelah usai ketegangan pun mencair dan mereka pun berbicara kembali, setelah beberapa hari saling diam, tidak bertegur sapa. Begitu juga harapan Nik saat ini pada suaminya. Tapi, mungkin antara ibu dan ayah serta Nik dan Sah berbeda, konplik mereka tidak bisa diselesaikan sekedar di meja makan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Ketika Nik sudah tidak tahan lagi menahan kantuk, kepalanya sudah terkulai di meja makan, seorang laki-laki&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;datang menemuinya, membelai rambutnya, lalu membangunkan dengan cara yang sangat perlahan tapi begitu lembut, untuk mengajaknya makan, persis seperti yang dilakukan oleh Sah, dulu ketika kemesraan itu menjadi bagian rumah tangga mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Tapi, dia bukan suaminya, dia Bud laki-laki yang pernah menjalin cinta dengannnya, saat dirinya belum memutuskan untuk menikah dengan Sah. Nik sendiri meninggalkan Bud karena laki-laki itu terus mengulur-ngulur waktu untuk menikah, tanpa kepastian, padahal ketika itu usia Nik sudah hampir menginjak usia 30 tahun, dan mereka sudah sedang menjalin cinta selama lima tahun lamanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Nik dan Sah sendiri memutuskan untuk menikah dengan proses pacaran yang dinilai singkat, hanya beberapa bulan saja, Banyak orang pun berkata bahwa pernikahan mereka terburu-buru, tapi bukankah mereka telah melewati masa-masa pernikahan selama lima tahun lamanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Ketika merasa Bud datang saat itu, perasaan bahagia menyeliputi hati Nik, dia pun beranjak mau mengambil nasi untuk Bud, tapi Laki-laki yang hadir tanpa diundang itu Lebih dahulu mengambil nasi, dan menyerahkannya padanya. Bud seperti masih ingat, seberapa banyak nasi yang biasanya dimakan oleh Nik, persis seperti ketika mereka pacaran dulu. Setelah itu, laki-laki yang kelihatan tidak berubah; Badannya tetap kurus, rambut yang tak terurus, masih tetap memakai kaos hitam, dengan senyuman yang mengembang pun mengambil nasi untuk dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;“Sayurnya sangat enak, memang semua kalau Nik yang masak akan terasa sangat enak,” kata memuji, membuat Nik semakin melayang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Ketika Nik semakin larut, lonceng berbunyi dua belas kali, Nik pun kaget, ternyata Bud hanya hayalan dirinya, sementara suaminya belum juga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pulang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;“Tidak-tidak, aku tidak boleh memikirkan Bud,” katanya. Walaupun begitu, bayangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bud terus menari-nari dalam pemikirannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Bud sendiri yang diketahui oleh Nik, sekarang memilih hidup di pulau Kalimantan, bekerja sebagai tenaga ahli di perusahaan pertambangan asing. Umur Bud sekarang, sudah 38 tahun, karena berbeda 3 tahun dengan dirinya, namun yang Nik tahu dia masih tetap melajang seperti menepati kata-katanya, bahwa dia tidak akan menikah seandainya tidak menikah dengan Nik. Semakin lama, bayangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bud semakin kabur. Nik mencoba berpikir realistis, Bud adalah masa lalu dan dia sudah menjadi istri Sah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Malam itu, Nik berjanji, akan tetap menunggu suaminya di meja makan, walaupun nasi dan lauk pauk semakin dingin, sampai persoalan mencair atau semuanya berakhir. Kalau semuanya harus berakhir tentu bukan karena bayangan Bud yang kembali hadir. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Lonceng kembali berbunyi dua kali, namun malam belum berakhir dan Nik masih mencoba untuk setia; menunggu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-3435182989560778960?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/3435182989560778960/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=3435182989560778960' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/3435182989560778960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/3435182989560778960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2008/09/menunggu.html' title='Menunggu'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-5696063003041608576</id><published>2008-09-16T02:19:00.000-07:00</published><updated>2008-09-16T02:20:13.919-07:00</updated><title type='text'>Langkah Terakhir</title><content type='html'>&lt;span style=""&gt;Suara adzan subuh sudah terdengar beberapa saat yang lalu, orang-orang sudah banyak yang berlalu lalang, kegelapan malam pun akan segera berakhir. Langkah kaki laki-laki itu semakin bergegas, sambil menahan kantuk yang terus menyerang, tinggal satu belokan lagi, dia akan sampai ke kamar kontrakannya. Sementara itu, sejumlah laki-laki yang mengintai sejak tengah malam, mulai tidak sabar menunggunya, berbatang-batang rokok telah mereka habiskan untuk mengusir kejenuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Laki-laki berbadan kurus yang bergegas itu bernama Barsan, beberapa hari yang lalu sudah menyusun rencana, mengemas barang lalu pulang kampung menjalani laku lampah hidup sebagai manusia baik-baik seperti pandangan yang dianut masyarakat. Dia sudah bertekad untuk mengakhiri aksinya di dunia hitam yang membuat dirinya merasa kotor, sebagai pemetik motor. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Bertahun-tahun dia menjalani profesi itu, selama itu pula laki-laki berkulit hitam itu merasa maut menyambar-nyambar, lebih-lebih bila sudah terdengar teriakan sejumlah orang, sambil mengacungkan golok, parang, bambu, dan sejumlah peralatan lain berteriak-teriak, “Maling, maling, tangkap.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Walaupun begitu, malaikat maut sepertinya masih memberinya kesempatan untuk hidup, saat itu. Dia sempat tertangkap; wajahnya bengap-bengap, namun saat badan basah kuyup karena sudah disiram bensin dia masih bisa meloloskan diri, dengan cara mengamuk membabi buta, lalu lari, massa mengejarnya dan pada satu kesempatan dia pun meloncat pada kubangan air yang berwarna hitam pekat, disanalah dia menyemunyikan diri sampai malam berikutnya, sampai badannya gatal-gatal dan bentol-bentol. Terkepung, dan kadang tertangkap bukan untuk pertamakalinya, beruntung saja dia masih bisa meloloskan diri, tidak seperti halnya Badri temannya, mati dibakar massa, setahun yang lalu saat mereka mau melarikanketika beraksi di kompleks perumahan yang berada di pinggiran Jakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Mulanya, hanya pembantu rumah yang terbangun, dan ketika melihat ada seseorang yang tak dikenal mau membawa motor majikannya, perempuan yang sepertinya berasal dari kampung juga itu pun berteriak-teriak, teriakan itu mengundang sejumlah hansip, membangunkan sejumlah orang yang sedang tertidur. Tahu-tahu semuanya sudah mengepung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Barsan yang sedang menunggu di atas motor pun serba salah, menunggu Badri atau melarikan diri, tidak ada pilihan lain kecuali memacu sepeda motornya, mengikuti jejak Rahmat dan Garuk yang terlebih dahulu memacu sepeda motornya terlebih dahulu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Besoknya, dia pun hanya mendapat kabar bahwa Badri sudah mati dibakar. Rasa penyesalan pun terasa mendalam, meninggalkan teman yang mati kemudian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Nyawa yang sudah diambil tentu tidak bisa diminta kembali, walaupun isak tangis dihamburkan ke langit. Hanya yang bisa dia lakukan mengabari keluarga Badri bahwa laki-laki yang sudah dianggapnya sebagai adiknya tersebut mendapat kecelakaan ketika sedang bekerja, dan mayatnya sekarang tersimpan di kamar mayat RSCM Jakarta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sayang, walau sudah ditutup-tutupi, sudah dirahasiakan jalan kematiannya, orang tua Badri akhirnya mengetahui jua penyebab kematian anaknya yang dikenal santun dan baik di mata mereka, tidak pernah terlibat kasus kriminal di kampung halamannya tersebut. Tapi, mereka tetap mengambil mayat dan menguburkan seperti layak dan adat istiadat mengurus kematian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kematian teman, saat itu ternyata tidak cukup untuk segera membuat dirinya tersadarkan, dia memang merasa takut dengan mengumpet di rumah istrinya. Tapi, setelah berbulan-bulan kemudian, dia pun kembali menjalankan aksinya kembali, dengan alasan dia dan istrinya harus makan, dan tidak ada pilihan lain walaupun mungkin banyak yang menilai, masa harus kembali ke jalan yang tidak benar. Walau mereka yang menilai seperti itu, hanya bisa menatapnya curiga dan menutup rumah rapat-rapat takut dijadian sasaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;“Aku memang bandit, tapi tidak akan melakukan di kampung sendiri,” begitu kata hatinya, ketika melihat tetangga di kampung mencurigainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Seperti orang yang bisa dianggap terjerumus ke dunia maling pada umumnya, Barsan juga tidak pernah bercita-cita menjadi maling, lebih-lebih maling motor. Waktu kecil anak yatim piatu itu malah sempat bercita-cita menjadi kiai, sebuah cita-cita yang sanga mulia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sayang setelah bertahun-tahun di pondok pesantren, akhirnya harus kandas di tengah jalan, neneknya semakin tua, tidak sanggup lagi bekerja yang artinya tidak bisa lagi menyisihkan uang untuk membiayai hidupnya di pondok, apalagi membeli kitab. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Di kampung dia sebenarnya bukan tipe pemuda yang cukup puas hanya berdiam diri saja, dia biasa bekerja di sawah, di kebun atau dimana saja, namun dia merasa pekerjaannya tidak jelas dengan penghasilan yang tidak memadai. Berbondong-bondong pemuda di kampungnya pun pergi ke Jakarta, kebanyakan pulang setahun sekali kala lebaran tiba, datang dengan pakaian dan gaya seperti orang yang senang bekerja, begitulah asal mula Barsan tertarik datang ke Jakarta, nyatanya ibu kota tidak seindah yang dia bayangkan dan dia pun terjerembab pada lakon yang salah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Saat berangkat angan pun melambung, dia kadung bermimpi bisa mendapatkan pekerjaan dan menghasilkan uang, bukan untuk dirinya saja juga buat nenek yang mengasuh dan membesarkannya karena kedua orangtuanya sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu semenjak dia kecil, ibunya mati ketika melahirkan dia, menyusul bapaknya yang mati oleh petir ketika sedang mencangkul di sawah. Dia hanya tahu keduanya dari potret pernikahan kedua orang tuanya yang menempel di dinding bilik rumah neneknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dia juga mempunyai angan bisa secepatnya menikahi Marni, gadis beda kampung yang telah dipacarinya sebulan sebelum pertama kali dia memutuskan berangkat ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, atau kini keduanya telah menjadi suami-istri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ketika datang ke Jakarta, dia pun mencari pekerjaan kesana kemari, sayang dia datang tanpa keahlian dan keterampilan yang memadai untuk bertarung, izajahnya hanya sampai tingkat SMP, keahliannya hanya bisa mencangkul dan mengangkat barang, dia pun hanya menjadi bagian kecil dari orang-orang yang tersisih dari gemerlapnya Jakarta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sampai kemudian, ketika setengah kalut karena bekal yang dibawanya sudah sangat menipis, kalau tidak mau disebut sudah habis, dia menghubungi Badri, Garuk dan Rahmat, tiga orang temannya sama-sama dari kampung yang kemudian memperkenalkannya pada pekerjaan seperti itu. Mulanya dia terkaget-kaget, ternyata temannya maling. Walaupun begitu dia akhirnya terseret-seret ikut melakoninya. Padahal neneknya sudah berpesan agar diperantauan dia mencari rizki yang benar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;“Jangan tinggalkan sholat juga puasa senin kamis agar hidup menjadi berkah, jangan pernah mencoba-coba madat apalagi maling,” begitu pesan perempuan yang sudah meninggal setelah beberapa bulan dia di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Jalan pertobatan itu akhirnya datang jua walaupun bisa dikatakan terlambat, ketika dia pulang kampung, saat Istrinya sudah mengandung anak pertama buah cinta mereka. Saat dia meraba perut istrinya yang semakin buncit itu dia merasakan anak dalam kandungan itu menggeliat-geliat, betapa senang dan bahagianya dia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dia sudah membayangkan, bila kelak anak itu lahir, akan dibesarkannya dengan segenap kasih sayang, dan tentu jangan sampai menjadi bandit motor seperti dirinya. Dia ingin anaknya menjadi orang-orang baik-baik saja. Ketika dia mencium perut istrinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;“Siapa yang nanti menjaganya kalau kau mati mas,” kata Marni, setengah berbisik, pada daun telingannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sejak itu, ketakutan pun menyertainya, dia tidak ingin anaknya sama dengan dirinya, tidak melihat ayah kandunganya sendiri. Dia juga tidak ingin perempuan yang menemaninya dengan segenap cinta, harus sendirian membesarkan anak mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sebenarnya, laki-laki yang mempunyai tato &lt;i style=""&gt;naga yang sedang memakan lambang cinta&lt;/i&gt; di lengan kanan sebagai bukti cintanya pada Marni, sudah bertekad akan berhenti saat itu juga, namun dia teringat bahwa mereka membutuhkan sejumlah uang untuk persalinan. Marni pun tidak bisa mencegah, walaupun sudah berkali-kali memelas, agar dia mencari jalan lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;“Tidak ada jalan lain, hanya sekali lagi sayang,” katanya, pada Marni.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Maka berangkatkan Barsan kembali ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, dengan mencium mesra kepala istrinya. Lalu memeluknya dengan sangat berat, tidak seperti biasanya yang cukup dengan pelukan di malam hari. Mungkin sebagai pertanda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Setelah jatah hasil pencurian dua malam yang lalu sudah dibagi-bagikan. Barsan pun berpamitan pada Rahmat dan Garuk, undur dari dunia yang telah mereka lakoni. Barsan pun berpikir, jatah terakhir itu, cukup untuk ongkos dan persiapan istri melahirkan karena pembagian jatah malah terakhir, tidak disertai dengan minuman serta dekapan perempuan malam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tinggal satu belokan lagi, saat menahan kantuk yang mencoba menyerangnya, saat semakin dekat saja bayangan Marni, saat dia sudah menekadkan diri tidak akan berpaling dengan gelapnya langkah yang dia jalani. Tentu orang-orang yang tengah menunggunya itu tidak tahu. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara teriakan. “Diam di tempat,” disusul oleh suara &lt;i style=""&gt;dor&lt;/i&gt; suara pistol yang ditujukan ke arah langit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kantuk pun hilang, berganti ketakutan. Sayang bukannya angkat tangan, dia malah menyusun kekuatan mencoba meloloskan diri, dengan lari sekencang-kencangnya, &lt;i style=""&gt;dor-dor-dor&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Satu kali anginnya berhembus dekat sekali dengan kakinya. Kedua menghembus dekat sekali dengan daun telinganya. Ketiga entah dimana, dia masih lolos, namun ketika suara tempakan keempat, terasa benda panas di salah satu tempat bagian tubuh belakangnya, disusul suara dan peluru lain, darah manis pun muncrat lalu meleleh, badannya terhuyung, mata nanar; dia pun jatuh, tersungkur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Pondok Gede, 21/06/08&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-5696063003041608576?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/5696063003041608576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=5696063003041608576' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/5696063003041608576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/5696063003041608576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2008/09/langkah-terakhir.html' title='Langkah Terakhir'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-4883162699756509110</id><published>2008-09-16T02:16:00.000-07:00</published><updated>2008-09-16T02:17:11.428-07:00</updated><title type='text'>Ibu</title><content type='html'>Waktu kecil aku menganggap bahwa kami adalah kakak beradik  satu ayah dengan rahim seorang perempuan yang biasa kami panggil ibu, namun sejak kecil aku merasa mendapat perlakuan beda. Ibu selalu memberi pujian pada adik yang mempunyai selisih beberapa bulan saja denganku, sementara aku lebih banyak menerima makian.&lt;br /&gt;Ibu pun sering memanggilku  dengan panggilan yang tidak aku sukai, hideung. Aku memang berkulit hitam, berambut keriting, tapi tidak senang dipanggil seperti itu. Sementara adikku berkulit putih, berambut lurus persis seperti ibu, dan biasa dipanggil kasep.&lt;br /&gt;Aku memang tidak mirip dengan ibu, kecuali dengan ayah. Sementara adik mirip dengan ibu maupun ayah. Selain itu, kalau ibu mengunjungi keluarga besarnya yang terletak di kampung sana, aku tidak pernah diajak, aku juga tidak diperkenalkan secara khusus seperti adik kalau mereka datang ke rumah.&lt;br /&gt;Kalau aku kelihatan makan banyak, ibu selalu mengingatkan dengan sinis jangan rakus, sementara untuk adik selalu bertanya, apakah ikan, sayur dan nasinya mau ditambah lagi. Selesai makan, aku mempunyai tugas mencuci piring sampai pakaian, kalau tugas itu tidak dijalankan lebih-lebih karena aku langsung bermain-main di luar, maka aku harus siap-siap mendengar ceramah ibu yang biasanya diakhiri dengan pernyataan dasar anak tidak tahu diri.&lt;br /&gt;Sementara adikku, usai makan bisa langsung bermain, belajar atau nonton tv. Saat nonton tv aku juga harus mengalah, sesuai dengan acara yang diminati oleh adik, padahal aku suka nonton film laga, adik sinetron.&lt;br /&gt;Kalau aku dan adik bertengkar, walau dia yang salah. Walau dia yang memulai. Tetap saja adik yang dibela dan aku yang dimarahi, dengan kata-kata sudah selayaknya sebagai kakak aku mengalah. Bukan hanya itu, kalau aku melakukan kesalahan, hampir sudah bisa dipastikan dua daun telingaku pun pasti dibuatnya merah. Sakit rasanya ketika dia menjewer. Sangat terasa perlakuan ibu pada kami.&lt;br /&gt;Sementara ayah, banyak tidak melihat perlakuan ibu padaku karena sibuk bekerja di pabrik, saat melihat pun dia tidak bisa berbuat apa-apa, dari raut wajahnya aku hanya melihat dia serba salah. Aku pikir dia memang takut pada ibu. Seingatku, hanya sekali-kali saja ayah membelaku. Sekali ketika ibu mengatakan aku anak haram, ayah marah besar. Semenjak itu, ibu tidak pernah mengatakannya lagi kata-kata yang membuatku bertanya-tanya, anak haram!&lt;br /&gt;Di sekolah, sebenarnya aku masuk terlebih dahulu setahun. Tapi, waktu kelas tiga aku tidak naik kelas. Sehingga adik dan aku satu tingkat. Prestasi kami pun semakin dibanding-bandingkan, belum oleh teman-teman yang mempertanyakan mengapa kami berbeda rupa serta kepintaran.&lt;br /&gt;Harus aku akui, adikku memang pintar, kalau tidak rangking satu, rangking dua atau rangking tiga. Dia memang pernah terlempar dari tiga besar. Tapi waktu itu dia sakit keras selama satu bulan, walaupun begitu dia tetap masuk sepuluh besar. &lt;br /&gt;Sementara aku, paling jago masuk rangking tiga puluh besar dari empat puluh siswa. Beberapa kali aku mendengar hampir setiap kenaikan kelas aku sebenarnya tidak layak naik kelas.&lt;br /&gt;“Hanya kasihan pihak sekolah saja, masa adik kelasnya lebih tinggi dari kakak,” kata ibu dengan sinis, bukannya membangkitkan motivasiku.&lt;br /&gt;Sampai kemudian, lulus SMA adik mendapatkan PMDK, aku harus menerima kenyataan tidak lolos UMPTN. Ayah menyarankan agar aku kuliah tingkat diploma saja, sehingga cepat lulus dan bisa langsung kerja. Tapi, ibu tidak setuju, dia mengatakan mustahil bisa membiayai kami berdua secara berbarengan, lebih-lebih aku kuliah di swasta walau diploma, karena ayah hanya bekerja sebagai buruh, sementara ibu rumah tangga biasa. Saat itu, seperti ketika aku dikatakan anak haram, aku melihat ayah membelaku, aku harus tetap kuliah. Kali ini, ujungnya mereka bertengkar. Sementara aku hanya bisa mendengar dari dalam kamar.&lt;br /&gt;Tidak kusangka pertengkaran itu, meluas dan menyebabkan terbongkarnya kecurigaanku yang semakin menumpuk selama ini. Bahwa aku memang anak ayah, namun bukan anak ibu, tapi ibuku perempuan lain yang statusnya saat itu pacar ayah yang hamil ketika ayah dan ibu baru saja menikah beberapa bulan.&lt;br /&gt;Setelah mengetahui latar belakang diriku, aku sedikit mengerti kesinisan perempuan yang tetap aku panggil ibu, walaupun tentu tidak bisa membenarkannya, karena aku tidak pernah meminta dari rahim siapa aku lahir. Mungkin, kalau pun ada yang salah terletak pada ayah, bukan aku.&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, aku pun bertanya pada ayah tentang siapa dan dimana ibu yang melahirkanku berada, aku akan menyusul. Ayah menjawab ibuku sudah pergi entah kemana meninggalkan aku di rumah sakit. Ayah juga mengaku tidak tahu banyak tentang ibu, dia mengaku hanya berkenalan singkat. Hanya dia tahu ibu berasal dari sebuah kota nun jauh di timur sana.&lt;br /&gt;“Berapa ongkos kesana,” tanyaku, suatu ketika.&lt;br /&gt;“Banyak,” jawab ayah singkat, seperti tidak suka.&lt;br /&gt;Semenjak itu saran ayah agar aku kuliah setingkat diploma, aku buang jauh-jauh. Aku sibuk kesana kemari melamar kerja, tidak mengenal hujan tidak mengenal panas. Hasilnya, setelah beratus-ratus kali ditolak, aku mendapatkan pekerjaan sebagai buruh di pabrik. Sebulan kemudian aku tinggalkan rumah dengan sumpah serapah perempuan yang membesarkanku dengan kata-kata sebagai anak tidak bisa membalas budi. Aku sudah tidak memperdulikan lagi, ayah hanya bisa menatapku ketika aku pamitan.&lt;br /&gt;Salah besar sebenarnya kalau aku meninggalkan rumah karena ingin hidup enak menikmati gajiku sebagai buruh. Sebagai buruh aku hanya mampu mengontrak kamar dengan luas 2x3 meter, sumpek dan pengap, ditambah dengan banyaknya dijumpai tikus yang berlarian kesana kemari, makan pun harus diatur sedemikian rupa kalau tidak mau hutang menumpuk-numpuk. Tak heran bila uang sebanyak yang ayah katakan untuk mencari ibu, belum jua bisa aku kumpulkan.&lt;br /&gt;Setelah berbulan-bulan datanglah ayah menengok. Disusul, kunjungan kedua, ketiga dan seterusnya sampi kemudian aku hanya ingat ayah hampir setiap bulan datang. Setiap datang dia bercerita tentang adik dan istrinya yang sudah biasa aku panggil ibu itu.&lt;br /&gt;Kehidupannya semakin repot karena kemudian ayah di PHK oleh pabrik tempatnya bekerja bertahun-tahun, beruntung lanjut cerita ayah, adik mendapat beasiswa dan hanya perlu dikirimi uang separuh dari kebutuhannya saja.&lt;br /&gt;Aku kasihan pada ayah, yang terpaksa bekerja serabutan tak menentu, kadang mengojek, kadang disuruh-suruh oleh tetangga. Setiap kali datang tak lupa aku belikan rokok dan sejumlah uang. Lama-lama aku pun mau datang kembali ke rumah, terutama sejak ayah mulai sakit-sakitan. Tentu saja tidak dengan tangan kosong, ada saja yang aku bawa, beras, mie, atau ikan asin. Ibu masih sinis. &lt;br /&gt;Adikku kemudian lulus kuliah. Tak sampai berbulan-bulan, dia mendapat kerja di sebuah Bank. Ibu terlihat bangga pada anaknya tersebut, lebih-lebih ketika setiap bulan adik selalu mengiriminya uang, berlipat-lipat dari uang yang biasa aku berikan pada ayah.&lt;br /&gt;Kebanggaan ibu semakin melambung, setahun setelah bekerja adikku memilih perempuan yang menurut dia dan juga menurutku sangat cantik; kulit putih, hidung mancung, tinggi, kurus seperti model-model yang sering aku lihat di majalah-majalah, sebagai istrinya. aku yang menganggap hubunganku dengan dia tidak terlalu baik, tetap perasaan bangga menjalar juga.&lt;br /&gt;Aku pun meminta izin libur pada perusahaan tiga hari lamanya. Membantu persiapan pernikahan seperti menyebarkan undangan, menghubungi keluarga terutama keluarga ayah, sampai mengangkat sejumlah barang dan ikut sibuk dalam upacara pernikahan, yang diselenggarakan di gedung dengan sewa yang cukup lumayan. Walaupun saat itu aku melihat ibu masih memandangku tak senang.&lt;br /&gt;Setelah menikah, adikku tinggal di sebuah perumahan yang tergolong elit, di Tangerang. Sementara aku tetap saja hanya mampu mengontrak sebuah kamar. Setelah itu, menurut cerita ayah berkat kecemerlangan dan kepintaran adiku, karirnya semakin menanjak kemudian dia sudah menduduki jabatan sebagai kepala cabang.&lt;br /&gt;Walau aku sadar hubungan kami tidak begitu akrab sebagai kakak dan adik, aku berharap dengan keberuntungannya. Suatu ketika aku pun datang padanya, itu juga berkat saran ayah, minta tolong untuk bisa bekerja di bank yang dia pimipin. Dia menjawab tidak ada lowongan. Lebih-lebih izajahku hanya tingkat SMA.&lt;br /&gt;Waktu aku datang kembali ke rumahnya, aku ceritakan bahwa aku bukan anak ibu, adik sepertinya sudah tahu. Tapi, saat aku sampaikan cerita ingin mencari ibu yang melahirkanku dan  membutuhkan sejumlah tambahan uang, dia mengatakan tidak punya. Beberapa hari kemudian, dia membeli mobil baru, bukan kredit, padahal dia sudah punya mobil kantor, katanya untuk istrinya. Sejak itu, aku sudah bertekad untuk tidak lagi datang ke rumahnya.&lt;br /&gt;Sampai kemudian, aku mendapat kabar istrinya mengandung. Ibu pun lebih banyak tidur di rumah anak kebangganya tersebut. Ketika kandungan istrinya semakin besar, ayah datang dengan kabar yang sangat mengejutkan, adik dituduh menggelapkan uang perusahaan. Aku setengah tidak percaya, tapi aku tidak tahu pasti bagaimana seseorang bisa dituduh korupsi.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian dia ditahan, berkali-kali persidangan pun digelar, sampai pengadilan memutuskan bahwa adikku bersalah dan harus menjalani masa hukuman. Saat-saat seperti itu aku tetap merasa bahwa dia adalah adikku. Setiap jalannya sidang aku hadir, aku papah istrinya yang untuk berdiri saja sepertinya tidak mampu, berkali-kali dia pingsan.&lt;br /&gt;Aku juga bukan hanya menunggui proses melahirkan. Tabungan yang aku kumpulkan untuk mencari ibuku pun habis untuk membantu biaya proses persalinan istrinya, karena adik sudah tidak lagi mempunyai simpanan; habis untuk bayar pengacara, denda. Mobil kantor dan pribadi pun disita. Hanya rumah yang tersisa.&lt;br /&gt;Ketika aku membesuk adik bersama ibu di penjara sambil mengabarkan, istrinya telah melahirkan bayi perempuan dengan selamat, anaknya cantik seperti ibunya dan ganteng seperti dirinya, dia pun memelukku, dengan deraian air mata serta beribu-ribu ucapan terimakasih sambil meminta maukah aku menjaga istrinya, yang dijawab olehku dengan anggukan kepala.&lt;br /&gt;Saat itu, aku merasakan dia memang benar-benar adikku, walau kami berbeda ibu, berbeda perlakuan, dan sejumlah hal seperti aku ceritakan. Ketika aku melihat Ibu, dia berkaca-kaca dengan tatapan lembut persis seperti yang biasa dia perlihatkan pada anaknya. Aku peluk dengan cinta pada ibu yang membesarkan dengan kerinduan pada ibu yang melahirkan.  &lt;br /&gt;Pondok Gede/20/06/08&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-4883162699756509110?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/4883162699756509110/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=4883162699756509110' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/4883162699756509110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/4883162699756509110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2008/09/ibu.html' title='Ibu'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-2773507859327615170</id><published>2008-09-16T02:09:00.001-07:00</published><updated>2008-09-16T02:09:57.535-07:00</updated><title type='text'>Sekali lagi Tentang Pemuda (Banten)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saat itu, Sultan Abdulfatah Agung (1651-1683) Raja Banten yang terhebat, yang berusaha memodernkan negaranya dan menjadikannya pusat kegiatan muslim di seluruh &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Ketika kekuasaan Sultan hampir menyentuh Batavia, mengusir Belanda yang saat itu baru beralih kekuasaan dari Gubernur Jenderal Van Goens ke Coernelis Speelman, apa yang terjadi kemudian, Putranya yang bernama Pangeran Haji yang semula diharapkan akan meneruskan jejak perjuangan ayahnya, tidak sabar untuk segera duduk di singgasana kekusaaan, berkomplot dengan Gubernur Jenderal Coernelis Speelman, pasukan Abdulfatah pun tidak kuasa menahan gempuran Belanda, kocar kacir.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sultan Tua pun ditawan digantikan oleh Pangeran Haji, tanpa kekuasaan penuh alias dibawah pengawasan Kompeni. Hancurnya Banten pun menjadi titik awal kekuasaan Belanda di Tanah Jawa. Tidak ada lagi ancaman bagi Belanda yang bermarkas di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Batavia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, baik dari Timur maupun Barat, karena selang beberapa tahun ke belakang, Mataram sudah dikuasai oleh Belanda&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Cerita kejayaan Banten pun berangsur-angsur surut, gara-gara tidak sabarnya Sultan Muda, untuk segera menduduki jabatannya. Cerita itu, turun temurun menjadi ‘dongeng’ di kala menjelang tidur, dan saya baca kemudian di buku-buku sejarah, untuk dijadikan teladan anak-anak muda harus sabar, ketika ingin meraih sesuatu, tak terkecuali dengan kekuasaan. Belajar dulu pada yang tua, lalu setelah matang melanjutkan kepemimpinan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Perkara belajar dan tunggu waktunya, nenek dan kakek barangkali benar untuk konteks pada jaman Sultan Abdulfatah, tapi kenyataannya sekarang berbeda. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setelah Banten berpisah dari Jawa Barat delapan tahun yang lalu, apa yang terjadi kemudian; penganguran -Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengangguran terbuka mencapai 601.800-an- artinya masih banyak penduduk Banten yang hidup luntang lantung tidak mempunyai pekerjaan, kemiskinan yang masih cukup tinggi dan tidak ada penurunan yang cukup berarti, belum kalau berbicara masalah banyaknya kasus korupsi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Banten tidak sedang dipuncak jaya, kalau tidak disuntikan darah segar untuk merubah keadaan, bisa jadi Provinsi yang sedang giat-giatnya mengembalikan kejayaannya persis seperti jaman Abdulfatah ini, akan semakin terpuruk. Terpuruk, kalau tidak mau disebut sebagai provinsi yang bangkrut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Darah segar itu, tidak lain adalah para pemuda yang belum begitu terkontaminasi oleh kekuasaan yang korup. Salah satu jalur memasukan darah muda, lewat Pemilu. Tak berlebihan bila kita mengapreasisasi ramai-ramainya pemuda untuk mencalonkan diri menjadi calon anggota legislatif. Walau terkesan terburu-buru, tapi tidak mengapa karena orangtua yang saat ini memegang tampuk kekuasaan, kebanyakan bukan mewarisi darah Sultan Abdulfatah, mereka banyak terlilit dan terindikasi kasus korupsi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;Pemuda Itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sekedar menyebut nama, para pemuda yang akan maju mencalonkan diri itu, antara lain Nandang Wirakusumah, M. Iqbal, Ali Soero, M. Nuri, dan sederet nama yang secara umur masih muda, mencalonkan diri menjadi anggota legislatif baik tingkat Kabupaten/Kota, Provinsi juga nasional.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sejumlah kalangan memang meragukan kemampuan mereka untuk menduduki kekuasaan, karena menganggap mereka masih dibariskan sebagai golongan yang masih meledak-ledak, tapi hijau kemampuan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tapi ingat sebagian dari mereka sudah malang melintang dan berjuang di luar parlemen, seperti halnya Nandang Wirakusumah getol membela kaum tani Cibaliung, M. Iqbal yang terus membela kaum buruh, Ali Soero dengan aksi jalanannya, serta banyak lagi kaum muda dengan perannya masing-masing, jadi sudah saatnya mereka diberi kesempatan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mudah-mudahan mereka bisa membuktikan bahwa mereka adalah generasi yang bisa mempertanggungjawabkan konsistensi perjuangannya. Persiapkan pula bagi generasi muda yang lain, untuk menyikat mereka bila melenceng dari cita-cita, seperti digembar-gemborkannya ketika berbicara alasan masuk ke kancah parlemen.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apa salahnya kalau mereka diberi kesempatan, karena bisa jadi mereka terlahir sebagai bagian dari generasi DN Aidit, Djohar Noer, Pardjono, Aboebakar Soedewo, Armansjah, Soebadio Sastrosatomo, Soeroso dan Joesoef Koento, ketika menculik dan memaksa Soekarno dan Hatta, untuk memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mereka adalah terusan dari pemuda dan mahasiswa yang melakukan aksi menentang Orde lama tahun 1965, dan mereka juga bagian dari mahasiswa yang melahirkan gerakan revormasi 1998, mereka bukan generasi Pangeran Haji yang terburu-buru dan tidak sabar untuk segera masuk merebut kekuasaan, mereka hanya datang karena merasa dengan masuknya mereka jauh akan lebih baik untuk merubah keadaan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Walau begitu, masyarakat juga harus bisa membedakan, barisan generasi muda yang mencalonkan diri masuk ke kancah kekuasaan itu, sebagian tak lebih dari jelmaan Pangeran Haji, jejak rekamnya dalam melakukan pembelaan pada masyarakat tak pernah terdengar, artinya tak punya kelebihan yang patut dicatat untuk dibanggakan, tiba-tiba &lt;i style=""&gt;nyelonong&lt;/i&gt; menelikung, ketika ada kesempatan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bisa jadi para pemuda bermental Pangeran Haji itu, lebih mempunyai power untuk mempengaruhi kekuasaan, karena mereka didukung oleh kroninya dan tak kalah pentingnya mereka didukung oleh uang. Mereka adalah generasi yang didorong bukan untuk merubah keadaan, mereka tak lebih dari boneka yang dimanfaatkan oleh kelompok tertentu yang jauh dari kepentingan masyarakat luas, atau bisa jadi mereka adalah kelompok yang masuk untuk memelihara dan menjaga kepentingan mereka sendiri. Mereka masuk untuk merubah keadaan mereka sendiri. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada pemilu 2009 nanti, memang semuanya berpulang kembali pada masyarakat untuk mau dan tidaknya memilah kaum muda yang benar-benar dapat dipercaya sebagai darah segar, membaca dan mengamati lalu memilih jangan hanya sekedar pemuda, karena ada pemuda yang pantas dimasukan dalam golongan penuh harapan merubah keadaan dan juga pemuda titisan Pangeran Haji yang akan meneruskan darah-darah tua yang sudah terkontaminasi kekuasaan korup. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Terakhir, kita juga harus mengapreasiasi kaum tua yang menunjukan prestasi dan relatif bersih membangun Banten, generasi tua seperti itu, bisa dikategorikan titisan Sultan Abdulfatah, walaupun dengan catatan, kalau masih ada anak muda, sebaiknya sudah saja mereka dibelakang, memberi dorongan dan nasehat pada anak-anak muda. Pak Tua Sudahlah. Hari Menjelang Malam.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-2773507859327615170?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/2773507859327615170/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=2773507859327615170' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/2773507859327615170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/2773507859327615170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2008/09/sekali-lagi-tentang-pemuda-banten.html' title='Sekali lagi Tentang Pemuda (Banten)'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-7369135789338783465</id><published>2008-08-21T09:55:00.001-07:00</published><updated>2008-08-21T10:27:00.449-07:00</updated><title type='text'>Selamat Tinggal</title><content type='html'>Ketika Agustus berakhir, aku sudah memutuskan pergi. Aku sudah berusaha bertahan, tapi rasanya sudah tidak kuat lagi. Tiga tahun, 4 bulan lamanya, aku bergelut di duniamu, senang, bahagia, sedih, sudah aku rasakan. Terima kasih telah membuatku mengenal banyak hal, setidaknya 'banyak hal' menurutku. Menemukan atau tidak menemukan dunia baru, aku sudah memutuskan untuk pergi.&lt;br /&gt;Tapi, tentu tidak akan benar-benar meninggalkanmu, karena aku sudah terlampau cinta padamu, melebihi kecintaanku pada apapun. Aku memang benar-benar mencintaimu, tapi aku masih ingin berjalan, terus dan tidak tertahan oleh ruang, dan waktu. Sempat tanya muncul, mungkin hanya tempat saja, yang membuatku harus pergi, tapi, sudahlah, jangan berandai-andai...Aku sudah memutuskan, tanpa dan ada dunia baru, mungkin salahku, memasukimu ketika kau sudah terlalu banyak berkaitan dengan sesuatu hal yang tak sempat atau mungkin belum aku bayangkan, ketika baru berusaha mengenalmu, waktu masih kuliah dulu, 9 tahun yang lalu. Memasuki dunia baru, mungkinkah aku juga terjebak pada hal-hal yang tidak pernah aku bayangkan, sudahlah hidup harus berjalan... Selamat tinggal dunia yang pernah aku impikan, terimakasih telah memberi kesempatan bagiku untuk mengarunginya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-7369135789338783465?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/7369135789338783465/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=7369135789338783465' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/7369135789338783465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/7369135789338783465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2008/08/selamat-tinggal.html' title='Selamat Tinggal'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-2076155835540066421</id><published>2008-08-17T09:04:00.000-07:00</published><updated>2008-08-17T09:08:11.667-07:00</updated><title type='text'>Bendera di puncak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhMgjQuhcI/AAAAAAAAAAo/qeruBVBurI4/s1600-h/bendera.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhMgjQuhcI/AAAAAAAAAAo/qeruBVBurI4/s320/bendera.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5235518688923125186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-2076155835540066421?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/2076155835540066421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=2076155835540066421' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/2076155835540066421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/2076155835540066421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2008/08/bendera-di-puncak.html' title='Bendera di puncak'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhMgjQuhcI/AAAAAAAAAAo/qeruBVBurI4/s72-c/bendera.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-9144552224231175635</id><published>2007-11-29T03:08:00.000-08:00</published><updated>2008-08-17T09:16:59.192-07:00</updated><title type='text'>Menghidupkan Perpustakaan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kabar menyedihkan tentang perpustakaan sekolah, di tulis oleh Harian Kompas (19/11). Beritanya, sebagian besar koleksi buku perpustakaan sekolah dasar di daerah termasuk di Jakarta, merupakan buku-buku lama terbitan sebelum tahun 2004, sangat minim buku-buku cerita, apalagi yang menyangkut buku teknologi, yang mudah dimengerti anak-anak, penataan buku-buku pun kurang layak dan terkesan asal-asalan, dan seterusnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bagaimana bisa dengan kondisi seperti itu, perpustakaan menarik minat anak-anak untuk datang, sebagai tempat untuk memuaskan dahaga membuka cakrawala pengetahuan, perpustakaan tidak membuat anak-anak merasa duduk nikmat, sambil &lt;i style=""&gt;nyam-nyam-nyam&lt;/i&gt;, melahap lembar demi lembar, dari buku ke buku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dibanding pergi ke perpustakaan sepertinya anak-anak lebih senang pergi ke tempat jajan atau kantin, ironisnya banyak pula kantin sekolah lebih bagus dibanding perpustakaannya. Padahal, biasanya anak-anak sebelum berangkat sekolah sudah sarapan dari rumah, selain itu mereka juga sudah dibekali makanan oleh orangtuanya, tapi mereka tetap saja lapar terhadap makanan, lapar untuk membaca buku belum menjadi kebiasaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Membaca buku, diyakini sebagai cara untuk memperkaya ilmu pengetahuan, dan memperluas wawasan, namun pada saat anak-anak ada sugesti lain, yang berpengaruh terhadap cita-cita, karir, dan masa depan mereka, hal itu setidaknya bercermin pada keberhasilan orang-orang sukses seperti Frans Magnis Suseno, Ayip Rosidi, Daoed Joesoep dan sederet nama lain, dimana mereka seperti sekarang karena pengaruh buku bacaan sejak kecil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Fuad Hasan, dalam &lt;i style=""&gt;bukuku kakiku&lt;/i&gt; (gramedia;2004), menulis bahan bacaan sesungguhnya berperan besar dalam kehidupan seseorang. Hal itu, nyata juga dari pengaruh bahan bacaan anak yang dibacanya, tatkala ia pertama kali berkenalan dengan buku-buku yang muatannya sesuai dengan perkembanganya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bila perpustakaan sekolah tidak difungsikan sebagai pusat pembelajaran, maka sumber pembelajaran di sekolah pun hanya seorang guru, bila gurunya malas meningkatkan kemampuannya, maka celakalah anak-anak itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Penyebab&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dari berita sejumlah kepala sekolah menyatakan, kondisi itu terjadi sejak ditetapkannya Kebijakan Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan Bantuan Operasional Pembanggunan (BOP), sekolah tidak mendapatkan lagi sumbangan buku baik dari pemerintah pusat maupun dinas setempat, sementara dana BOS dan BOP kebanyakan dipakai untuk pembelian alat bantu belajar-mengajar seperti buku paket dan ekstrakulikuler. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;BOS dan BOP tentu saja, pada awalnya bertujuan bagus untuk membantu penyelenggaraan pendidikan, namun bila sampai dana untuk buku-buku perpustakaan tidak bisa dialokasikan, sementara kiriman bantuan buku dari pemerintah tidak ada lagi, percuma saja gedung-gedung yang menterang, bila buku sumber pengetahuan tidak diberikan pada anak-anak, kenyataan ini tidak bisa dibiarkan dan harus segera ada evaluasi dan pengalokasikan penggunaan dana BOS dan BOP, untuk pembelian buku perpustakaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tapi, perlu diingat pula sebagian sekolah, sebelum adanya dana BOS dan BOP juga tidak terlalu memperdulikan perpustakaan, atau banyak juga buku-buku yang dikirim ke sekolah malah menumpuk di gudang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Faktornya, bisa karena mentalitas kepala sekolah dan guru seakan-akan menganggap penting tidak penting adanya perpustakaan, karena mereka sendiri tidak suka membaca. Pengetahuan dan kesadaran tentang pentingnya perpustakaan, perlu diberikan pada mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Masalah perpustakaan sekolah, tentu bukan tanggungjawab pemerintah dan sekolah saja, tapi semua pihak, harus ada sumbangsihnya. Berbagai cara bisa dilakukan untuk terus menambah koleksi buku perpustakaan. Bisa dengan mewajibkan siswa yang baru lulus sekolah, untuk menyumbang buku, atau siswa yang baru masuk disyaratkan menyumbang buku, &lt;i style=""&gt;toh&lt;/i&gt; untuk kepentingan mereka juga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bisa buku cerita atau buku pelajaran sekolah, bisa yang harganya Rp 5000-an, sampai tergantung kemampuan dan kerelaan orangtuanya. Pokoknya, siapa yang mau menyumbang untuk perpustakaan sekolah, terbuka lebar. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bila sudah terbentuk perpustakaan, jangan lupa pula, ketidaktertarikan anak-anak untuk datang ke perpustakaan dipengaruhi faktor petugas perpustakaan. Tidak jarang, petugas pengawas; kaku dan hanya sekedar bisa mencatat peminjaman dan pengembalian buku. Seperti halnya penjual jajanan, walaupun jajanannya enak, tapi bermuka masam dalam melayani, tentu saja anak-anak akan menjadi malas untuk jajan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Budaya Baca&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menumbuhkan budaya membaca pada anak-anak memang bukan hanya tugas sekolah saja, tapi juga tugas orang tua dan masyarakat. Menurut Daoed Joesoef, budaya baca harus dimulai di rumah sedini mungkin. Membaca harus dibiasakan oleh orangtua pada anak-anak begitu rupa, sehingga hal itu lama kelamaan disarankan sebagai sebuah kebutuhan tersendiri yang perlu dipuaskan sama halnya dengan kebutuhan akan makan dan minum. (Bukuku Kakiku:2004).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sekarang mari kita ikuti kehidupan anak-anak sesudah pulang sekolah, sangat jarang anak-anak yang berasyk masuk dengan buku, mereka lebih senang menonton televisi. Di rumah-rumah memang sangat mudah menemukan ruangan untuk menonton televisi, tapi sangat sulit menemukan ruangan perpustakaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sejumlah alasan tidak adanya ruang perpustakaan di rumah, terbatasnya daya beli, untuk membeli bahan bacaan, seperti buku, majalah, dan koran. Selain daya beli, faktor lain juga karena tidak banyak keluarga di &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; yang menganggap menumbuhkan budaya baca pada anak-anaknya bisa dilakukan dari lingkungan keluarga, salah satunya dengan membangun perpustakaan kecil di rumah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dan, kebanyakan orangtua bila bertanya pada anak-anaknya, biasanya sudah makan belum? Belum menjadi kebiasaan dengan menambah pertanyaan, membaca apa hari ini?Sepertinya merasa sudah cukup dengan hanya memberi makan anak-anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sementara itu, ketika anak-anak keluar rumah, disudut-sudut gang, sangat mudah menemukan tempat penyewaan &lt;i style=""&gt;playstation&lt;/i&gt; atau tempat permainan lain, dibanding menemukan perpustakaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Apa jadinya, bila di Sekolah anak-anak suka memanfatkan waktu untuk jajan, di rumah sibuk menonton televisi, keluar lebih asik bermain game, nongkrong di jalanan, bermain-main, praktis dalam kehidupannya tidak ada waktu untuk membaca?Maka bisa jadi akan tumbuh generasi yang merasa puas, dengan kehidupannya, miskin ilmu kurang cakrawala, batin kering kerontong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Harus ada revolusi untuk menyebarkan virus meningkatkan kesadaran membaca, salah satunya lewat pembangunan perpustakaan. Bila membangun perpustakaan keluarga, masih sangat sulit diwujudkan, kiranya, perlu menggalakan perpustakaan masyarakat, bila mungkin tiap RT dibangun perpustakaan, bukan sesuatu yang tidak mungkin&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah membaca, rasanya masih lapar, &lt;i style=""&gt;nyam-nyam-nyam&lt;/i&gt;, lembar demi lembar pun disantap, dikunyah, dan diolah, oleh otak, dari satu buku ke buku yang lain, dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain, maka jadilah anak-anak cerdas, untuk &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; masa depan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-9144552224231175635?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/9144552224231175635/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=9144552224231175635' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/9144552224231175635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/9144552224231175635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2007/11/menghidupkan-perpustakaan.html' title='Menghidupkan Perpustakaan'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-402169516304473731</id><published>2007-11-29T02:58:00.001-08:00</published><updated>2008-08-17T09:27:02.453-07:00</updated><title type='text'>Membuka Ruang Partisipasi Masyarakat</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Barangkali benar apa yang dikatakan oleh Thomas L. Frideman dalam bukunya &lt;i style=""&gt;The World Is Flat&lt;/i&gt;, dunia sekarang ini tidak lagi bulat tapi sudah datar, orang India bisa bekerja untuk perusahaan Amerika, tidak perlu pindah ke Amerika, cukup di India, bahkan di rumahnya sendiri, dan kemajuan teknologi yang membuat dunia ini datar, semua bisa berkomunikasi dan mengakses data dengan cepat, tidak terbatas oleh waktu dan ruang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kemajuan teknologi informasi ini sudah dimanfaatkan betul oleh sebagian masyarakat, namun sepertinya belum bisa dimaksimalkan oleh instansi pemerintahan di Banten, untuk mendobrak kekakuan birokrasi, tak heran bila hanya untuk pertanyaan kecil saja bagaimana kita membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK) harus bertanya pada tetangga yang tahu, atau melangkahkan kaki ke kelurahan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sementara itu, kita masih kebingungan kemana mencari data tentang lahan kritis di Banten?Jumlah sekolah?Angka buta aksara, dan lain-lain, dimana kita bisa mendiskusikan bagaimana kita bersama-sama memberantas buta aksara di Banten, apakah masyarakat dari berbagai pelosok Banten Selatan, Utara, Barat dan Timur, harus dikumpulkan dalam sebuah ruangan, untuk membahas satu persoalan? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Memang bertatap muka diperlukan, namun kalau setiap menggali informasi harus begitu, bagaimana dengan masyarakat yang tidak bisa ikut serta dalam pertemuan itu?Pemerintah harus membuka paradigma persoalan yang terjadi di Banten ini, tidak akan bisa diselesaikan oleh Pemerintah saja, tidak juga oleh kelompok-kelompok kerja, tapi harus ada partisipasi semua masyarakat, karena mereka yang mengetahui, dan merasakan persoalan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;SMS &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seorang penduduk yang berada dipelosok Banten, tidak perlu menunggu berlama-lama, hanya untuk mengabarkan sesuatu pada pacar, teman, keluarga, bila&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ingin irit pulsa, tinggal kirimkan saja pesan lewat Short Message Service (SMS) dan tak lama kemudian, dia pun tersenyum, manyun atau menangis, karena sudah mendapatkan balasan. Mungkin, tidak puas dengan SMS, maka jari-jari pun bermain memencet tombol-tombol angka, lalu “Hallo,” dan kemudian terserah anda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penggunaan layanan sms untuk kritik dan saran, itu telah dimanfaatkan oleh media &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;massa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; lokal di Banten. Pemerintah sebenarnya bisa membaca dari media massa, namun karena media massa juga mempunyai keterbatasan, setidaknya keterbatasan waktu, sekarang kirim besok baru diterbitkan, baiknya pemerintah juga membuka layanan yang sama, misalnya untuk kritik, saran dan masukan terhadap dinas pendidikan silahkan ketik 0813000xx, dari dinas pendidikan itu disebarkan lagi ke sub bagian, bila perlu ada layar khusus yang bisa dilihat oleh bagian yang berwenang, untuk direspon.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Layanan SMS itu, bukan hanya bisa dimanfaatkan oleh pemerintah Provinsi, juga tingkat Kabupaten/kota, Kecamatan, sampai kelurahan, salah satu kelurahan di Jakarta telah sukses membangun partisipasi masyarakatnya dengan membuka layanan SMS, yang disambungkan ke bagian yang terkait, masalah ketertiban ke bagian ketentaraman dan ketertiban kelurahan, dan sebagainya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Email, Blog dan Web&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seorang penduduk, bangun pagi dan dia pun ingin melaporkan hasil pekerjaannya, sementara dia sedang liburan di Bali, dan dia ingin segera mengetahui respon atasannya, tinggal buka internet, kemudian dia kirimkan lewat surat elektronik atau email. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Masyarakat yang ingin mengetahui kinerja pemerintah tentu bisa mengirimkan saran, dan kritiknya, lewat email, namun sepertinya kondisi itu belum dimanfaatkan secara maksimal, oleh pemerintah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seorang penduduk mengetik beberapa hal yang kiranya dia rasakan perlu untuk dikabarkan, baik tentang kehidupannya maupun pemikirannya, lalu kemudian ditampilkan dalam blog, selanjutnya google akan ikut membantu menyebarluaskannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bila, kurang puas dengan blog, dia bisa buat situs world wide web (www), dan dimanapun, kapanpun dengan fasilitas internet orang bisa mengakses, dan kemudian kalau mau meresponnya tinggal ketik &lt;i style=""&gt;bla-bla-bla&lt;/i&gt;, dalam bagian komentar.  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pemerintah Provinsi dan Kabupaten, sebenarnya sudah membuat situs, untuk Provinsi bisa buka &lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.banten.go.id/"&gt;www.banten.go.id&lt;/a&gt;, sejumlah dinas juga sudah membuat. Namun, sepertinya tidak dikelola dengan baik, terkesan situs yang dibuat oleh pemerintah asal buat, susah kita menemukan hasil dan rencana pembangunan yang akan dilakukan pemerintah, begitu dengan Peraturan Daerah (Perda) yang dihasilkan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Selain itu, situs pemerintah belum bisa dimanfaatkan sebagai ruang dialog dengan pembacanya, memang ada ruang untuk komentar, namun sepertinya masyarakat menganggap percuma, karena menganggap tidak akan mendapat respon balik. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kondisi itu, tidak jauh beda dengan situs pemerintah Kabupaten atau  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kota&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, kecamatan masih jarang yang punya, lebih-lebih desa dan kelurahan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lebih parah lagi situs DPRD Banten Net, yang dulu dicari-cari sebagian masyarakat, untuk mencari kegiatan dan apa yang dilakukan oleh anggota dewan malah sekarang &lt;i style=""&gt;offline&lt;/i&gt;, kenyataan itu hanya membuat masyarakat buta terhadap kinerja anggota DPRD, kecuali berdasarkan informasi media massa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saya membayangkan, kalau sampai tingkat desa sudah membuat situs minimal ngeblog, bukan hanya bisa dimanfaatkan oleh masyarakatnya, masyarakat dari luar pun bisa mengetahui potensi yang ada di desa tersebut. Bisa menjadi promosi murah meriah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Teknologi informasi memang telah membuat kemudahan-kemudahan, tapi susah kalau sementara ini kita masih terlelap, lebih-lebih pertanyaan infrastuktur yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;belum siap, kalau belum siap mengapa tidak dibangun dari sekarang, sementara orang sudah bergegas memanfaatkannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-402169516304473731?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/402169516304473731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=402169516304473731' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/402169516304473731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/402169516304473731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2007/11/membuka-ruang-partisipasi-masyarakat.html' title='Membuka Ruang Partisipasi Masyarakat'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-318187461232178427</id><published>2007-11-29T02:54:00.000-08:00</published><updated>2007-11-29T02:56:08.522-08:00</updated><title type='text'>Tulisan Lama, waktu masih kuliah.</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sarjana Mencari Makna &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan : Ginanjar Hambali  (Mantan Pemimpin Umum Tabloid Mahasiswa Isola Pos UPI Bandung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah sarjana S-1 (strata satu) saat ini, bukan lagi suatu kebanggaan? Antara ya dan tidak, sulit tentunya menjawab dengan pasti. Pada acara wisuda, sebuah prosesi kelahiran sarjana, tersirat jelas gurat kebanggaan dan kebahagiaan di wajah para sarjana baru itu. Jeprat-jepret blitz pemotret berkilatan dan rombongan sanak sedulur pun berdatangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking banyaknya pengantar yang datang dan memadati sekitar kampus, pihak Perguruan Tinggi (PT) pun jauh-jauh hari memasang spanduk di jalan raya maaf perjalanan Anda terganggu, karena ada acara wisuda. Apa bedanya setelah wisuda? Nama-nama para wisudawan itu telah 'diembel-embeli' beberapa singkatan gelar seperti S Pd, S Ked, SE, ST dst. Apa maknanya? Bagi sebagian masyarakat, terutama di kampung-kampung dengan tingkat pendidikan masyarakatnya yang masih rendah, seorang sarjana ibaratnya sumber ilmu pengetahuan berjalan. Segala hal bisa ditanyakan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarjana pendidikan misalnya, harus mampu memecahkan persoalan politik hingga ekonomi. Jika tak bisa, dengan enteng masyarakat akan berkata, ''Masa doktorandus/doktoranda (gelar sarjana masa lalu) tidak tahu.'' Jadi, jangan main-main dengan mengaku sarjana. Namun, tak sedikit pula masyarakat yang memandang 'tak ada beda antara sarjana dan bukan sarjana'. Sama-sama nganggur, dan ketika ditanya tentang sesuatu persoalan, jangankan di luar konteks keilmuannya, sesuai latar belakang kesarjanaannya pun kadang 'linglung'. Sayangnya, setiap tahun, yang terakhir ini semakin berkembang dan bertambah banyak! Kalau begitu, apa artinya bergelut dengan diktat-diktat, buku-buku, rutinitas kuliah dan skripsi. Adakah yang salah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Masa Lalu&lt;br /&gt;Pada masa lalu, tepatnya, sejak awal kekuasaan orde baru, pemerintah lebih menekankan segi kuantitas masyarakat untuk memperoleh kesempatan pendidikan. Akibatnya, kualitas pendidikan serta muatannya mendapat prioritas nomor sekian sesudah yang kuantitif. Awalnya, kenyataan seperti itu bukan persoalan karena lowongan pekerjaan, baik perusahaan negera maupun swasta masih sangat terbuka. Sekarang kondisinya justru terbalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lowongan pekerjaan menyempit, tetapi perkembangan PT semakin menjamur. Yang ironis, PT masih mempertahankan orientasi lama : berlomba-lomba mencetak sarjana sebanyak-banyaknya. Akhirnya, lahirlah pengangguran terdidik. Gugatan bahwa sarjana kita semakin menurun kualitasnya pun kerap terlontar. Salah satu solusi yang ditawarkan oleh PT adalah dengan memperbaiki kualitas. Caranya, antara lain, dengan menaikkan nilai Indeks Prestasi Kumulatit (IPK) lulusannya. Untuk sebagian PT mungkin itu memang suatu solusi, tetapi bagi sebagian besar PT yang lain, itu suatu kekeliruan. Mengapa? Karena persoalannya bukan terletak pada tinggi rendahnya IPK tapi ada yang harus diperbaiki dari kehidupan kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan Kampus&lt;br /&gt;Saat ini, ketika ilmu pengetahuan berseliweran dan berserakan karena kemajuan teknologi, masih banyak yang menganggap kalau dosen adalah satu-satunya sumber ilmu pengetahuan di kampus. Padahal, kenyataannya, sebagian dosen masih menggunakan teori-teori lama yang usang saat mengajar. Buku-buku referensinya masih zaman baheula yang relevansinya dengan konteks kekinian sering diragukan. Akibatnya, lembaga pendidikan, termasuk PT, tidak nyambung dengan perkembangan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan itu masih ditambah dengan sistem perkuliahan yang mirip kontrinasi. Mahasiswa dipaksa duduk, diam, kalau perlu jangan bergerak. Padahal, tidak semua dosen berkualitas. Jika perkuliahan terasa menjemukan, mahasiswa harus bersikap sebagai pendengar yang baik. Jangan sekali-kali mendekat dosen, karena dosen bisa tersinggung. Kalau ini terjadi, mahasiswa sendiri yang akan menjadi korban ; diberi nilai yang mematikan (baca : tidak lulus, dengan nilai E). Mengapa dosen banyak yang kurang berkualitas? Salah satu sebabnya, maraknya praktek kolusi-korupsi-nepotisme (KKN) di kampus. Bukankah koneksi di beberapa PT masih berlaku? Persoalan kualitas pun dikesampingkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa sendiri, sebagian apatis. Bersikap diam, manut dan tunduk pada aturan di kampus, tanpa keinginan untuk mengubahnya. Organisasi kemahasiswaan pun tak lagi menarik mereka. Yang penting bagi sebagian mahasiswa adalah cepat lulus dan mendapatkan gelar. Persoalan mendapatkan pekerjaan, itu adalah urusan takdir. Kegiatan kemahasiswaan yang dulu merupakan 'kawah candradimuka' mahasiswa dalam mempersiapkan, sarjana yang sulanjana, kini tak lebih sebagai penyaluran hobi dan minat : untuk bersenang-senang. Padahal semakin maju aktivitas kemahasiswaan, untuk kasus di Indonesia, semakin kritis dan kreatiflah lulusannya. Dengan proses belajar seperti itu, tentu dapat diprediksikan bagaimana lulusannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sarjana sekarang yang luntang-lantung mencari pekerjaan. Memang tak sedikit pula yang mendapatkan pekerjaan. Beruntung bila perusahaan di mana tempatnya bekerja baik-baik saja, tapi bila perusahan terkena 'musibah', misalnya terkena krisis yang memaksa para sarjana itu di-PHK (pemutusan hubungan kerja), bagaimana? Kebanyakan dari mereka tak bisa berbuat apa-apa. Kian panjanglah deretan angka pengangguran terdidik. Padahal, makna sesungguhnya dari sebuah pendidikan adalah bagaimana seseorang bisa hidup dan mengembangkan kehidupannya di tengah-tengah masyarakatnya. Apalagi sarjana telah melewati beberapa tahapan jenjang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali Ke Makna&lt;br /&gt;Sarjana pada dasarnya adalah orang yang memiliki kemampuan, menerapkan dan menciptakan. Artinya, sarjana bukan kelas kuli karena gelar sarjana berarti seseorang bukan hanya memiliki kemampuan tetapi juga dapat menerapkannya. Sarjana adalah orang yang bisa menciptakan sesuatu yang berguna dan bermanfaat bagi kehidupan pribadi maupun lingkunannya. Makanya, tak heran jika pemerintah memberikan subsidi biaya pendidikan untuk menghasilkan para sarjana karena idealnya, sarjana sangat menentukan kemajuan suatu bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, sosok sarjana kian jauh dari konteks makna sarjana itu sendiri. Karena itu, harus dilakukan perubahan dalam dunia PT kita. Saatnya, menjadikan proses belajar-mengajar di kampus sebagai upaya untuk mengungkap ilmu pengetahuan yang bertebaran dan berserakan di tengah era teknologi informasi. Selain itu, paradigma kuliah untuk bekerja, tampaknya harus mulai dikesampingkan. Saatnya kuliah mencari ilmu pengetahuan agar dapat bertahan menghadapi tantangan kehidupan, yang sering tak terduga apa yang terjadi dikemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup ''....&lt;br /&gt;Engkau sarjana muda, resah tak dapat kerja, tak berguna ijazahmu, empat tahun lamanya bergelut dengan buku, sia-sia semuanya. Lirik lagu Iwan Fals itu tampaknya sekarang mengena untuk sarjana (S1) kita. Sebentar lagi, mungkin S2 yang sudah mulai menyebar dengan kualitas yang diragukan dan mengalami titik jenuh. Beberapa tahun lagi mungkin S3? Apakah kemajuan bangsa ini akan ditentukan oleh semakin banyaknya sarjana yang dikeluarkan oleh PT?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di Kalam Jabar Republika&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-318187461232178427?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/318187461232178427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=318187461232178427' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/318187461232178427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/318187461232178427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2007/11/tulisan-lama-waktu-masih-kuliah.html' title='Tulisan Lama, waktu masih kuliah.'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-4961087477284851018</id><published>2007-11-23T02:26:00.000-08:00</published><updated>2007-11-23T02:28:06.467-08:00</updated><title type='text'>Menyambut Ekonomi Kreatif</title><content type='html'>Sejumlah kota-kota besar dengan dimotori oleh anak-anak muda, akhir-akhir ini menyambut datangnya wacana ekonomi kreatif, ekonomi yang lebih mengedepankan kreativitas, dan inovasi sebagai motor penggerak ekonomi.&lt;br /&gt;Di Bandung misalnya, beberapa tahun ini sejumlah seminar tentang industri kreatif diselenggarakan, sejumlah lembaga seperti Center For Inovation Enterpreneurship &amp;amp; Leadership (CIEL) yang merupakan bagian dari Sekolah Bisnis Manajemen ITB bekerjasama dengan Departemen Industri dan Perdagangan melakukan kerjasama, untuk merancang strategi pengembangan industri kreatif di Jawa Barat.&lt;br /&gt;Sejumlah komunitas pun didekasikan untuk pengembangan industri kreatif seperti Common Room, sejumlah pihak sudah sibuk melakukan pemetaan. Lalu, bagaimana dengan Banten?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonomi Kreatif&lt;br /&gt;Sejumlah pihak sampai presiden menyatakan ekonomi kreatif adalah ekonomi gelombang keempat, yang berorientasi pada kreativitas, budaya, serta warisan budaya dan lingkungan.&lt;br /&gt;Pembagian gelombang itu sebenarnya kelanjutan dari teori Alvin Toffler yang membagi peradaban kedalam tiga gelombang, yaitu gelombang pertama adalah abad pertanian, gelombang kedua abad industri dan gelombang ketiga abad informasi, dan kelanjutan dari gelombang ketiga adalah gelombang keempat yang dinamakan dengan ekonomi kreatif.&lt;br /&gt;“Kita bisa. Kita tidak boleh kalah dengan bangsa dan negara lain untuk membangun dan mengembangkan ekonomi kreatif ini,"  kata Presiden saat membuka pekan raya Produk Budaya Indonesia 2007, di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (11/7), seperti dikutif oleh sejumlah media.&lt;br /&gt;Ekonomi kreatif sendiri, banyak diartikan sebagai kegiatan yang lebih mengedepankan kreativitas, untuk menghasilkan sesuatu hal yang baru. UNESCO tahun 2003, mengeluarkan rilis resmi mengenai definisi industri kreatif ini sebagai suatu kegiatan yang menciptakan pengetahuan, produk dan jasa yang orisinal, berupa hasil karya sendiri. Nilai ekonomis dari hasil penciptaan ini menjadi berlipat ganda ketika diadopsi dan dikomersialisasikan oleh industri jasa dan pabrik&lt;br /&gt;Salah satu Negara yang sangat giat mensosialisasikan ekonomi kreatif adalah Inggris, di Indonesia berbagai seminar dan kegiatan yang didukung oleh British Council diselenggarakan. Pemerintah Inggris menyediakan dana bantuan sebesar 6 juta poundsterling (sekitar Rp 108 miliar), untuk mendukung pengembangan industri kreatif di berbagai Negara berkembang.&lt;br /&gt;Pemerintah Inggris menetapkan 13 sektor usaha yang tergolong sebagai industri kreatif, yakni periklanan, kesenian dan barang antik, kerajinan tangan, desain, tata busana, film dan video, perangkat lunak hiburan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan, jasa komputer, televisi, dan radio. Industri kreatif dikembangkan, ketika Negara-negara seperti Inggris, mencari-cari sumber perekonomian baru untuk menggantikan sektor manufaktur.&lt;br /&gt;John Howkins dalam The Creative Economy (2001) menemukan kehadiran gelombang ekonomi kreatif setelah menyadari untuk pertama kalinya pada tahun 1996 karya hak cipta Amerika Serikat mempunyai nilai penjualan ekspor sebesar 60,18 miliar dolar (sekitar Rp 600 triliun) yang jauh melampaui ekspor sektor lainnya seperti otomotif, pertanian, dan pesawat. Howkins berargumentasi bahwa ekonomi baru sudah muncul seputar industri kreatif yang dikendalikan oleh hukum kekayaan intelektual seperti paten, hak cipta, merek, royalti, dan desain. (lihat; Dr. TOGAR M. SIMATUPANG/PR/01/08/07).&lt;br /&gt;Salah satu hak cipta itu adalah Walt Disney di Amerika Serikat, mereka hanya menjual lisensi, brand, dan ide kreatifnya. Pabriknya tidak perlu di AS, tetapi bisa di Cina. Secangkir kopi starbuck pun bisa dibandrol Rp 50.000, tapi tetap saja orang berduyun-duyun menikmatinya, padahal di warung-warung kopi, harga segelasnya rata-rata hanya Rp 1.500.&lt;br /&gt;Terkait dengan ekonomi kreatif, tetangga Indonesia Singapura, telah menugaskan Kementerian Informasi, Komunikasi, dan Seni untuk mengembangkan ekonomi kreatif dalam rangka membangun daya saing Singapura melalui pemanduan seni, bisnis, dan teknologi.&lt;br /&gt;Tiga cetak biru strategi pengembangan industri kreatif dalam mewujudkan visi ini adalah Kota Renaisans (kota global multitelenta dan inovatif dalam bidang seni dan budaya), Singapura Desain (pusat Asia dalam keunggulan desain sebagai pemicu utama peningkatan daya saing dan kreativitas nasional), dan Media 21 (ekosistem media yang berakar di Singapura dengan jangkauan global). Pemerintah singapura juga meluncurkan inisiatif komunitas kreatif Singapura dan Ekspo Kegiatan Kreatif.&lt;br /&gt;Sumbangan industri kreatif di Indonesia tidak bisa dikatakan kecil.  Seperti dikatakan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Marie E Pangestu, Tahun 2006, sebesar Rp 86,917 triliun. Kedua, industri kreatif Indonesia menyumbangkan sekitar 4,71% dari PDB Indonesia pada tahun 2006, sudah berada di atas sektor listrik, gas, dan air bersih. Ketiga, laju pertumbuhan industri kreatif Indonesia tahun 2006 sebesar 7,28% per tahun (angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,14%). Keempat, penyerapan tenaga kerja tahun 2006 sebesar 4,48 juta orang dengan persentase terhadap total tenaga kerja adalah 4,71%. Kelima, produktivitas tenaga kerja tahun 2006 Rp 19,38 juta per orang. Terakhir, empat sektor industri kreatif teratas adalah, periklanan, desain fashion, kerajinan, dan arsitektur. (Bisnis Indonesia, 24/10/2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercermin Pada Bandung&lt;br /&gt;Salah satu kota yang masuk dalam pemetaan kota kreatif adalah Bandung, kota itu dijadikan contoh sebagai kota tumbuhnya industri kreatif dibidang fashion, seni, arsitektur, pertunjukan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Director British Council di Indonesia, Mike Hardy, mengatakan, saat ini Bandung sudah memiliki 400 outlet industri kreatif, dikelola oleh anak-anak muda yang berusia 15-25 tahun. (Lebih jauh lihat, PR/30/10/07).&lt;br /&gt;Tidak heran, bila Ibu Kota Jawa Barat itu dipilih oleh British Council untuk menyelenggarakan simposium regional (29-31/10), dimana sebanyak 40 pengambil kebijakan dan praktisi senior pendidikan untuk membahas strategi dan kerjasama pengembangan industri kreatif.&lt;br /&gt;Pertemuan itu untuk mendorong peran pendidikan untuk memperkuat tumbuhnya industri kreatif yang berkontribusi untuk pertumbuhan ekonomi. Harus diakui memang Bandung, sebagai gudang kreatifitas, dalam bidang fashion berkembang distro yang menawarkan produk lokal seperti kaos, jaket, sweater, salah satu perusahaan yang diyakini pelopor produk lokal itu adalah C-59, pelopor C-15 Marius Widyarto Wiwied, dianugrahi penghargaan kepeloporan Industri kreatif.&lt;br /&gt;Bukan hanya fashion, dari Bandung banyak arsitektur yang menangani proyek di sejumlah Negara seperti Dubai, China, selain Kota-Kota besar di Indonesia. Salah satunya Urbane Indonesia. Dibandung juga berkembang, musik indie, media indie, animasi, film indie, fotografi, grafik desain, dan sejumlah perusahaan web desainer yang dikelola oleh anak-anak muda pun bermunculan, pertunjukan-pertunjukan kesenian sampai musik yang berskala internasional pun digelar, butik-butik pun berkembang, kenyataan itu didukung oleh menjamurnya Perguruan Tinggi (PT).&lt;br /&gt;Sementara itu di Banten (minus Tangerang), belakangan ini, mulai berkembang sejumlah distro yang dimiliki oleh anak-anak muda, yang kebanyakan baru lulus kuliah, dibanding toko-toko konvensional, memang lebih kreatif untuk tata letak dan desain toko, namun belum ada kreativitas lain, seperti menciptakan produk-produk lokal sendiri, kebanyakan masih mengambil dari Bandung, singkatnya hanya menjembatani orang Banten yang tidak bisa membeli pakaian ke Bandung.&lt;br /&gt;Kabar gembira memang ada sejumlah kerajinan sudah bisa menembus ekspor, seperti batu fosil yang dikembangkan oleh Ahmad Rifai-Cikande, namun sejumlah pusat kerajinan juga terkesan dibiarkan mati, contoh yang mengerikan adalah pusat gerabah-Ciruas, bukan berlomba-lomba memikirkan bagaimana mendesain sebuah produk agar meningkatkan daya jual, malah bahan baku utamanya tanah dikirim ke Bali. Emping Banten begitu-begitu saja, termasuk Sate Bandeng, lebih-lebih bila berbicara masalah desain arsitektur, pengembangan komputer dan sebagainya, provinsi ini sungguh sangat ketertinggalan, setidaknya dibanding Bandung. &lt;br /&gt;Banten sebenarnya mempunyai kekayaan alam yang sangat indah, bahan baku yang melimpah, tapi kondisi ini tidak didukung oleh budaya kreativitas untuk mengolah kekayaan tersebut. Kondisi ini disebabkan oleh banyak faktor, perkembangan Perguruan Tinggi yang diyakini sebagai persemaian intelektualitas memang baru berkembang beberapa tahun saja. PT masih cukup berbangga dengan kuantitas lulusannya.&lt;br /&gt;Sampai saat ini, sepertinya pemerintah belum melakukan terobosan dan pemetaan dengan sungguh-sungguh terhadap potensi ekonomi kreatif sebagai bagian dari pengembangan ekonomi masyarakat. Sementara Banten Development Global (BDG) lembaga bentukan pemerintah yang diharapkan bisa mendorong investasi, perekonomian dan pemasukan ke Banten, terkesan masih berkonsentrasi untuk melakukan pengembangan industri manufaktur.&lt;br /&gt;Penguasaan teknologi informasi terkesan sangat lambat, kondisi ini diperparah dengan tidak adanya kebijakan pemerintah yang kuat terhadap penguasaan teknologi untuk masyarakatnya, plus infrastuktur pendukung yang masih sangat minim, tak heran perkembangan internet baru ada di pusat-pusat kota, istilahnya satu kilometer melangkah jangankan internet, media pun, seperti buku, Koran, Majalah tidak beredar.&lt;br /&gt;Minimnya kreativitas, bisa jadi disebabkan oleh budaya perlawanan yang sangat rendah.;pasrah. Tak heran bila berkembang pemikiran lebih baik menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dibanding menjalani kehidupan yang ‘berliku’, dan sayangnya setelah menjadi PNS, merasa puas dan kreativitas pun mati. Jadi tidak ada budaya cultural semangat kemandirian, singkatnya tidak ada budaya penghormatan terhadap wirausaha.&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Sementara itu, lahan-lahan yang menyerap tenaga kerja seperti pertanian semakin berkurang, dan pabrik-pabrik belum  bisa menampung pengangguran yang semakin berkembang, ironisnya banyak diantara pabrik yang hengkang meninggalkan Banten, atau Indonesia.&lt;br /&gt;Ekonomi kreatif adalah peluang untuk mengembangkan dan menemukan potensi ekonomi, yang tidak terbatas oleh ruang dan tempat, ke depan ekonomi kreatif ini akan menjadi lokomotif perekonomian.&lt;br /&gt;Walau agak terlambat dengan kondisi yang ada Pemerintah Banten dan PT harus segera melakukan pemetaan dan pengembangan industri kreatif, kalau tidak bukan hanya persoalan-persoalan krusial seperti peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan pengangguran, mustahil terselesaikan.&lt;br /&gt;Dan, tidak ada cara lain, bagi generasi muda Banten, selain mengobarkan semangat perlawanan dan kemandirian terhadap kondisi yang ada, semakin kreatif maka semakin hidup. Lawan juga perilaku korup dan birokrasi perizinan yang berbelat-belit, inilah pentingnya pemerintah yang sadar akan pengembangan ekonomi masyarakatnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-4961087477284851018?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/4961087477284851018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=4961087477284851018' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/4961087477284851018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/4961087477284851018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2007/11/menyambut-ekonomi-kreatif.html' title='Menyambut Ekonomi Kreatif'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-6866162859516894288</id><published>2007-11-12T07:21:00.000-08:00</published><updated>2007-11-12T07:22:57.874-08:00</updated><title type='text'>Lagi Belajar Nulis Cerita Anak</title><content type='html'>Wek-wek-wek,wek, suara itu bukan berasal dari serombongan bebek, tapi dari beberapa mulut anak-anak yang berseragam merah-putih.&lt;br /&gt;“Munir bebek, munir bebek,” sahut anak-anak bersahut-sahutan, disela-sela kata wek-weknya.&lt;br /&gt;“Ha,ha,ha,” kata anak-anak yang lain, tertawa.&lt;br /&gt;Mendengar lontaran kata-kata yang ditujukannya, salah seorang siswa yang berjalan dibarisan belakang, hanya bisa menunduk sambil berjalan, matanya mulai berkaca-kaca, tapi dia coba tahan agar tidak menangis, nama anak itu Munir.&lt;br /&gt;Sebenarnya, tidak semua anak yang pulang sekolah itu, mengejek munir, beberapa memilih untuk diam, kebanyakan anak-anak perempuan. Tak lama kemudian, anak-anak itu berlarian, sementara Munir, berbelok ke sebuah Rumah, berdinding bilik, beratap rumbia, itulah Rumah Munir.&lt;br /&gt;“Assalamaikum,” kata Munir.&lt;br /&gt;“Walaikum salam, kok sudah pulang Nak,” kata sosok perempuan setengah tua.&lt;br /&gt;“Pak gurunya rapat Mak,” kata Munir, tak diceritakan oleh Munir pada Maknya, ejekan teman-temannya di Jalan, dia memilih masuk kamar untuk ganti baju, setelah bersalaman dengan perempuan yang sudah memiliki banyak uban di rambutnya tersebut.&lt;br /&gt;“Ayah bagaimana Mak,” kata Munir.&lt;br /&gt;“Sudah agak lumayan Nir, tadi sudah dikasih obat oleh Pak Mantri, sekarang panasnya mulai turun,” kata Mak lagi.&lt;br /&gt;“Mak punya uang dari mana?,” tanya Munir, karena Munir tahu Maknya ngga punya uang, karena Ayah sedang sakit dan tidak bisa bekerja.&lt;br /&gt;“Pinjam dari Mang Opik,” kata Mak lagi.&lt;br /&gt;Mang Opik, adalah paman Munir, orangnya baik, seringkali juga Mak meminjam beras pada Mang Opik, tapi kehidupan Mang Opik juga tidak jauh berbeda dengan keluarga Munir, jadi tidak bisa setiap saat meminjam.&lt;br /&gt;Ayah Munir menurut Pak Mantri sakit panas, sudah hampir sebulan lebih dia terbaring di tempat tidur, tidak bisa bekerja. Pekerjaan di sawah diserahkan pada Maknya Munir, sementara mengurus bebek diserahkan pada Munir.&lt;br /&gt;Munir kemudian masuk kamar, beberapa menit kemudian, Munir keluar dari Kamar, sudah berganti baju.&lt;br /&gt;“Makan dulu Nir,” kata Maknya.&lt;br /&gt;“Dibungkus saja Mak, Nanti Munir makannya di Sawah,” kata Munir. Munir, berangkat ke Sawah untuk mencari keong, untuk makanan bebek.&lt;br /&gt;Munir kemudian berjalan kebelakang rumah, dibelakang itulah terdapat kandang bebek, munir masuk ke dalam bebek.&lt;br /&gt;“Wek,wek,wek,wek,” suara bebek, bebek-bebek itu menyerbu Munir. Tapi, Munir tidak hendak memberi makan bebek, dia mengambil ember, untuk wadah keong.&lt;br /&gt;Bebek Munir lumayan banyak, jumlahnya lebih dari seratus ekor. Keong memang makanan bebek, bila diberi Keong, bebek-bebek itu cepat sekali bertelur, biasanya telur-telur bebek itu dijual ke warung-warung untuk tambahan penghasilan keluarga Munir.&lt;br /&gt;Munir tadinya mau masuk kedalam rumah, tapi Mak Munir sudah terlihat berdiri di depan Pintu.&lt;br /&gt;“Mak Munir berangkat dulu,” kata Munir.&lt;br /&gt;“Nak, ini nasinya, lumayan ada ikan asin,” kata Mak Munir.&lt;br /&gt;“Hati-hati Nir,” lanjut Mak sambil melihat Munir yang berangkat pergi.&lt;br /&gt;Sambil berangkat pergi, Munir terus memikirkan teman-temannya yang akhir-akhir ini terus mengejeknya. Padahal, sebelumnya Munir sangat akrab dengan mereka. Munir tahu, teman-temannya mengejek karena dia tidak bisa lagi diajak untuk bergabung bermain sepakbola, karena tidak ada Munir beberapa kali tim kampung Munir pun kalah, dan terporosok ke dalam juru kunci.&lt;br /&gt;Munir berpikir, andai Ayah tidak sakit, Munir bisa ikut bertanding bersama teman-temannya, tapi semenjak Ayah sakit, Munir harus menggantikan Ayah, untuk mencari keong. Dulu, ketika Ayah masih sehat, Munir hanya membantu-bantu saja, pulang sekolah, membantu Ayah, setelah itu dia bergabung bersama dengan teman-temannya. Tapi, karena Ayah sakit, Munir pun harus menggantikan posisi Ayah, mencari keong.&lt;br /&gt;Di tim kampung Sukamaju, Munir berposisi sebagai penjaga gawang, tanggapan siswa kelas 5 SDN Sukamaju itu sangat lengket, dia pun dipanggil Si Gegep, tendangan sekeras apapun, kerap digagalkan Munir, tak heran bila striker-striker kampung lain, sering prustasi menjebol gawang Munir.&lt;br /&gt;Tapi, karena tidak diperkuat oleh Munir, dalam kejuaraan antar kampung memperebutkan Kepala Desa Babakan Ciparay Cup, kesebelasan Sukamaju pun berturut-turut dibantai, dengan Babakan Kraton kalah 2-4, Cikole 1-4, dan Cinanggung 1-5, Kampung Sukamaju pun diejek sudah menjadi ayam sayur. Anak-anak menjadi sedih, dan sakit hati.&lt;br /&gt;“Coba kalau Munir ada,” kata mereka, sambil tertunduk lesu.&lt;br /&gt;Teman-teman Munir sebenarnya sudah mengajak Munir, tapi Munir mengatakan, tidak bisa, dia mengatakan harus mencari keong, untuk memberi makan bebek-bebeknya. Kawan-kawannya menjadi heran, karena biasanya sehabis mencari Keong Munir bisa ikut dengan mereka, Munir tidak menceritakan bahwa Ayahnya sedang sakit.&lt;br /&gt;Kekalahan tim sepakbola Sukamaju, ternyata membuat kawan-kawan Munir sakit hati, bukan hanya tidak mau berteman dengan Munir, juga selalu mengejek Munir.&lt;br /&gt;Dipinggir-pinggir pematang sawah, dengan tidak memperdulikan terik matahari yang menyengat badannya. Munir terus memunguti keong, yang berwarna keemasan itu, keong itu dikenal dengan nama keong emas, biasanya sebelum diberikan pada bebek, daging keong itu dikeluarkan dulu dari cangkangnya, dengan cara ditumbuk oleh batu, lalu bebek pun menyerbu makanan lezat itu. Kasihan memang keong-keong itu.&lt;br /&gt;“Nir, sini nih, di sawah mamang banyak keongnya,” kata Mang Cece.&lt;br /&gt;Para petani memang tidak keberatan keong-keongnya diambil, karena keong-keong itu sering kali menggigit padi, keong emas pun sering dianggap sebagai hama, tapi ada satu syarat dalam mencari keongnya, jangan sampai menginjak padi atau merusak padi, jadi harus hati-hati.&lt;br /&gt;Sementara itu, sekelompok anak-anak terlihat sudah berkumpul di lapangan. Baju merah-merah sudah mereka kenakan, itulah seragam kebanggaan tim kampung Sukamaju, tapi sekarang, keangkeran Si Merah, memudar.&lt;br /&gt;“Percuma kita latihan untuk persiapan pertandingan besok, kalau tidak ada penjaga gawang, sehebat Munir,” kata Eka Kapten kesebelasan.&lt;br /&gt;“Iya gara-gara Munir tidak mau lagi bergabung dengan kita, kita terus saja kalah, kalau si Aef yang menjadi penjaga gawang percuma, tendangan lemah saja tidak bisa ditangkap,” kata Dedi.&lt;br /&gt;“Kalau gitu, kamu saja yang jadi kiper aku gak mau lagi,” kata Aef pada Dedi dengan marah.&lt;br /&gt;“Saya kan bek,” kata Dedi.&lt;br /&gt;“Saya juga bukan penjaga gawang, saya kan pemain tengah,” kata Aef.&lt;br /&gt;“Kalau saya jadi bek, tidak akan yang bisa melewatiku,” lanjut Aef lagi.&lt;br /&gt;“Sudah-sudah, gara-gara Si Munir memang, kita jadi babak belur, jangan-jangan dia dibayar oleh kampung lain, pura-pura saja mencari Keong,” kata Eka.&lt;br /&gt;“Daripada kita terus saja berdebat lebih baik kita mencari Si Munir, menanyakan apakah dia masih mau bergabung, dengan kesebalasan kita, atau tidak,” kata Dadan.&lt;br /&gt;Dadan, di kesebelasan itu bermain sebagai gelandang bertahan, walaupun begitu dia sering memasukan gol dengan sundulan-sundulannya. Badannya, tinggi besar, loncatannya juga lumayan tinggi. Jadi saat tendangan penjuru atau bebas, dia sering membantu penyerangan.&lt;br /&gt;“Saya sudah sakit hati, gara-gara si Munir, masa tim kita kalah sama ayam sayur,”kata Fierli yang tadi diam saja.&lt;br /&gt;“Tapi kan,” sela Dadan.&lt;br /&gt;Tapi sebelum, Dadan selesai, Fierly sudah berkata ketus, “Tidak tapi-tapian, dia memang penyebab tim kita kalah,”&lt;br /&gt;“Tapi, kita coba sekali lagi, dari pada tim kita dipermalukan lagi, besok sore, berarti tidak ada lagi harapan untuk lolos,” kata Eka. Kejuaraan Kepala Desa Babakan Ciparay itu menggunakan sistem kompetisi, jadi walaupun kalah berturut-turut, namun masih mempunyai kesempatan, asal dalam pertandingan putaran kedua, harus terus menang, jangan sekali pun seri, tugas berat memang. Beda dengan sistem gugur, kalau sistem gugur sekali kalah sudah itu tidak berarti lagi.&lt;br /&gt;“Ayo teman-teman kita susul Munir,” kata Eka lagi.&lt;br /&gt;“Bila perlu kita, bantu Munir cari Keong,” kata Dadan.&lt;br /&gt;“Setuju-setuju-setuju,” sahut anak-anak itu.&lt;br /&gt;Rombongan anak-anak itu, menyusul Munir, mulanya mereka kebingungan mencari munir, karena sawah tempat Munir mencari bebek sangatlah luas, sejauh mata menandang yang terlihat hanya hamparan sawah.&lt;br /&gt;“Munir, munir, munir,” teriak anak-anak. Tapi, tak ada sahutan.&lt;br /&gt;“Punten Mang Cece, lihat munir ngga,” Tanya Anak-anak, pada salah seorang petani yang sedang mencangkul di Sawah.&lt;br /&gt;“Oh, anaknya Mang Andi yah, barusan memang disini, mencari keong, tapi dia terus ke sebelah wetan, mungkin di sawah Mang Pudin, yang di ujung sana, dekat irigasi,” kata Mang Cece sambil menunjukan tangannya.&lt;br /&gt;“Ayo kawan-kawan kita susul, ke sana,” kata Eka.&lt;br /&gt;“Nuhun mang, nuhun,” kata anak-anak sambil pamitan pada Mang Cece.&lt;br /&gt;Beriringan mereka pun berjalan dipematang, berjalan di pematang sawah memang tidak bisa berjajar, karena pematang sawah di Kampung Sukamaju, hanya bisa dijalani oleh satu orang saja, persis seperti berjalannya orang baduy. Baduy adalah satu kelompok adat masyarakat yang ada di Banten Selatan.&lt;br /&gt;“Munir,munir,munir,” teriak anak-anak itu.&lt;br /&gt;Dari kejauhan Munir mendengar namanya dipanggil-panggil, lalu dia pun melihat rombongan anak-anak, wajahnya terlihat kaget, melihatnya. Wajahnya terlihat seperti mencari-cari, setelah berjalan seperti terburu-buru, menuju sebuah saung, masuk kedalamnya, tapi tiba-tiba keluar lagi, lalu kebelakang dan naik keatas pohon.&lt;br /&gt;“Munir-munir,munir,” sahut anak-anak.&lt;br /&gt;Munir semakin tinggi naik.&lt;br /&gt;“Kemana munir yah,” kata Eka.&lt;br /&gt;“Ada saung, tuh kita istirah dulu, yu,” kata Dadan.&lt;br /&gt;Teman-temannya tidak mengiyakan, tapi, kemudian mereka sama-sama menuju saung itu.&lt;br /&gt;“Kemana si Munir yah,” kata Fierly.&lt;br /&gt;“Salah kita jug sih, selalu mengejeknya,” kata Dedi.&lt;br /&gt;Habis, kesal sih, gara-gara dia, tim kita kalah terus,” kata Aef.&lt;br /&gt;Munir sendiri hanya bisa mendengar ucapan teman-temannya dari atas pohon. Munir pun berpikir untuk turun, tapi dia takut teman-temannya mengejeknya kembali.&lt;br /&gt;“Teman-teman, ini ada ember tempat keong,” kata Dedi.&lt;br /&gt;“Pasti, Si Munir ada di sini,” kata Eka.&lt;br /&gt;“Tapi, kemana yah,” kata Dadan.&lt;br /&gt;“Ayo kita cari, mungkin dia mencari keong di irigasi,” kata Aef.&lt;br /&gt;“Munir,munir,munir,” kata teman-temannya.&lt;br /&gt;“Kita mau Bantu kamu,” kata Eka.&lt;br /&gt;“Mau Bantu, benarkah,” kata munir dalam hati di atas pohon.&lt;br /&gt;Baru saja beberapa langkah teman-teman Munir, dari saung. Munir berteriak dari atas pohon.&lt;br /&gt;“Wouy, teman-teman,” kata Munir, dari atas pohon.&lt;br /&gt;Teman-teman Munir pun berhenti, dan menengadahkan wajahnya ke atas pohon. Mereka tersenyum, dan berteriak. “Munir, diatas-munir diatas,” kata mereka.&lt;br /&gt;Munir pun turun, teman-temannya kembali ke saung, mereka berkumpul.&lt;br /&gt;“Ada apa, mencari saya,” kata Munir pada mereka.&lt;br /&gt;Teman-teman Munir terlihat serba salah, mereka merasa malu pada Munir.&lt;br /&gt;“Kami mau mengajakmu, untuk bermain bola, nanti sore, melawan Kampung Sukamakmur.&lt;br /&gt;“Maaf teman-teman, saya tidak bisa, harus mencari keong, Ayah saya sedang sakit,” kata Munir.&lt;br /&gt;“Ayahmu sakit Nir,” kata Eka.&lt;br /&gt;“Iya, karena Ayah sakit, saya harus mencari keong sebanyak-banyak jadi harus mencari keong sampai sore, dan tidak bisa lagi ikut main sepakbola bersama dengan kalian,” kata Munir.&lt;br /&gt;“Kalau begitu, bagaimana kalau kami ikut membantumu mencari keong,” kata Eka.&lt;br /&gt;“Iya Nir, kalau kami Bantu, kita cepat akan mendapatkan keong banyak,” kata Cikal.&lt;br /&gt;“Kalian mau berpanas-panasan,” kata Munir.&lt;br /&gt;“Ngga apa, yang penting kita bisa membantu kamu, dan kita bisa bermain sepakbola lagi bersama-sama,” kata Dadan.&lt;br /&gt;“Ayo kawan-kawan, kita Bantu Munir,” kata Fierly.&lt;br /&gt;“ayo-ayo,” kata yang lain.&lt;br /&gt;“Tapi, tunggu dulu,” kata Eka.&lt;br /&gt;Seketika mereka saling berpandang-pandangan.&lt;br /&gt;“Kita cantel dulu, sebagai tanda perdamaian,” lanjut Eka lagi.&lt;br /&gt;Mereka pun mengasongkan tangannya, saling cantel jari kelingking.&lt;br /&gt;“Bersatu,” kata mereka bersorak.&lt;br /&gt;Setelah itu, ramai-ramai mencari Keong. Memang, bila banyakan yang mencari, keong pun cepat banyak yang terkumpul. Hanya beberapa jam saja, sudah terkumpul 2 ember.&lt;br /&gt;“Sudah banyak, neh keongnya,” kata Munir.&lt;br /&gt;“Cepat juga yah,” kata Eka.&lt;br /&gt;“Ayo, mumpung masih ada waktu, kita pulang, dan latihan untuk persiapan besok,” ajak Fierly.&lt;br /&gt;Ayo-ayo-ayo,” sahut anak-anak.&lt;br /&gt;“Besok sehabis pulang sekolah kita langsung, ke Sawah, setelah itu kita ke lapangan Babakan Ciparay, untuk bertanding,” kata Eka.&lt;br /&gt;Di lapangan pertandingan. “Kejuaran Antar Kampung se-Kecamatan Babakan Ciparay, kita lanjutkan kembali, kali ini akan bertanding Kampung Sukamju dengan Kampung Sukamakmur, Kampung Sukamakmur saat ini berada di posisi teratas, sementara Kampung Sukamaju berada di juru kunci, karena kalah lagi kalah lagi, dan pertandingan kali ini adalah pertandingan hidup mati bagi Kampung Sukamaju, kalah lagi berarti mereka kelaut,” kata komentator pertandingan Sepakbola anak-anak.&lt;br /&gt;“Sukmaju telah menjadi tim ayam sayur,” kata penonton.&lt;br /&gt;Wasit yang memimpin pertandingan pun meniupkan peluit panjang tanda pertandingan dimulai.&lt;br /&gt;Bola kini dikuasai oleh Anak-anak Sukamakmur, Eka terlihat mau merebut bola, namun sebelum bisa direbut, bola telah dioper ke Anak Sukamaju dengan nomor punggur 9, beruntung, dikotak-katik sebentar, dijaga oleh Dadan, bola dia oper ke nomor 10, ditendang langsung ke pojok Gawang, tapi, kali ini Munir dengan tangkas melayang, dan mengkap bola. Seketika penonton bergemuruh dan bertepuk tangan.&lt;br /&gt;Bola dilempar oleh Munir ke Aef, lalu dioper lagi ke Fierly, disodorkan ke Dedi, meliuk-liuk Dedi, satu dua tiga pemain Sukamakmur dilewatinya, bola dioper ke Eka, dan satu dua kocekan, bola pun ditendang dengan keras ke arah gawang lawan.&lt;br /&gt;“Goooolll-goooolll,goolll,” teriak penonton.&lt;br /&gt;Kemudian pertandingan dilanjutkan kembali. Akhirnya setelah pertandingan 45x2 menit dan tambahan waktu diberikan, pluit panjang berbunyi, pertandingan pun berakhir dengan skor 3-0, untuk tim Sukamaju. Kesebelasan Kampung Sukamaju pun naik peringkat, kali ini tidak lagi berada di juru kunci.&lt;br /&gt;“Hidup Munir, Hidup Munir, hidup munir,” teriak anak-anak, sambil mengangkat Munir.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-6866162859516894288?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/6866162859516894288/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=6866162859516894288' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/6866162859516894288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/6866162859516894288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2007/11/lagi-belajar-nulis-cerita-anak.html' title='Lagi Belajar Nulis Cerita Anak'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-2847526993814119488</id><published>2007-11-06T03:53:00.000-08:00</published><updated>2007-11-06T03:55:16.647-08:00</updated><title type='text'>Sekolah Kami Kembali Roboh</title><content type='html'>Lagi-lagi sekolah roboh, beberapa waktu lalu terjadi pada Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Harapan Karya, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang. Sebelumnya, empat ruang kelas milik SDN Bendungan, Desa Pudar, Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang roboh (31/7), kalau harus didaftar, maka berderet-deretlah kasus robohnya sekolah di Banten.&lt;br/&gt;Menanggapi robohnya SDN 3 Harapan Karya, Ketua DPRD Pandeglang, HM Acang, menuduh robohnya sekolah, akibat adanya ketidakberesan, atau kecurangan dalam penentuan skala prioritas pembangunan gedung sekolah (Radar Banten/24/11/10).&lt;br/&gt;Terkait ketidakberesan dalam menentukan skala prioritas pembangunan sekolah, masih dari berita Radar Banten (24/11/10), Enjat Sudirjat anggota DPRD Pandeglang, mengaku mempunyai pengalaman, ketika mengajukan rehab SD yang sangat rusak, namun yang dibangun SD yang kondisinya masih baik, menurut informasi yang didapat oleh Enjat, karena kurangnya pendekatan materi pada pejabat dinas pendidikan.&lt;br/&gt;Kalau benar, Ironis memang, bila institusi pendidikan sudah dikuasai oleh pihak-pihak yang tidak beres, tentu saja kita tidak bisa berharap persoalan pendidikan yang sudah seperti benang kusut, dapat terselesaikan. &lt;br/&gt;Benang kusut karena begitu kompleksitasnya persoalan pendidikan di Indonesia , dari mulai ujian nasional yang dipersoalkan, kurikulum yang diprotes sana-sini sampai mutu pendidikan yang terus tertinggal, setidaknya dengan Negara tetangga Malaysia . Padahal, dalam teori pendidikan dikenal, dipikirkan sebaik-baiknya pun masih saja ada kekeliruan, apalagi dimulai dari sebuah kekeliruan-kekeliruan. &lt;br/&gt; Seperti biasa, setelah sekolah roboh, berbagai pihak pun meminta pada pemerintah, secepatnya untuk membangun kembali sekolah yang roboh tersebut, untuk solusi cepat mungkin tepat. Kedepan, perlu juga dipikirkan bagaimana melibatkan masyarakat dan keluarga, dua instusi yang juga bertanggungjawab, dalam penyelenggaraan pendidikan. &lt;br/&gt;Sayang, tanggungjawab masyarakat dan keluarga dalam menyelenggarakan sarana dan prasarana saat ini, sepertinya terlucuti. Tanggungjawab keluarga terhadap penyelenggaraan pendidikan, sepertinya sebatas iuran penyelenggaraan pendidikan, itu juga seringkali diributkan karena dianggap tidak transparan dan memberatkan, memang ada musyawarah orangtua, tapi banyak yang menuding itu hanya ‘akal-akalan’ saja. &lt;br/&gt;Hubungan antara keluarga dan sekolah pun bersifat ‘materalistis’, ada uang, anak-anak bisa mengikuti pelajaran, tidak ada terpaksa harus menghadapi beberapa persoalan. &lt;br/&gt;Cerita tentang, orangtua yang mengunjungi rumah guru, membicarakan anak-anaknya di sekolah, hampir terkikis, guru mengunjungi rumah orangtua murid untuk bersilaturahmi, hampir menjadi cerita masa lalu. Orangtua dipanggil oleh sekolah pun terkesan, ketika ada persoalan dari mulai anaknya masuk kategori nakal, atau menunggak iuran.&lt;br/&gt;Sementara itu, masyarakat sepertinya kian tidak merasa memiliki sekolah. Roem Topatimasang dalam bukunya Sekolah Itu Candu, dengan judul Robohnya Sekolah Kami, menceritakan bagaiamana sebuah sekolah roboh. Persis seperti dalam buku yang diterbitkan oleh Insist Press (2001) itu, yang terjadi di sebagian sekolah-sekolah yang ada di Banten.&lt;br/&gt;Saya teringat ketika kanak-kanak dulu, sekitar tahun 1990-an di Kampung saya di pelosok Pandeglang-Banten, pada saat kenaikan kelas masyarakat bergotong-royong membuat panggung untuk acara kenaikan kelas, masyarakat juga entah tiap bulan, tiga bulan atau tiap dipandang perlu, melakukan gotong-royong memperbaiki kerusakan-kerusakan yang ada di sekolah, dari mulai mengecat, sampai memperbaiki bangunan. Kondisi sekolah tak luput dari perhatian masyarakat.&lt;br/&gt;Saya masih ingat, pada hari jumat pada masa itu, sekolah diliburkan, anak-anak sekolah bergabung dengan orangtua, tua-muda, anak-remaja, laki-perempuan terjun ke sungai untuk mengambil pasir dan batu, untuk pembangunan sekolah. Semuanya tak dibayar, kecuali makan siang, itu juga sebagian besar dananya, hasil iuran masyarakat. &lt;br/&gt;Selain peduli terhadap pembangunan, masyarakat juga merasa bangga bila sekolah yang ada di Kampung mereka, menang kejuaraan, seolah-olah bukan sekolah itu saja yang juara, tapi seisi kampung. &lt;br/&gt;Jaman terus berlalu, sistem gotong-royong itu sepertinya perlahan tergerus, masyarakat pun, jarang yang mengetahui kondisi sekolah sebenarnya, atau mungkin tahu tapi merasa tidak perlu tahu. Bila bertanya ini salah siapa?&lt;br/&gt;Bertahun-tahun kondisinya seperti diciptakan, sekolah terkesan dipisahkan dari kehidupan masyarakatnya. Anak-anak didik belajar di sekolah, masyarakat sibuk dengan aktivitasnya, seperti tidak ada kaitannya antara sekolah dengan masyarakat. Pemerintah memang berusaha untuk melibatkan masyarakat salah satunya, beberapa tahun yang lalu, mengeluarkan sistem sekolah berbasis masyarakat, tapi belum kelihatan hasilnya di lapangan.&lt;br/&gt;Persolan utama, sepertinya karena orang tua siswa dan masyarakat setempat sering kali tidak dilihat sebagai aset yang berharga dalam peningkatan mutu pendidikan. Orangtua dan masyarakat, serta pengusaha setempat, tentu mempunyai kemampuan masing-masing untuk membantu sekolah. Bisa melalui tenaga, pemikiran sampai dana bila mampu.&lt;br/&gt;Potensi masyarakat sepertinya dilihat oleh UNICEF dalam pembangunan gedung-gedung sekolah yang hancur akibat tsunami di Aceh, Unicef mempromosikan partisipasi masyarakat setempat dalam keseluruhan proses, dari pemilihan lokasi dan rancangan sekolah, sampai pada rencana jangka panjang agar masyarakat  mengelola dan menjaga sekolah dengan baik.&lt;br/&gt;Pemerintah, seharusnya bisa menciptakan sistem atau mendorong sekolah untuk lebih terbuka, dan transparan lagi pada orangtua atau masyarakat, bukan hanya sekedar mengundang orangtua atau masyarakat dalam memutuskan biaya pendidikan, tapi juga bagaimana mengajak masyarakat, bersama-sama mengelola dan memiliki sekolah. &lt;br/&gt;Penutup&lt;br/&gt;Semuanya, bisa berjalan bila didukung oleh niat dan konsep yang baik dari pemerintah, untuk membangun sarana pendidikan, dari mulai membereskan aparat-aparatnya yang tidak bermental kurang beres, diantaranya menganggap proyek pembangunan sebagai jalan mencari keuntungan, sampai sejauh mana pemerintah mengalokasikan APBD untuk pendidikan, contoh baik diperlihatkan oleh Pemerintah Kota Tangerang, dalam membangun sarana fisik sekolah. &lt;br/&gt;Serang, 24/10/11 &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-2847526993814119488?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/2847526993814119488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=2847526993814119488' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/2847526993814119488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/2847526993814119488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2007/11/sekolah-kami-kembali-roboh.html' title='Sekolah Kami Kembali Roboh'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-2594973344255667959</id><published>2007-10-24T04:50:00.001-07:00</published><updated>2007-10-24T04:50:51.738-07:00</updated><title type='text'>Orang Biasa Juga Bisa Jadi Pahlawan</title><content type='html'>Setelah penjajah pergi, setelah Bangsa Indonesia ini, diproklamasikan kemerdekaannya tahun 1945 yang lalu, setelah Soekarno, Mohamad Hatta, Sudirman, dan ratusan nama lain telah ditetapkan menjadi Pahlawan nasional, masihkah kita memerlukan pahlawan?&lt;br /&gt;Pengertian Pahlawan Nasional sendiri adalah orang yang berjasa kepada Negara Republik Indonesia serta mereka yang berjuang dalam proses kemerdekaan, sampai dengan 10 November 2006, tercatat telah ada 138 tokoh yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. (Wikipedia).&lt;br /&gt;Menjadi pahlawan nasional memang tidak mudah, berikut ini kriteria seorang calon pahlawan nasional: Pertama, Warga Negara Republik Indonesia yang telah meninggal dunia dan semasa hidupnya telah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai/merebut/mempertahankan/mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Calon juga telah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara dan telah menghasilkan karya besar yang mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia. Kedua, Pengabdian dan perjuangan yang dilakukannya berlangsung hampir sepanjang hidupnya (tidak sesaat) dan melebihi tugas yang diembannya. Ketiga Perjuangan yang dilakukannya mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional. Keempat Memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan/nasionalisme yang tinggi. Kelima, Memiliki akhlak dan moral keagamaan yang tinggi. Keenam Tidak pernah menyerah pada lawan/musuh dalam perjuangan. Ketujuh Dalam riwayat hidupnya tidak pernah melakukan perbuatan tercela yang dapat merusak nilai perjuangannya. (Nina Lubis, PR/10/11/06).&lt;br /&gt;Pahlawan nasional yang berasal dari Banten sendiri, hanya ada satu, yaitu Sultan Ageng Tirtayasa, lahir di Banten pada 1631 dan mangkat pada 1692. Beliau dimakamkan di perkarangan Masjid Banten. Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa di Kesultanan Banten pada tahun 1651-1682.&lt;br /&gt;Tentu saja nama-nama besar yang dianggap sebagai pahlawan itu, tidak akan menjadi pahlawan bila tidak ada orang yang mendukungnya, Soekarno tidak akan menjadi pahlawan bila tidak didukung oleh rakyat yang berjuang meneteskan darah dan air mata berperang melawan penjajah, Sultan Ageng Tirtayasa tidak akan bisa berjuang bila tidak didukung oleh prajurit-prajuritnya. Rakyat dan prajurit itu juga jangan dilupakan, pahlawan juga.&lt;br /&gt;Selain, pahlawan nasional pemerintah juga membuka peluang untuk diangkat sebagai perintis kemerdekaan, atau pejuang yang dikelompokan dalam beberapa kategori, diantaranya Pejuang PETA, Pejuang ’45, dan Pejuang Perang Kemerdekaan I dan II. Setelah masa kemerdekaan ada Pejuang Trikora dan Dwikora, Pejuang Seroja (masalah Timor Timur), dan jenis pejuang baru yaitu: untuk pemilik prestasi dalam bidang profesi tertentu, atau pejuang di bidang tertentu (lingkungan hidup, ilmu pengetahuan, olah raga, dan budaya). (Nina Lubis, PR/10/11/06)&lt;br /&gt;Diluar konteks itu, kita juga mempunyai pahlawan-pahlawan, di Banten misalnya banyak yang menganggap bahwa Ahmad Chotib residen pertama di Banten yang berasal dari Kiai, K.H Wasid Cilegon, dan sederet nama-nama lain, sebagai pahlawan. Orang-orang yang memperjuangkan pembentukan Provinsi Banten, juga dianggap sebagai pahlawan pembentukan Provinsi Banten.&lt;br /&gt;Selain tingkat daerah, masing-masing kelompok malah individu juga mempunyai pahlawannya masing-masing. Kita juga mengenal guru pahlawan tanpa jasa, TKI pahlawan devisa, dan lain-lain. Seorang suami atau istri yang setia, bekerja keras, adalah pahlawan bagi keluarganya.&lt;br /&gt;Presiden Susilo Bambang Yudoyono setahun lalu, dalam esainya di Majalah Time menulis The Making of A Hero, definisi pahalwan menurut SBY seperti dikutif oleh Chusnan Maghribi untuk Suara Merdeka (10/11/06) "Heroes are selfless peoples who perform extraordinary acts. The mark of heroes is not necessarily the result of their action, but what they are willing to do for other and for their chosen cause. Even if they fail, their determination lives on for others to follow. Their glory lies not in the achievement, but in the sacrifice." (Susilo Bambang Yudhoyono, Time, 10 Oktober 2005, hal 58).&lt;br /&gt;Pahlawan adalah orang (biasa) yang tidak egois dan berbuat sesuatu yang luar biasa. Penghormatan kepada pahlawan tidak harus selalu dilihat hasilnya. Bahkan jika gagal sekalipun, kemauan kerasnya untuk berbuat sesuatu untuk orang lain akan terus dikenang. Jadi, kebesaran seorang pahlawan tidak diukur dari hasil yang dicapai, melainkan kesediaannya berkorban untuk sesamanya.&lt;br /&gt;Bila mengacu pada pernyataan SBY walaupun banyak pihak memandang, bahwa pernyataan itu sangat kental bernuansa politis, tapi, setidaknya SBY mempunyai pemahaman pahlawan bisa muncul dari mana saja, bisa dari kalangan apa saja.&lt;br /&gt;Ditengah centang perentangnya, persoalan-persoalan yang terjadi, kita bukan hanya membutuhkan orang-orang yang dianggap luar biasa, untuk melakukan kegiatan yang luar biasa, tapi juga orang yang dianggap biasa untuk melakukan hal yang luar biasa. &lt;br /&gt;Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang hidup pas-pasan, tapi, bisa menahan diri untuk tidak menyalahgunakan kewenanganannya. Petani dengan lahan sawah yang tidak terlalu luas, membanting tulang untuk menyekolahkan anak-anaknya, pemuda yang membuka usaha sehingga beberapa pengangguran direkrut untuk bekerja, pahlawan juga bisa muncul dari lembaga kepolisian, polisi yang menjalankan tugasnya dengan profesional menegakan aturan, tidak mau disogok sana-sini, jadi pahlawan bisa muncul dari mana-mana.&lt;br /&gt;Jadi siapapun, bisa menjadi pahlawan, tergantung kita mau menjadi pahlawan atau tidak, mau menjadi teladan atau tidak, yang jelas bangsa ini termasuk Provinsi Banten sedang menghadapi setumpuk persoalan, mulai kemiskinan, pengangguran, korupsi, kolusi, dan seabrek persoalan lain. Kita membutuhkan dan bisa menjadi pahlawan, berbuat sesuatu untuk keluarga, tetangga, lingkungan, bersama-sama menyelamatkan bangsa.&lt;br /&gt;Serang, 26/10&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-2594973344255667959?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/2594973344255667959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=2594973344255667959' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/2594973344255667959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/2594973344255667959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2007/10/orang-biasa-juga-bisa-jadi-pahlawan.html' title='Orang Biasa Juga Bisa Jadi Pahlawan'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-163522021713948233</id><published>2007-10-23T09:13:00.000-07:00</published><updated>2007-10-23T09:14:01.512-07:00</updated><title type='text'>Biar Tidak Menjadi Kota Sakit</title><content type='html'>Sebentar lagi, Kota Serang akan terwujud. Seperti sudah diketahui sebelumnya tujuan pembentukan Kota Serang, diantaranya selain karena amanat undang-undang pembentukan Provinsi Banten, juga  dimaksudkan untuk lebih meningkatkan dan mendekatkan pelayanan pada masyarakatnya. Singkatnya, tidak yang lebih utama pembentukan Kota Serang itu sendiri, selain untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.&lt;br /&gt;Masyarakat sejahtera tentu saja tidak sekedar indah untuk dikatakan, tapi perlu kerja keras untuk mewujudkannya. Tantangan Kota Serang pun semakin hari semakin berat, pasalnya kota Serang lambat laun semakin menjelma menjadi sebuah Kota yang makin kompleks, indikasinya perumahan-perumahan bermunculan, jalanan semakin macet.&lt;br /&gt;Sebuah Kota tentu saja harus ditata dan dirancang sedemikian rupa, sehingga Kota itu akan menjelma menjadi Kota idaman, tidak seperti Kota-kota pada umumnya di Indonesia. Bagaimana sebuah Kota di Indonesia menjelma menjadi sebuah pusat pemerintahan, industri dan jasa yang menarik orang-orang berdatangan tapi juga menimbulkan berbagai keruwetan-keruwetan, dari mulai kriminalitas, banjir, berkembangnya berbagai penyakit, jalanan macet, pengangguran, tawuran, dan sebagai-bagainya, kota menjelma menjadi ajang pertarungan-pertarungan dan banyak yang mengatakan kota-kota di Indonesia adalah kota sakit.&lt;br /&gt;Kota Sehat sendiri menurut Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, (1992) yaitu The healthy city project is rooted in concept of what city is and a vision of what healthy city can become. A city viewed as complex organism that is living, breathing, growing and constantly changing. A healty city is one that improve its environment and expands its resources so that people can support each other in achieving their highest potential. (Sudirman MH, Dkk:Politik Kota dan Hak Warga Kota;2006)    &lt;br /&gt;Kota Sehat diibaratkan organisasi hidup yang kompleks, bernapas dan bertumbuh, dan terus menerus berubah. Kota yang terus mengembangkan sumber dayanya, sehingga warganya saling mendukung dalam memaksimalkan potensinya.&lt;br /&gt;Kota Sehat lanjut Sudirman MH, kota yang segenap warganya bisa hidup layak, terpenuhi kebutuhan dasarnya, pangan, sandang, papan (pemukiman) pekerjaan, pendidikan dan kesehatan dasar. Kota yang pertumbuhan ekonominya mampu menyerap tenaga kerja yang ada, menyediakan ruang publik taman-taman kota, pedestrian, museum, yang memadai bagi warga kota. (Sudirman MH, Dkk:Politik Kota dan Hak Warga Kota;2006) &lt;br /&gt;Kota yang sehat, juga sering dibayangkan sebagai Kota yang memberi rasa aman, nyaman bagi warganya, artinya rendah kriminalitas, ketika musim hujan warganya tidak dilanda ketakutan akan kebanjiran, tidak diruwetkan dengan kemacetan lalu lintas.&lt;br /&gt;Melihat Kota Serang saat ini, bisa saja sebenarnya Kota Serang menjelma menjadi Kota Sakit bila persoalan-persoalan yang ada tidak ditangani sejak dini, seperti pengangguran, pendidikan untuk semua, dan akses kesehatan, dan juga persolan-persoalan lain.&lt;br /&gt;Persoalan lain itu, sebagai contoh kecil misalnya, bagaimana beberapa tempat ketika musim penghujan dilanda genangan air, yang memacetkan arus lalu lintas, seperti di depan Hotel Le-Dian, dan daerah Warung Pojok. Memang itu belum menjadi persoalan yang berarti, tapi bisa dikatakan bahwa di dua tempat itu sistem aliran air tidak berfungsi dengan baik.&lt;br /&gt;Masyarakat, belum merasa nyaman untuk mengunakan angkutan transportasi, pasalnya banyak dari angkot yang tanpa arah tujuan yang jelas, ini mengakibatkan masyarakat lebih nyaman memakai kendaraan pribadi, akibatnya suatu saat bila semakin sejahtera masyarakat dari sisi ekonomi, akan diikuti oleh kemacetan.&lt;br /&gt;Selain itu, akibat tidak ditertibkannya angkutan umum, bisa menimbulkan konplik horizontal antar sopir angkutan umum sendiri, seperti kita saksikan bebebarapa waktu lalu, demo angkutan umum yang protes banyaknya angkutan umum dari luar kota, dibalas dengan aksi protes tandingan.&lt;br /&gt;Kemacetan juga bisa diakibatkan oleh penataan kota yang kurang cakap, bagaimana misalnya sebuah pusat perbelanjaan berada di tengah-tengah kota, tidak bisa dibayangkan bagaimana selanjutnya bila kota ini terus berkembang.&lt;br /&gt;Ke persoalan lain, tempat-tempat bersejarah seperti gedung-gedung di Kota Serang, terkesan tidak dijaga dengan baik oleh pemerintah, beberapa sudah berlih fungsi seperti gedung Makodim yang jadi pusat perbelanjaan. Roh, sebuah kota seperti dihilangkan.&lt;br /&gt;Trotoar yang seharusnya dijadikan sebagai tempat bagi pejalan kaki, dipenuhi oleh pedagang kaki lima, tidak heran bila kita sangat jarang melihat orang berjalan-jalan mengitari Kota Serang, selain panas, bisa jadi karena ketidaknyamaan ketika berjalan, karena tempatnya terampas.&lt;br /&gt;Robohnya papan reklame tak jauh dari Polres Serang, yang menimpa pengendara sepeda motor beberapa waktu lalu, menjadi peringatan bahwa pemerintah bukan hanya memikirkan bagaimana menarik retribusi, tapi juga keselematan warganya juga dikedepankan.&lt;br /&gt;Selain itu, masih kurangnya kesadaran warga untuk menghargai warga yang lain, misalnya bagaimana pada malam minggu jalan Ahmad Yani, sering dijadikan ajang balapan liar, ini bukan hanya mengganggu kenyamanan warga yang sedang istirahat dengan suara knalpotnya, tapi juga membahayakan keselamatan.&lt;br /&gt;Warga, terutama dipinggiran juga masih terlihat yang menjadikan sungai sebagai jamban umum untuk buang air besar, terutama daerah Kasemen, ini bisa mengakibatkan sejumlah penyakit menyebar. Perilaku yang oleh orang ‘udik’ saja sudah ditinggalkan malah ‘dilestarikan’.&lt;br /&gt;Penataan kota tentu saja tidak bisa dilakukan oleh pemerintah yang hanya memikirkan bagaimana Pendapatan Asli Daerah (PAD), sebesar-besarnya, tapi juga memikirkan bagaimana mewujudkan kenyamanan warganya.&lt;br /&gt;Menjadikan Kota Sehat, bukan hanya dibutuhkan kecakapan dan kepintaran aparatur dalam membangun, tapi juga mental aparatur yang sehat, setidaknya aparat yang tidak bisa disogok oleh kepentingan-kepentingan tertentu, yang mengorbankan masyarakatnya, atau masyarakatnya harus menyogok untuk mendapatkan pelayanan publik, seperti membuat KTP, SIM, IMB dan lain-lain, ini bisa membuat kredibilitas pemerintah jatuh.&lt;br /&gt;Tentu saja masih berderet-deret persoalan yang bisa menjadikan Kota Serang menjadi Kota Sakit, sebelum terlambat, dan sebelum semuanya semakin kompleks, pemerintah Kota Serang yang sebentar lagi terbentuk, harus segera memikirkannya untuk saat ini dan perkembangan Kota Serang ke depan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-163522021713948233?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/163522021713948233/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=163522021713948233' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/163522021713948233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/163522021713948233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2007/10/biar-tidak-menjadi-kota-sakit.html' title='Biar Tidak Menjadi Kota Sakit'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-4909399005871890284</id><published>2007-10-19T05:09:00.000-07:00</published><updated>2007-10-19T05:10:08.569-07:00</updated><title type='text'>Darah Biru Dalam Tubuh KNPI</title><content type='html'>Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Banten, sedang menyiapkan agenda besar menyelenggarakan Musyawarah Provinsi (Musrop) memilih pemimpin, kabarnya akan digelar November mendatang. Bisa jadi, kalau saja Iman Ariyadi masih berambisi menjadi Ketua Umum, dia bisa terpilih kembali, pasalnya siapa yang bisa menandingi popularitas anak Wali Kota Cilegon tersebut? persoalannya apakah dia mau dicalonkan kembali, atau tidak?&lt;br /&gt;Sejumlah orang pun sudah mengetahui, beberapa calon yang sekarang berminat menjadi Ketua, bukan hanya sibuk menebar simpati ke bawah, juga minta restu pada Iman Ariyadi, begitulah daya magis Iman Ariyadi dalam tubuh KNPI Banten.&lt;br /&gt;“Kalau Kang Iman yang saya tahu siapa pun yang datang padanya, dia tidak melarang untuk mencalonkan diri menjadi Ketua, dan itu sering diterjemahkan sebagai bentuk dukungan oleh para calon,” kata salah seorang aktivis KNPI yang dinilai dekat dengan Iman Ariyadi, ketika kami bertemu di Rumah Iman Aryadi, suatu malam pada bulan Ramadhan yang lalu.&lt;br /&gt;Jujur, saya sebenarnya tidak mengetahui secara mendalam tentang KNPI khususnya KNPI Banten, termasuk seberapa jauh kinerjanya untuk perkembangan kepemudan dan pembangunan di Banten, yang jelas KNPI masih mengklaim dan memang harus diakui sebagian besar organisasi kepemudaan masih berada didalamnya, artinya suka atau tidak suka KNPI masih menjadi wadah organisasi kepemudaan di Banten, dan ini yang menarik bagi saya.&lt;br /&gt;Satu lagi yang menarik, ternyata ketua KNPI di Banten masih didominasi ‘darah biru’ Iman Aryadi anak Wali Kota Cilegon, Ketua KNPI Pandeglang Asep Mulya Hidayat anak Jajat Mujtahidin, Jajat mantan Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Golkar Pandeglang dan Jajat juga pendiri Provinsi Banten. Ketua KNPI Serang Deden Apriandhi anak Maman Rizal, Maman politisi senior Partai Golkar Serang yang juga Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Serang, dan Ketua TTKDH Banten. Ketua KNPI Lebak Andi Yudi Hendriawan, anak Irsjad Djuwaeli pendiri Provinsi Banten, Irsjad juga mantan calon Gubernur Banten yang juga politisi senior yang beberapa kali menjadi anggota DPR RI.&lt;br /&gt;Memang dalam tubuh, darah tidak terlalu berbeda semua merah, namun darah biru sering dianalogikan sebagai keturunan bangsawan, hartawan, atau keturunan orang-orang yang dianggap besar. Sementara darah merah, mereka yang datang dari kalangan biasa, bisa anak petani, anak guru, anak pedagang kecil, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Bercokolnya darah biru dalam pucuk pimpinan KNPI, bisa jadi membuat KNPI lebih mudah berhubungan dengan kekuasaan, karena mereka tidak lagi rikuh berhadapan dengan pemegang kekuasaan, mereka sudah terbiasa karena orang tua mereka sejajar dengan kekuasaan, bagian dari kekuasan, atau malah lebih atas dari kekuasaan itu sendiri, ini penting karena KNPI belum bisa lepas dari dana APBD atau bantuan dari kekuasaan, dalam menggerakan roda organisasi dan menjalankan kegiataannya.&lt;br /&gt;Darah biru juga memudahkan KNPI bergerak, ditengah budaya paternalistik yang sangat kuat dalam tubuh masyarakat. Selain itu, bisa jadi ‘anak-anak kolong’ itu tidak terlalu kesulitan untuk mengeluarkan sejumlah dana, untuk membiayai kegiatan KNPI.  Satu hal lagi, bisa jadi para ketua KNPI itu dianggap sebagai figur yang dekat dengan kearifan lokal, Kiai dan Jawara. Bisa pula darah biru tersebut, mempunyai kelebihan karena sejak kecil sudah menghayati persoalan-persoalan kepemimpianan, yang ditularkan oleh orangtua mereka. &lt;br /&gt;Persoalannya kemudian, munculnya mereka sebagai ketua KNPI bukan berarti tidak memunculkan pandangan negatif dari sebagian kalangan lebih-lebih menjadi fenemoa, ada apa sebenarnya? KNPI bisa jadi dianggap gagal membangun kepercayaan diri pemuda yang tidak mempunyai modal ‘apa-apa’ untuk berperan lebih jauh, atau para aktivis yang hanya bermodalkan kemampuan, loyalitas dan keinginan berkiprah dalam tubuh KNPI itu gagap, menghadapi rekannya yang darah biru.&lt;br /&gt;Bila saja kegagapan pemuda darah merah itu benar adanya, maka tesis yang mengatakan kepemimpinan itu bukan hanya sekedar kerja keras, kemampuan, bakat dan loyalitas semata, tapi juga harus berdasarkan keturunan (geneologis), keturunan bukan pemimpin jangan bermimpi menjadi pemimpin berlaku di tubuh KNPI.&lt;br /&gt;Padahal dalam kepemimpinan nasional Presiden Susilo Bambang Yudoyono yang akan petani, dan tidak mempunyai trah nama besar, berhasil mengalahkan Megawati Soekarno Putri anak Soekarno, dan juga Abdurman Wahid anak Kiai besar Wahid Hasyim. Keberhasilan SBY pada saat itu, banyak dinilai karena SBY dianggap lebih bisa menarik simpati masyarakat, dengan program-program yang lebih merakyat.&lt;br /&gt;Bisa jadi program yang ditawarkan oleh anak-anak muda yang berdarah merah saat pencalonan diri menjadi pucuk pimpinan KNPI, memang tidak lebih bagus dari mereka yang berasal dari darah biru, istilahnya darah merah tidak lebih sehat dari darah biru.  &lt;br /&gt;Bila itu persoalannya, memang bukan salah darah biru bila saat ini sangat mendominasi ketua KNPI, tapi, bila persoalannya kemudian calon ketua KNPI juga ditentukan oleh seberapa besar ‘amunisi’ atau kekuatan modal yang dimiliki seperti selentingan yang terdengar, seperti untuk mendaftar menjadi Ketua KNPI harus membayar biaya formulir yang nilainya jutaan, sampai biaya-biaya tertentu ditanggung ketua, maka  memang hanya mereka yang mempunyai kekuatan modal yang didominasi oleh darah biru untuk bisa menang, tapi itu sungguh ironis. &lt;br /&gt;Sebagai organisasi kepemudaan, tentu saja KNPI mempunyai tugas ganda, selain mengembangkan kepemudaan, bisa juga organisasi itu sebagai wadah kaum pemuda untuk mematangkan diri atau ‘kawah candradimuka’ pemuda untuk menempa dan mempersiapkan diri untuk terjun mengambil alih kepemimpinan, tentu saja tidak hanya menempa darah biru dan darah merah saja, tapi bisa semuanya.&lt;br /&gt;Persoalannya kemudian, dalam Musrov kali ini, apakah darah merah yang ada dalam tubuh KNPI mampu menjawab peluang regenerasi kepemimpinan, atau bisa jadi mereka hanya akan menjadi tim pelengkap, pendukung sekedar menjadi tim sukses, bila itu terjadi maka semakin meneguhkan gagapnya darah merah mengimbangi rekannya, maka jangan pernah membayangkan masa depan darah merah asal KNPI dalam peta perpolitikan sesungguhnya, terus saja dibelakang paling banter jadi wakil, ketua bidang atau tim sukses. Selamat menyelenggarakan Musrov semoga sukses.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-4909399005871890284?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/4909399005871890284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=4909399005871890284' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/4909399005871890284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/4909399005871890284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2007/10/darah-biru-dalam-tubuh-knpi.html' title='Darah Biru Dalam Tubuh KNPI'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-7379671282143107614</id><published>2007-10-18T01:14:00.000-07:00</published><updated>2007-10-18T01:15:58.268-07:00</updated><title type='text'>Mental Pengemis</title><content type='html'>Hampir setiap sore menjelang buka puasa, pada Ramadhan yang baru saja lewat, ketika nongkrong di depan warnet yang ada di Ciceri-Serang, saya sering didatangi rombongan anak-anak bisa perempuan bisa laki-laki, dengan usia antara 5-12 tahunan, satu rombongan bisa 5-10 orang, lalu dengan tangan menengadah, “Sedekahnya, Pak,” kata mereka, dengan wajah memelas.&lt;br /&gt;Saya lihat; Pakaiannya tidak lusuh, tapi terkesan dilusuh-lusuhkan, wajahnya tidak kotor, tapi terkesan dikotor-kotorkan, segar bugar wal’afiat. Hati bimbang, tidak memberi takut kualat, memberi ragu pantaskah mereka diberi?&lt;br /&gt;Saya teringat pada pengemis, yang biasanya kumpul di pasar lama, sekitar pukul 20.00. Sebelum pulang ke tempat asalnya, sebagian ada yang duduk sambil merokok, sebagian makan nasi bungkus, sebagian lagi berjalan membeli oleh-oleh, dalam plastik hitam beberapa saya lihat; Supermi, Ikan kaleng, beras, roti, sampai es krim. Kemudian, setelah semua kumpul dengan angkutan kota, mereka pulang bersama-sama, ke tempat asalnya.&lt;br /&gt;Kalau sudah terbeli, produk-produk seperti itu, pantaskah mereka besok kembali datang mengemis? Lalu sampai kapan mereka menjadi pengemis?Jangan-jangan pengemis sudah menjadi ‘profesi’ ada hari libur dan jam kerja, pelatihan menjadi pengemis, dan syarat kelulusan untuk menjadi pengemis?&lt;br /&gt;Saya teringat Si Udin, tetangga saya di kampung, dari mengemis dia bisa membeli tv, vcd, memperbaiki rumah, sampai membeli sawah. Sebelumnya, Si Udin kerja di Jakarta, jatuh sakit, pulang ke kampung. Sambil berobat jalan, makan susah penghasilan tidak ada, Bapaknya, yang bekerja sebagai pedagang keliling, jajanan anak-anak sekolah dasar terkesan tidak mampu membiayai Si Udin, Si Udin pun disarankan tetangganya, untuk menjadi pengemis, tetangga Si Udin yang juga tetangga saya itu, mengatakan pada saya dia tidak tega melihat Si Udin kesulitan mencari uang untuk berobat, dari mengemis Si Udin mampu berobat, dan setelah sembuh, Si Udin ternyata tetap mengemis, dan biasanya hari Jumat dia libur.&lt;br /&gt;Setelah Si Udin ‘sukses’, orangtuanya jadi malas-malasan, tidak mau lagi kerja, atau setidaknya menjadi malas berdagang. Menurut cerita penghasilan anaknya yang menjadi pengemis, juga sudah cukup untuk kebutuhan keluarga mereka.&lt;br /&gt;Teman saya yang bertugas mengantarkan Si Udin dari pasar ke pasar, bercerita, Si Udin terlihat seperti orang cacat luka di kaki dan tangan, terlihat rapuh, seperti memaksakan diri hanya sekedar berjalan, padahal ketika sampai di rumah, kaki dan tangan dibasuh oleh air, luka itu pun menghilang.&lt;br /&gt;“Sambil menunggu Udin di pasar, biasanya saya minum kopi, sambil merokok di warung nasi, nanti yang bayar Udin,” kata teman saya. Sambil mengatakan, ongkos ojek dari Si Udin lebih besar, dibanding ongkos sewa ojek penumpang lain. &lt;br /&gt;Mungkin, tidak semua pengemis begitu, mungkin masih banyak pengemis dengan tubuh renta, terbungkuk-bungkuk, badan tidak kuat lagi bekerja, sementara sanak saudara sudah tidak bisa diandalkan, mereka terpaksa mengemis, mengumpulkan uang ribuan -Orang sekarang kan, jarang memberi recehan pada pengemis- tapi, bagaimana kita bisa membedakan pengemis asli dan palsu.&lt;br /&gt;Cerita rakyat tentang asal usul Situ Bagendit yang terletak di Kecamatan Banyuresmi-Garut-Jawa Barat, mengisahkan Nyi Bagendit orang kaya raya yang pedit dan kikir didatangi pengemis, namun janda kaya itu, tidak mau menyedakahkan hartanya, ternyata pengemis itu hanya pura-pura jadi pengemis, dia hendak menghukum Nyi Bagendit karena kekikirannya, padahal tetangga Nyi Bagendit banyak yang kelaparan. Orang sakti yang berpura-pura mengemis itu menancapkan tongkatnya, ketika dicabut, muncratlah air dari tanah, dan merendam satu kampung, termasuk kekayaan Nyi Bagendit. Jadilah Situ Bagendit.&lt;br /&gt;Bukan hanya sasakala Situ Bagendit, saya juga mendapatkan banyak cerita lain, bagaimana kualat terjadi karena mengabaikan peminta-minta. Saya sering merinding, ketika harus mengatakan, “rampes” ketika ada yang mengucapkan “sampurasun” -sekarang, biasanya pengemis mengucapkan Asalamuallaikum- sampai sekarang, takut kualat masih ada dalam hati.&lt;br /&gt;Agama Islam pun mengajarkan, kewajiban seorang muslim memberi pada kaum papa, termasuk anak yatim dan orang miskin, karena ada harta mereka dalam harta kita. Tapi, Islam juga sangat melarang umatnya mengemis, tangan diatas lebih baik, dari tangan dibawah. Islam sangat menganjurkan kerja keras.&lt;br /&gt;Ibu-ibu di komplek perumahan saya, banyak yang berbicara pengemis yang datang ke perumahan, termasuk yang ada dipersimpangan jalan, semakin menunjukan peningkatan saja dari waktu ke waktu, walaupun belum ada angka statistik yang membenarkannya, tapi mata bisa melihatnya.&lt;br /&gt;Seperti ditulis Win Dede dalam blog spotnya, (Windede.blogspot.com) mengemis bukan lagi melulu dilatari cerita tentang kemalangan hidup. Lebih sering, bahkan bermula dari keputusasaan dalam mencari kerja, atau malah kemalasan yang berjodoh dengan terkikisnya rasa malu.&lt;br /&gt;Dalam teori pendidikan, bila sejak kecil anak-anak ditempa kerja keras, maka dia akan tumbuh menjadi pekerja keras, bila diajari malas-malasan dia akan menjadi orang malas, maka akan menjadi apa, bila sejak kecil malah bayi dalam gendongan sudah berkeliling, atau duduk dipinggir jalan, supaya orang kasihan.&lt;br /&gt;Pemerintah harus bertindak, bila perlu mengambil anak-anak yang menjadi pengemis tersebut, memberi sanksi orangtuanya, kalau orangtuanya benar-benar tidak mampu, pemerintah bisa mengambilnya untuk didik, supaya mental pengemis, tidak menjadi-jadi dalam jiwa mereka. Sayang anak-anak terlantar dan tidak mampu dipelihara Negara realitasnya hanya baru ada dalam mukadimah konstitusi.&lt;br /&gt;Lembaga pendidikan seperti sekolah, harus bisa mengajarkan pada anak-anak, bahwa tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah. Bukan hanya anak-anak, penting juga melakukan pembinaan pada pengemis-pengemis tua, lebih-lebih bila mereka sebenarnya masih mampu, untuk bekerja selain mengemis.&lt;br /&gt;Jangan lupa, penting juga membatasi ruang, bagi pengemis berdasi, bisa orang yang mengaku-ngaku dari ormas atau organisasi tertentu, mengedarkan proposal meminta bantuan, setelah cair bukan untuk mengembangkan organisasi, malah masuk kantong pribadi.&lt;br /&gt;Bisa juga, peminta-peminta itu berasal dari anggota DPRD, Polisi, Jaksa, Hakim, Pejabat, Wartawan dan mungkin saja Bupati, Walikota dan Gubernur, yang mengemis dengan anggapan jatah, padahal tidak ada dasar hukumnya alias bukan haknya, perilaku seperti itu bisa menjadi contoh, bagaimana menjadi pengemis dengan kemampuannya, ironisnya mereka seperti bangga menjadi pengemis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-7379671282143107614?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/7379671282143107614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=7379671282143107614' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/7379671282143107614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/7379671282143107614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2007/10/mental-pengemis.html' title='Mental Pengemis'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-9046836625738897398</id><published>2007-10-08T06:41:00.000-07:00</published><updated>2007-10-08T06:43:16.975-07:00</updated><title type='text'>Menyemai Bibit Spritualitas Dalam Kepemimpinan</title><content type='html'>Sejumlah calon Kepala Daerah di Kabupaten Tangerang sepertinya sudah ‘menghambur-hamburkan’ dana untuk menggolkan keinginannya menjadi pemimpin, dari mulai memberikan bantuan untuk menarik simpati masyarakat, dana untuk mendapatkan ‘perahu’ dari partai politik, sampai pasang spanduk, baligo, iklan di media massa.&lt;br /&gt;Setelah Tangerang, masih menunggu Kabupaten Lebak, Kota Serang, Kota Cilegon, dan Kota Tangerang, dan sudah bisa dipastikan uang pun berhamburan, apapun alasannya, sebuah realitas untuk menjadi pemimpin kepala daerah, akan jadi apakah kualitas pemimpin seperti itu?Bila uang yang lebih berbicara, ini jelas harus harus dihentikan, sebelum semuanya menjadi kebablasan, dan tanpa kendali.&lt;br /&gt;Coba dihitung-dihitung, tentu tak kurang dari puluhan miliar dikelurkan oleh salah seorang calon. Berapa banyaknya uang satu miliar tersebut?Saya sendiri belum pernah memegang, sekedar memegang uang sebanyak itu pun. Lalu, yang menjadi persoalan begitu besar pengeluaran mereka hanya untuk menjadi pemimpin, apa sebenarnya makna kepemimpinan itu sendiri?&lt;br /&gt;Kita mungkin masih percaya, masyarakat Banten adalah masyarakat yang religius, dan sebagian besar masyarakatnya memeluk agama Islam. Bertebaran pesantren hampir di sudut kampung, jungkir balik sholat tiap waktu, mayoritas masyarakatnya menjalankan puasa Ramadhan, Zakat dan sedekah dikeluarkan, tapi, nilai-nilai spritualitas itu sepertinya mandul, ketika dihadapkan pada pilihan untuk memilih pemimpin.&lt;br /&gt;Dalam ayat-ayat suci sudah jelas diperingatkan, orang yang menyuap dan menerima suap, semuanya masuk neraka, namun pada saat kampanye kita terlalu sering mendengar bagaimana pasangan calon melakukan serangan fajar, bagaimana pula dengan bantuan-bantuan yang diberikan pada pondok-pondok pesantren, para calon memberikan sejumlah bantuan pada kiai, dengan maksud yang sudah jelas, dan para kiai pun dengan tersenyum, pertanyaannya kemudian apakah itu bukan suap?&lt;br /&gt;Menjadi pemimpin tentu saja bukan hadiah, jangankan untuk menjadi Bupati atau Wakil Bupati, untuk menjadi Kepala Desa saja, harus mengeluarkan uang ratusan juta rupiah. Tapi, mampukah kita menciptakan mekanisme yang lebih baik dari itu.&lt;br /&gt;“Tetangga saya di Tangerang, ada yang sampai mengelurkan uang Rp 2 miliar, untuk pencalonannya menjadi Kepala Desa, namun gagal, dia pun seperti orang stres,” kata salah seorang Anggota DPRD Banten, beberapa waktu lalu, pada saya.&lt;br /&gt;Berharap menjadi pemimpin, pada dasarnya sudah menjadi kodrat manusia, karena ketika diciptakan Tuhan, manusia sebenarnya sudah menjadi pemimpin, setidaknya menjadi pemimpin bagi dirinya.&lt;br /&gt;Dari Ibnu Umar r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda.”Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya mengenai kepemimpinanmu. Imam (Penguasa) adalah pemimpin dan akan ditanya mengenai kepemimpinannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin keluarganya dan bertanggung jawab mengenai kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin rumah tangga suaminya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Pelayan (buruh) adalah pemelihara harta majikannya dan akan ditanya mengenai pemeliharaannya. Maka kamu sekalian adalah pemimpin dan masing-masing bertanggung jawab atas kepemimpinannya.”&lt;br /&gt;Tapi, sayang manusia juga harus berlawanan dengan egonya, dan melupakan sekitarnya untuk mencapai tujuan. Pertarungan pun terjadi, antar kelompok kepentingan untuk mencapai kepentingan individu, golongan dan dirinya mengalahkan hati nurani manusia sendiri.&lt;br /&gt;Hasilnya pemimpin yang membayangkan proyek, bagi-bagi kekuasaan, dan kenyataan itu diamini masyarakat yang berpikiran instan, yang penting calon membagi-bagikan bantuan, maka masyarakat menganggap itu adalah calon yang layak dipilih, atau mereka juga sudah tahu, bahwa calon pemimpin akan lupa setelah mereka menjadi pemimpin, sayang apa yang dilakukan oleh mayoritas masyarakat dengan meminggirkan hati nurani, harus dibalas selama lima tahun ke depan.&lt;br /&gt;Pemimpin yang sebenarnya sebuah kedudukan untuk bisa melayani sesama, agar hidup menjadi lebih bermakna, terpelanting seratus delapan puluh derajat, sebagai ajang kekuasaan mengembalikan modal, mengumpulkan harta, kekayaan, dan ‘kehormatan’. Jadilah, pemimpin yang bangga diagung-agungkan, padahal tidak ada kebaikan yang berarti bagi masyarakatnya.&lt;br /&gt;Padahal, hadis yang diriwayatkan dari Abu Naim menyerukan sabda Nabi Muhamad SAW, “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka,”.&lt;br /&gt;Kepemimpinan yang melayani sebenarnya sudah ada dalam diri calon pemimpin, karena tentu kita percaya calon pemimpin adalah orang-orang yang mempunyai nilai-nilai spritualitas dalam diri, tinggal bagaimana membangkitkan kembali benih-benih yang sudah ada.&lt;br /&gt;Bila saja, benih-benih nilai spritualitas terus dihidupkan, dan kita masih percaya pada ajaran-ajaran agama yang bukan hanya memerintahkan untuk sholat, puasa, zakat, haji dan ibadah-ibadah habluminallah lain, tapi juga termasuk memilih dan menjadi pemimpin.&lt;br /&gt;Memilih pemimpin harus berasal dari orang yang terbaik dari suatu kaum, dan menjadi pemimpin adalah kodrat manusia, dan menjadi pemimpin sebagai bagian dari mendekatkan diri pada Tuhan, segala amal perbuatan pasti ada pertanggungjawabannya, bisa jadi tidak ada lagi calon pemimpin yang terpilih karena semata-mata banyaknya uang.&lt;br /&gt;Tidak ada lagi, Gubernur dan Bupati yang marah-marah bila ada warganya kelaparan, tapi, mereka akan segera berbuat untuk meringankan beban warganya, mungkin tidak seheroik Umar Bin Khatab.&lt;br /&gt;Bisa jadi tidak ada akan berderet-deret pemimpin atau mantan pemimpin yang harus antri, untuk menjalani pemeriksaan karena tersangkut kasus korupsi. Seandainya, pemimpin menyadari kekuasaan adalah amanah yang menyaratkan kerelaan, sebagai fitrah manusia untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Sepertinya, itu menjadi tanggungjawab bersama, bagaimana benih-benih spritualitas dalam kepemimpinan yang sebenarnya sudah ada dalam hati, dibangkitkan kembali, sebelum mati kemudian.&lt;br /&gt;Serang, 08/10&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-9046836625738897398?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/9046836625738897398/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=9046836625738897398' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/9046836625738897398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/9046836625738897398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2007/10/menyemai-bibit-spritualitas-dalam.html' title='Menyemai Bibit Spritualitas Dalam Kepemimpinan'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-4964102389113282625</id><published>2007-10-03T05:34:00.000-07:00</published><updated>2007-10-03T05:35:39.590-07:00</updated><title type='text'>Mungkin Telambat</title><content type='html'>Ngeblog Yu!&lt;br /&gt;Mungkin terlambat, diantara teman-teman wartawan di Banten, beberapa hari yang lalu ramai-ramai buat blog. Iman Nur Rosyadi sudah buat, Saya juga buat, Dedi Rustandi sudah saya buatkan, walaupun dia masih bertanya-tanya, bagaimana cara mengisi blog, dan mencari teman-teman yang mempunyai blog. Anita dengan dibantu Taufik, buat juga. Teguh kelihatannya mau juga, walau, kelihatan masih ragu-ragu.&lt;br /&gt;“Gin, bagaimana kalau kita mau tahu, teman-teman yang mempunyai blog,” kata Dedi suatu malam.&lt;br /&gt;Saya jawab, “Coba kamu cari nama Eneng Nurcahyati, Kepala Biro Humas Banten.” Tapi, ketika Dedi menulis nama Eneng di google, Tidak ada nama Eneng Nurcahyati dengan jabatan Kabiro Humas Banten, untuk alamat blog. “Mungkin, Eneng belum ngeblog Ded,” kata saya pada Dedi.”Atau kau tanya pada dia, alamat blog ibu apa,” lanjut saya lagi, pada Dedi.&lt;br /&gt;Menurut, Majalah Business Week edisi 2 Juli 2007 seperti dikutif Blog Tempo Interaktif, Jakarta, menempati salah satu kota dengan jumlah blogger dan komentar terbanyak di dunia maya. Jakarta sejajar dengan St Louis, Brooklyn, Philadelphia, Montreal, Beijing, Moskow, Mumbai, dan Ohio. Dari Asia, hanya Singapura yang berada di jajaran atas. Kota-kota lain yang ada di atasnya adalah kota dengan jaringan Internet yang sudah canggih, seperti New York, London, dan Toronto.&lt;br /&gt;Sementara itu, masih dari Tempo Interaktif David Sifry dari Technorati pernah berteori jumlah blog di dunia berkembang dua kali lipat, dalam setiap 10 bulan. Sementara pada Desember 2006 jumlah blogger di Indonesia mencapai 20 ribu orang, pada Oktober 2007 jumlah itu naik menjadi 40 ribu orang, dan sepuluh bulan kemudian–pada Agustus 2008–ada 80 ribu blogger.&lt;br /&gt;Saya suka membaca-baca isi blog, saya sering menemukan banyak hal, dari mulai isinya yang cukup membuat saya merasa terinspirasi sampai tertawa geli. Biasanya kalau saya mau membaca karya jurnalistik yang cukup membuat saya terpuaskan, saya membuka blog Andreas Harsono, pengasuh Pantau yang menyebarkan mazhab jurnalistik sastrawi. Belum puas juga, saya membuka blognya para wartawan yang menurut subjektif saya, benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk menghasilkan karya jurnalistik yang mumpuni, tidak sekedar asal membuat berita.&lt;br /&gt;Sementara, bila mau menumbuhkan semangat menulis, saya buka blognya Muhidin M Dahlan seorang penulis dari Jogjakarta, yang sempat membuat Islam garis keras marah-marah terhadap novelnya. Dan, banyak lagi, isi blog sesuai dengan minat kita, mau mencari apa.&lt;br /&gt;Tapi, secara umum blog isinya masih bersifat personal, isinya dari aktivitas kehidupan sehari-hari, putus cinta, kerinduan, menyumpah-nyumpah, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Blog juga ternyata sering digunakan, untuk membuat kehebohan-kehebohan, di Malasya (lebih jauh baca Sawali. Worldpress.com), banyak blog yang dibuat untuk menyerang pemerintah, dan pemerintah Jiran pun menganggap, penyerang itu pengecut, pasalnya menggunakan nama anonim atau nama samaran.&lt;br /&gt;Sementara itu, pada saat kampanye Pilkada di Jakarta, ketika tim sukses menarik simpati masyarakat dengan memasang iklan di Televisi, radio sampai menempel poster di trotoar dan jembatan, ternyata diblog terjadi perang kata-kata dari yang halus sampai sumpah serapah, walaupun tim sukses menyangkal itu perbuatan mereka. Mungkin saja, ada orang lain yang melakukannya, karena membuat blog sangat mudah dan gampang bagi sebagian besar masyarakat, apalagi bagi masyarakat Jakarta yang mempunyai jaringan internet cukup bagus, setidaknya dibanding kota-kota lain.&lt;br /&gt;Anda mau membuat blog seperti apa?tentu saja terserah, karena menulis diblog tak ada yang melarang, tak ada yang bisa membuangnya ketempat sampah, semua anda yang menentukan, mau tulisannya jelek, mau tulisannya amburadul, mau tulisannya menyerang, termasuk menyerang pemerintah Gubernur Banten Rt Atut Chosiyah pun, terserah anda, atau anda pendukung Rt Atut, tentu saja tidak salah kalau memuji keberhasilan pembangunannya.&lt;br /&gt;Bila yang disampaikan itu sebuah kebenaran, pasti Tuhan akan membalasnya dengan pahala, dan tentu kalau kejelekan yang disebarkan, kata para kiai, Tuhan juga tidak akan lupa untuk membalasnya. &lt;br /&gt;Saya sendiri, tentu saja masih berpikir ulang untuk menjelek-jelekan orang lain, lebih-lebih memfitnah, bisa-bisa dituntut dengan alasan menyebarkan kebohongan. Tapi, bukan berarti orang ngeblog harus dilarang-larang, biarkan saja toh ada rasa, hati dan pemikirin individu pembuat blog, dan juga ada aturan hukum kalau sudah kelewatan. Kalau sekedar perang gagasan, sebaiknya blog lawan dengan blog.&lt;br /&gt;Blog juga menurut saya bisa menumbuhkan budaya literasi di kalangan masyarakat, dan untuk yang terakhir ini rasanya sangat cocok bagi masyarakat Banten khususnya ysag dianggap belum maju budaya literasinya. Maka menulislah, karena pelajaran pertama, kedua, dan ketiga, menulis adalah menulis.Mungkin bagi yang sedang belajar menulis sering frustasi, karena tulisan selalu ditolak oleh redaktur media, mungkin juga sebal pada redaktur media yang hanya memuat tulisan kenalan atau selera mereka, sementara anda merasa tulisan anda sangat bagus dan layak untuk dibaca, sebelum rasa frustasi itu menjadi-jadi, menurut saya, buatlah blog. Membuat blog, panduannya, tinggal di search di internet, atau bisa jadi anda sudah lama ngeblog.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-4964102389113282625?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/4964102389113282625/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=4964102389113282625' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/4964102389113282625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/4964102389113282625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2007/10/mungkin-telambat.html' title='Mungkin Telambat'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-7410943271898826080</id><published>2007-10-01T07:06:00.000-07:00</published><updated>2007-10-01T07:07:36.943-07:00</updated><title type='text'>Laptop</title><content type='html'>Beberapa hari yang lalu (29/9), saya dibawakan Laptop oleh istri dari Bandung. Saya sudah lama bermimpi untuk memiliki komputer jinjing tersebut, dengan itu saya bermimpi dapat mengeluarkan hasrat saya untuk menulis, saya membayangkan saya bisa menulis dimana saja dan kapan saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-7410943271898826080?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/7410943271898826080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=7410943271898826080' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/7410943271898826080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/7410943271898826080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2007/10/laptop.html' title='Laptop'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-3307655219851994231</id><published>2007-09-30T02:08:00.000-07:00</published><updated>2007-09-30T02:09:36.888-07:00</updated><title type='text'>Lebaran</title><content type='html'>Sehari sebelum lebaran Suni berencana pulang, pulang kampung. Majikan perempuan yang biasa dipanggil Ibu oleh Suni, untuk lebaran kali ini mengizinkannya pulang. Setahun lalu, Suni terpaksa menahan butiran air mata ketika gema takbir bersahutan, dia tidak bisa berlebaran di kampung, Suni kebagian tugas menjaga rumah.&lt;br /&gt;Lebaran kali ini, majikan Suni memilih tidak mudik, mereka beralasan, tak punya uang, sebab bisnisnya, sedang sepi, dan Suni pun diizinkan pulang kampung.&lt;br /&gt;“Waduh, mau ditaruh dimana muka Sun, kalau lebaran kita tidak bagi-bagi uang ke tetangga, tetangga di kampung memang maunya minta terus, dianggapnya kalau kami pulang, bawa banyak uang,” cerocos Ibu.&lt;br /&gt;“Bagaimana anggapan mereka kalau kami tidak memberi, dianggap pelit, disumpahi, namanya juga orang kampung, tidak tahu susahnya mencari uang, di Jakarta,” lanjut perempuan dengan badan gemuk tersebut.&lt;br /&gt;Suni pun tersenyum, dia teringat ketika pulang kampung, ketika tetangganya berebut kue kaleng, bawaannya. Suni merasa berarti, lebih-lebih ketika mereka makan kue dengan tersenyum, Suni bahagia.&lt;br /&gt;Selepas sahur, Suni sudah mandi, tidak lagi menunggu adzan shubuh berkumandang, dia, sudah menyelesaikan sholatnya. Suni bergegas, berganti pakaian, wajahnya, kali ini diluluri pupur, berbeda dengan ketika mau berangkat ke pasar untuk belanja di pagi buta, asal cuci muka rasanya sudah cukup. Selain itu, pakaiannya pun sengaja dipilih pakaian yang terbagus, pakaian yang menurutnya seperti orang kota, yang akan membuat warga kampung memujinya.&lt;br /&gt;Setelah semuanya dirasa cukup, Suni hendak keluar, tak lupa tangannya mengambil kardus bekas wadah mie instant yang sudah dia isi dengan pakaian, untuk ganti sehari-hari di kampung. Kemudian dia berdiri didepan cermin, tersenyum. Perlahan, klek listrik dimatikan, pintu dibuka, Suni keluar.&lt;br /&gt;Dipertengahan rumah, dia baru sadar bila hari libur, biasanya, ibu  bangun menjelang matahari pas diatas kepala. Siang. Suni pun tertegun, dia turunkan kardus dari tangannya, dia kemudian duduk di sofa. Wajahnya mendongak keatas, terpikir olehnya, untuk mengetok pintu kamar majikan yang berada di lantai dua, tapi dia tak berani. Takut Ibu marah. Teringat juga oleh Suni, tak sepeserpun uang ditangannya, uangnya kemarin habis pakai beli pupur dan pembalut perempuan. Gajinya, masih ditahan ditangan Ibu. Sebenarnya kemarin sore, Suni, sudah minta uang sebagai gaji pada Ibu, dengan alasan besok pagi dia mau pulang.&lt;br /&gt;“Nanti saja, Sun, Ibu akan kasihkan pas kamu pulang, supaya uangnya tidak dipakai oleh kamu,” kata Ibu mantap.&lt;br /&gt;Kepala Suni, menatap kebawah, sesekali dia mendongak keatas, Suni, sudah membayangkan, sebelum ke terminal, dia akan mampir dulu ke pasar, dia akan belikan Maknya baju yang banyak dijual di pasar dengan harga Rp 10.000-an, terbayang, pedagang baju berteriak keras-keras “Dipilih-dipilih,” sambil melempar-lempar baju keatas, dan Suni memilih baju yang cocok untuk Mak. Suni tersenyum, membayangkan maknya tersenyum, sambil mendekap baju pemberiannya.&lt;br /&gt;Selain membelikan Mak baju, Suni juga ingin membantu Mak, membayar utang-utangnya ke warung, Mak kan sudah tua, sudah bercucu, dan tidak kuat lagi bekerja disawah. Kecuali membantu tetangga memasak, atau mencucikan pakaian. Memang, Mak tidak meminta dan mungkin tidak pernah akan meminta, tapi Suni, ingin membahagikan Mak.&lt;br /&gt;Teringat juga oleh Suni, Eka adiknya yang bungsu, dia ingin membelikan adiknya kain sarung dan kopiah, supaya sholat dan ngajinya bertambah rajin, karena menurut rencana, setelah lebaran Eka akan mondok di Pesantren. Awalnya mau melanjutkan sekolah ke SMA, tapi tak punya biaya. Suni juga ingin membawakan Bapaknya rokok, sayang Adam -nama bapaknya- telah tiada, dua tahun yang lalu. &lt;br /&gt;Teringat juga oleh Suni, Dedi anak Kak Isah, kakaknya yang tertua, berumur 8 tahun, ia ingin membelikan keponakannya itu petasan. Sudah dua tahun, Kak Isah, tidak ada kabar beritanya semenjak pergi ke Arab, Kang Dadan suami Kak Isah sendiri atau Bapaknya Dedi, sudah setahun yang lalu, menikah kembali, tapi Dedi tinggal sama Mak, tidak ikut sama Bapaknya, katanya takut sama Mak tirinya. Suni, membayangkan, betapa gembiranya anak itu, ketika menyalakan petasan, sambil menutup telinga. Suni tersenyum.&lt;br /&gt;Suni menyandarkan badannya ke bahu kursi, dia mulai berhitung banyaknya gaji yang dia dapatkan, dia belum mengambil gajinya sesen pun selama lima bulan terakhir, dia juga berharap Majikannya memberikan uang, lebih sebagai Tunjangan Hari Raya (THR) lebaran.&lt;br /&gt;Dia membayangkan angka, mungkin diatas satu jutaan, setengah oleh-oleh, setengah untuk bekal di kampung, dan dia membayangkan, biasanya sehari setelah lebaran warga kampung akan piknik, ke pantai, dia akan ikut patungan sewa mobil, Dedi dan Eka akan diajak juga. Kepalanya, mendongak ke atas, listrik diluar kamar masih menyala, dia menatap pintu kamar, masih tertutup rapat. Suni mencoba memejamkan mata, mengusir rasa kesal yang mulai datang.&lt;br /&gt;Dia tersenyum, otaknya kini teringat Aef, laki-laki yang sempat membuatnya berbunga-bunga. Tukang ojeg yang sempat membuatnya merasa nyaman, sebelum semuanya terbuka, laki-laki yang suka membawa martabak manis kala datang ke rumahnya itu, ternyata sudah beristri. Suni tentu tidak ingin menjadi istri kedua Aef, tapi, hati sudah terlanjur jatuh padanya. Suni tersenyum kecut, karena dia tidak ingin, disebut merusak rumah tangga orang. Suni juga merasa harga dirinya terinjak-injak, kala Suminar istri Aef, melabraknya malam-malam, ketika Aef berkunjung ke rumahnya.&lt;br /&gt;Wajahnya, kembali mendongak ke atas, pintu kamar belum juga terbuka, Suni mulai kesal. Kesal sama Ibu, mengapa belum bangun juga. Matanya, mulai  berkaca-kaca, sebelum air matanya jatuh, tiba-tiba pintu kamar Ibu terbuka, betapa bahagianya dia.&lt;br /&gt;“Mau kemana Sun,” kata Ibu, ketika dia lihat Suni, ada dibawah.&lt;br /&gt;“Mau pulang, Bu,” terdengar jawaban Suni.&lt;br /&gt;“Oh, jadi toh,” kata Ibu, sambil berjalan masuk kedalam kamar kecil. Setelah itu, kemudian turun ke lantai. Mendekat, Suni menunduk.&lt;br /&gt;“Begini Sun, kamu tahu kan usaha Ibu sedang sepi, Ibu minta perhatian kamu, Ibu hanya bisa memberi kamu gaji untuk bulan terakhir saja, sisanya plus bonus lebaran akan Ibu kasih, setelah lebaran yah, nda apa-apa kan Sun,” kata Ibu, dengan nada yang meminta pengertian Suni.&lt;br /&gt;Suni, tertegun, kemudian tersenyum, dalam hati kecewa, lebih-lebih ketika melihat di leher dan tangan Ibu, masih terbelit gelang dan kalung berwna kekuning-kuningan;emas.&lt;br /&gt;”Nda, apa-apa bu,” begitu kata yang terlontar dari mulut Suni, padahal, kebingungan menyergapnya, satu kali gaji, berarti hanya bisa dipakai untuk ongkos pulang pergi, karena Suni tahu menjelang lebaran kondektur biasanya menaikan ongkos gila-gilaan. Suni bingung, dia tidak bisa membelikan maknya baju, tidak bisa membelikan adiknya sarung dan peci, tidak bisa membelikan Dedi petasan.&lt;br /&gt;Tapi Suni masih tersenyum, lebaran kali ini dia masih bisa pulang. Suni kemudian pamitan, mencium tangan perempun yang sudah memberinya pekerjaan selama dua tahun lebih itu, dan berjanji, di kampung tak akan lama-lama. Dua hari setelah lebaran datang kembali.&lt;br /&gt;”Kalau pun Suni terlambat dikampung satu atau dua hari, semoga ibu tidak mencari pengganti, kalau Suni kawin pasti kasih tahu Ibu,” kata Suni, sebelum berangkat pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serang, 30/9&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-3307655219851994231?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/3307655219851994231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=3307655219851994231' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/3307655219851994231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/3307655219851994231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2007/09/lebaran.html' title='Lebaran'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-1245409602132262324</id><published>2007-09-26T10:08:00.000-07:00</published><updated>2007-09-26T10:13:14.289-07:00</updated><title type='text'>Tentang Mereka</title><content type='html'>Mereka selalau bertiga, mereka  mempunyai sifat berbeda, pertama sebut saja Koko, mantan aktivis mahasiswa, lulus kuliah di Kota B, mantan aktivis revolusioner, saya pernah melihat rambutnya panjang, kurus dan gondrong, sekarang rambutnya sudah agak botak, kemana-mana pakai mobil.&lt;br /&gt;Koko ini, saat ini bisa disebut, sebagai pemimpin,pasalnya dia banyak dimintai pendapat, dan lebih banyak mengenal narasumber. Narasumber juga banyak keder, karena dia juga sering melakukan aksi demonstrasi, beberapa kelompok mahasiswa juga dia suplai, dari mulai pemikiran sampai pendanaan. Dia masih sering dianggap sebagai orang kiri. Masih sendiri, walaupun sempat beberapa kali dekat dengan beberapa perempuan.&lt;br /&gt;Kedua, Asep, masih menjadi mahasiswa di salah satu Perguruaan Tinggi di Kota P. Latar belakang pemikirannya tidak jelas, latar belakang aktivitasnya juga tidak ada. Hanya sekedar wartawan. Baru saja beberapa waktu yang lalu menikah.&lt;br /&gt;Ketiga Didi, lulus dari Institut ternama di Kota Bg. Dia sering mengajak para wartawan lain untuk sholat, jangan banyak pacaran, dan terakhir banyak menganjurkan untuk cepat-cepat menikah. Dia,juga  sangat bersemangat kalau berbicara solusi segalanya, adalah Islam.&lt;br /&gt;Saya sendiri, hanya sering memperhatikan mereka, sempat dekat dengan ketiganya, tapi kemudian lebih memilih untuk ‘menjauh’. Pasalnya, mereka selalu diam-diam, kalau ada berita,dan bagi saya yang juga wartawan, sering berpikir ngapain gaul dengan wartawan seperti itu, walaupun,masih sering membutuhkan mereka.&lt;br /&gt;Mau tahu tanggapan mereka tentang amplop. Koko, mengatakan, bahwa amplop ambil saja, pasalnya dia menganggap isi amplop bisa digunakan untuk gerakan, dan tentu selain itu, saya melihat karena kebutuhan dia cukup besar juga, dibanding dengan gajinya dari kantor.&lt;br /&gt;Sementara Asep, mengatakan amplop untuk menambal-nambal gaji yang kurang dari perusahaan. Didi, biasanya kalau nerima amplop, dengan rasa bersyukur pada Tuhan, yang telah memberinya rizki. Saya tidak tahu,apakah amplop itu akan dia kasihkan pada istrinya yang saya bayangkan istrinya adalah istri ‘solehah’ rela menjadi ibu rumah tangga. Di rumah, melayani suami dan mengurus anak-anak mereka. Masih, bersambung…..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-1245409602132262324?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/1245409602132262324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=1245409602132262324' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/1245409602132262324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/1245409602132262324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2007/09/tentang-mereka.html' title='Tentang Mereka'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-3083552755304013185</id><published>2007-09-25T08:20:00.000-07:00</published><updated>2007-09-25T09:25:52.251-07:00</updated><title type='text'>belajar bahasa inggris</title><content type='html'>Saya merasa gagal dan gagal lagi, untuk belajar bahasa inggris, yang dianggap oleh sebagian kalangan sebagai bahasa sehari-hari. Hari ini (25/9),ketika saya sedang termenung,sambil memikirkan liputan hari itu,tiba-tiba datang teman saya yang bernama Im, dia bertanya apa bahasa inggrisnya puasa,gin?Spontan saya jawab fast. How do you speel fast?saya jawab dengan F-A-S-T, ah ternyata F yang saya sebut kedengarannya P, "are you make idiom Pandeglang,"kata dia,saya pun tertawa. Percaya atau tidak, lanjut Im bahwa orang Pandeglang,Lebak terutama Banten Selatan sering kesulitan ketika mengucapkan F, P dan V.  Saya pun tersenyum simpul, dari sana ternyata dia mengajak saya untuk bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa inggris.A,e,a,e,a,eu persis seperti orang gagap, ketika saya berbicang-bincang dengannya. Saya, jadi teringat keponakan saya, yang bernama Muhamad Hari Faisal,dia  mempunyai sedikit gangguan ketika berbicara, dia susah sekali ketika mau mengatakan sesuatu, umurnya sekitar 6 tahun, saya masih berharap suatu saat dia lancar berbicara,dan begitu pula dengan saya, lancar berkomunikasi dengan menggunakan bahasa inggris.&lt;br /&gt;"Kamu harus punya target, satu tahun lagi harus lancar bercakap-cakap, dan menulis dengan menggunakan bahasa inggris,"kata Im.&lt;br /&gt;Im sendiri, bercerita,dulu dia juga persis seperti saya (mungkin merendah supaya saya ngga minder, he,he) dia juga A,e,ao,eo, (seperti orang gagu,he,he) ketika berbicara menggunakan bahasa inggris, beruntung oleh kantornya,ketika tahun 1996,dia disuruh berangkat ke Maroko, maka jadilah dia terpaksa mempraktekan bahasa inggrisnya.&lt;br /&gt;"Kamu juga harus tiap hari,kalau mau lancar, dengan saya minimal satu, dua jam atau lebih,"kata dia.&lt;br /&gt;"Siap bos,"kata saya dalam hati.....................................................&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-3083552755304013185?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/3083552755304013185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=3083552755304013185' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/3083552755304013185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/3083552755304013185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2007/09/belajar-bahasa-inggris.html' title='belajar bahasa inggris'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8049607943560886227.post-5686660591418553837</id><published>2007-09-25T06:21:00.000-07:00</published><updated>2007-09-25T06:28:36.501-07:00</updated><title type='text'>Saya Sedih</title><content type='html'>Saya sedih melihatmu tidak lagi bergembira, saya sedih melihatmu tidak lagi tersenyum. Saya sedih melihatmu tidak lagi bersemangat, saya sedih....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8049607943560886227-5686660591418553837?l=ginanjarhambali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/feeds/5686660591418553837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8049607943560886227&amp;postID=5686660591418553837' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/5686660591418553837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8049607943560886227/posts/default/5686660591418553837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginanjarhambali.blogspot.com/2007/09/saya-sedih.html' title='Saya Sedih'/><author><name>ginanjarhambali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09346885125723121695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_OUrebiTEB_Y/SKhE-A-FqLI/AAAAAAAAAAM/ECP9QDgKu98/S220/gin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
